Psikolog Muslim: Dilemanya,Tantangannya

Original post: aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/254/Seri-Psikologi-Islami-Bag.-14-2-Dilema-Psikolog-Muslim-DilemanyaTantangannya

Tulisan ini adalah lanjutan artikel sebelumnya.
Dilema Psikolog Muslim
 
Mungkin teman-teman bertanya apakah dilema itu, dan terkait dengan Psikologi Islami, dilema apakah yang terjadi.
 
Dilema adalah situasi yang sulit yang mengharuskan seseorang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan. Dilema yang diangkat dalam buku “The Dilemma of Muslim Psychologists” dapat digambarkan sebagai sengketa batin yang dialami psikolog muslim. 
Pada satu pihak, disadari bahwa psikologi yang mereka tekuni selama ini telah mempunya posisi teguh sebagai ilmu pengetahuan walaupun banyak isinya yang tidak Islami. Pada sisi yang lain, disadari pula bahwa Al Quran dan Al Hadist banyak mengandung prinsip-prinsip psikologi yang benar dan mantap, hanya saja Psikologi Islami itu sendiri belum terwujud. Baik psikologi Barat maupun Psikologi Islam sama-sama mengandung kekuatan dan kelemahan jika dilihat dari sudut metodologi keilmuannya (Bastaman, 2005, h. 26 – 27).
***
Dilema adalah sebuah konflik. Untuk menyelesaikannya, maka diperlukan pengambilan keputusan untuk memilih, mau ikut pihak yang mana atau mau bagaimana. Khusus bagi kasus Psikologi Islami ini, yang dilakukan adalah bertindak mengembangkan Psikologi Islami sama ilmiahnya dengan psikologi yang sudah ada, agar tidak ada lagi orang yang bingung mau menggunakan teori apa dan apa dasarnya.
Ketika kita sudah memilih “mengambangkan Psikologi Islami”, kita akan menghadapi realita bahwa ada banyak sekali tantangan yang akan dihadapi.
 
Tantangan Islamisasi Psikologi
 
Islamisasi psikologi bertujuan mewujudkan Psikologi Islami dengan menjadikan wawasan Islam tentang manusia sebagai landasan filsafat untuk psikologi. Usaha ini bukan berarti menghapus atau menganggap salah sama sekali wawasan, teori, sistem, metode, dan teknik-teknik psikologi yang sudah ada, melainkan melengkapi, menyempurnakan, dan memberikan kerangka acuan bagi konsep-konsep yang sudah ada.
 
Islamisasi psikologi dilandasi oleh keyakinan bahwa kebenaran hakiki terungkap dalam Al Quran dan tersirat dalam sunatullah yang salah satunya bekerja pada diri manusia sendiri. Maka, tantangan ahli psikologi maupun calon ahli psikologi muslim adalah:
 
a. Melakukan telaah serius mengenai asas-asas psikologi yang terkandung dalam Al Quran (dan Al Hadist). Hal ini menuntut penguasaan sepenuhnya ilmu agama bagi ahli psikologi dan sebaliknya, penguasaan ilmu psikologi bagi ahli agama, atau jika hal tersebut sulit dilakukan, dituntut kerjasama antara ahli psikologi dan ahli agama.
 
b. Bersedia meningkatkan komitmen pada nilai-nilai Islam, terutama pada diri dan kehidupan psikolog itu sendiri, serta bersedia menempatkan wahyu di atas akal, menjadikan Al Quran sebagai rujukan utama dan tolok ukut kebenaran-ilmiah psikologi.
***
Ternyata mengembangkan ilmu bukanlah hal yang main-main. Ilmu yang digali bukan hanya sebagai penghias akal, tetapi juga memperindah perilaku dalam kehidupan dengan berkomitmen dengan nilai-nilai Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s