Kuliahnya Anak Semester 8

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/238/Seri-Jadi-Mahasiswa-Bag.-1-Kuliahnya-Anak-Semester-8

Apr 26, ’11 10:14 PM

Teman-teman… Menjadi mahasiswa adalah pengalaman luar biasa dalam hidupku dan sebagian dari kalian. Sungguh, (enggan berkata) tidak terasa empat tahun hampir kulalui. Rasanya seperti mimpi saja dahulu pernah menjadi mahasiswa baru, lalu “naik kelas”, pernah jadi anggota organisasi yang tidak tahu apa-apa, lalu jadi salah satu “petingginya”, dari yang dahulu egois dan mau menang sendiri, jadi mengenal arti penting orang lain, dari yang dulu “sakit”, jadi semakin baik, sedikit demi sedikit. 
Menjelang kelulusan (AMIN, insya Allah wisuda Juli 2011, semoga skripsi cepat selesai!), aku tidak bisa tidak kembali mengenang perjalanan yang telah kulalui. Kupikir, tidak berlebihan jika aku membagi sedikit pengalamanku menjadi mahasiswa dan berharap kisah ini bisa menjadi pengingatan bagi diri sendiri untuk terus menjadi lebih baik, serta tentu bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. 
Bingung harus memulai dari mana, maka aku mulai saja dari ceritaku hari ini. Insya Allah akan ada banyak seri, secara empat tahun itu kasarnya ada 48 bulan… Ya, ceritanya nanti mungkin sebanyak bulan-bulan yang sudah kulewati. Beberapa detil cerita mungkin sedikit tidak sesuai kenyataan dan aku mesti bolak-balik mengecek jurnalku empat tahun terakhir, tetapi insya Allah, inilah cerita sebenarnya dan hikmahnya. Wah, aku suka menulis ini, jadi langsung saja. 
***
Ini dia cerita kuliah anak semester 8. Aku. Sepanjang jadi mahasiswa, mati-matian aku berusaha biar tidak dapat nilai C atau yang lebih rendah dari itu (D, itu mimpi buruk! E, itu malapetaka!). Namun, apa boleh buat ketika takdir berkata lain. Terbiasa dapat nilai B dan A membuatku kecewa sekali dengan tiga nilai C. Dua di antaranya membuat IP-ku di semester 4 terjun (tidak bebas) dan yang terakhir benar-benar membuatku ingin menggugat dosen, tetapi sayang aku tidak punya nyali dan setelah kupikir ulang, sepertinya memang aku ada yang salah.
Akhirnya, ketiga mata kuliah itu kuulang: Psikodiagnostik III Observasi (baca: Pd III), Psikologi Keluarga, dan Psikologi Komunitas. Pd III kuulang di semester 7, sedangkan sisanya kuulang di semester 8. Ketika semester 7, masih lumayan karena masih ada beberapa teman seangkatan yang juga sama-sama mengulang (bahkan bisa sekelas dengan sekelompok yang dulu!), tetapi lain ceritanya ketika masuk semester 8.
Masuk ruang kelas dan isinya 99% anak semester 4. Aku mencari-cari wajah-wajah “tua” dan tidak ketemu. Hehe… aku siapa di kelas ini? Aku melirik kursi-kursi di deretan depan. Wah, sudah penuh semua (anak-anak yang rajin ). Akhirnya, sambil berpermisi-permisi ria aku menuju deretan kursi paling belakang yang tersisa. Huhu… aku tidak pernah kuliah seperti ini. 
 
Kuliah berlangsung dan aku terkesima dengan bagaimana “teman diorganisasi oleh teman sendiri”. Ada satu anak yang dengan PD-nya memulai kelas dengan ice breaking (aku nggak salah masuk kelas Desain dan Teknik Pelatihan, kan?) dan semua anak memperhatikannya. Senyap untuk sementara dan presentasi dimulai pada hari itu.
 
Beginilah tidak enaknya duduk di belakang. Pertama, presentasi tidak kedengaran jelas. Kedua, tidak mendapatkan perhatian. Ketiga, kau jadi warga kelas kelas 3. Sampailah tiba sesi tanya jawab dan aku sudah mempersiapkan pertanyaanku seperti biasa, tapi… jreeeng… separo kelas angkat tangan semua. Serius amat kuliahnya! (karena biasanya di kelasku yang lama, anak-anak malas bertanya). 
 
Dan begitulah sampai pertemuan-pertemua berikutnya… Sulit sekali bertanya di kelas ini karena begitu kondisinya. Akhirnya, karena itu aku tidak pernah benar-benar berpikir ketika ikut kuliah. Mengapa? Karena aku seperti tahu bahwa pertanyaanku juga akan ditanyakan oleh salah satu anak di kelas, jadi aku mendengarkan saja sambil baca buku jika kelas berlangsung membosankan.
 
Fenomena “tidak benar-benar berpikir” berlanjut sampai akhirnya tiba mid semester bulan April ini. Aku tidak bisa belajar karena tidak tahu lagi apa yang harus kupikirkan dengan keras atau kuhafal baik-baik. Sikap menyepelekan ini bukan tak berdasar, tetapi karena aku semakin tahu bahwa nyaris tidak ada lagi yang bisa dihafal karena soal ujian itu banyak yang main logika dan kemampuan menjawab sistematis plus, kalau mau, berpanjang-panjang ria. 
 
Ujian midsemester dilakukan selama dua minggu setiap hari Selasa jam 10.00. Dan, aku tidak belajar kecuali lima jam sebelumnya, sambil tidur-tiduran selepas shalat subuh. Selama waktu itu pula, aku sampai ke kampus dengan waktu yang benar-benar mepet bahkan telat 15 menit (pertama kalinya dalam ujian empat tahun terakhir). Setiap hari itu pula aku sms adik kelasku, “Ujian hari ini jam berapa dan di ruang berapa?” Aku tidak semangat melihat kartu ujian yang isinya cuma dua mata kuliah itu…  Jadi, tanya adik kelas saja.
 
Teringat minggu lalu yang aku benar-benar “tak bisa belajar” dan panik ketika sadar bahwa ada banyak hal yang harus dibaca. Untungnya, alhamdulillah, aku diselamatkan dengan tipe ujian open book! Huaa… leganya. Aku seperti lupa! Ini kan dosen dua tahun yang lalu juga. Kenapa aku bisa tidak memprediksi bahwa ibu ini hobinya ujian tipe open book? Sudahlah… ujian hari itu berjalan lancar.
 
Lain cerita hari ini. Aku tahu aku sudah telat, tetapi aku tidak merasa bersalah. Hehe… aku bahkan tidak mengecek jadwal, mengira ujian dimulai pukul 10.15, dan ternyata dimulai pukul 10.00. Aku berjalan biasa, tetapi cepat, sampai di pendopo (tempat kumpulnya anak-anak psikologi) setelah aku menyapa adik kelasku, aku mendengar mereka menyeletuk, “Kayaknya telat, tuh.” Huh? Aku sadar kesalahanku dan naik tangga sambil berlari, berharap ada lift! Terbayang nilai C… lagi. It’s okay dapat B… Tidak, harus dapat A! Tapi, beginikah, kelakukan mahasiswa yang katanya mau dapat nilai A??? 
 
Aku sampai di depan kelas dan melihat daftar peserta ujian. Nomor 25. Aku membuka pintu dan tidak bisa. Dikunci dari dalam! Panik. Aku ketok-ketok dan barulah dibuka. Rupanya, aku mahasiswa yang datang paling terlambat. Huiii… malu rasanya. Aku cuma tersenyum pada dosen penjaga. Untung ibunya bukan dosen utama di mata kuliah itu. Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau disindir-sindir di depan kelas, secara ibunya kenal sama aku.
 
Akhirnya, aku bisa duduk dan mengerjakan soal ujian… Dan, sesuai dugaan, soalnya ya seperti itu. Alhamdulillah, niatku belajar sepanjang perjalanan, sekalipun sambil disambi cuci mata tadi, ada manfaatnya. Semua yang kupelajari keluar semua! Ujian selesai dan sedihnya tidak ada kesempatan bercengkrama bersama teman-teman seperti ujian-ujian terdahulu… 
 
Aku pulang bersama teman yang juga baru selesai ujian. Bercerita panjang lebar soal menjadi anak semester 8, betapa “sepinya” kampus, dan rasanya “tua”. Tapi, benar… masa sudah berubah. Tidak bisa kusamakan generasiku dengan generasi dua tahun di bawahku. Jika aku berharap diperlakukan sama, aku lah yang tidak sadar diri. Ada beberapa perbedaan dan aku ingin sekali mengalami semester ini sebagai masa dua tahun yang lalu, tetapi… aku lebih suka menjalani yang sekarang. Boleh lah, merasa diri jadi anak semester 4. Menyesuaikan diri itu penting, sepenting menjadi rendah hati.
 
Tapi, bagaimana menumbuhkan kembali semangat? Haha… daripada memikirkan nilai A dan materi kuliah, justru kebersamaan yang kurasakan di kelas inilah yang membuatku suka kuliah di saat ini. Semangat semangat!  Terima kasih, teman-teman semester 4😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s