Psikologi Islami: Ruang Lingkup dan Upaya Pengembangan

Psikologi Islami: Ruang Lingkup dan Upaya Pengembangan
 

Sejauh ini, psikologi kontemporer-sekular hanya mengakui tiga dimensi dalam kehidupan manusia, yaitu: a. raga (organo-biologi), b. jiwa (psiko-edukasi), dan c. lingkungan sosial-budaya (sosio-kultural) sebagai penentu utama perilaku manusia.

Namun demikian, Psikologi Islami mengakui adanya pengaruh Ruh Allah pada penciptaan manusia sebagai sesuatu yang sangat halus dan luhur yang dikaruniakan oleh Allah hanya kepada manusia. Dengan adanya ruh ini adalah agar manusia mempunyai hubungan ruhaniah dengan Allah yang Menciptakan Ruh tersebut.

QS Al Hijr (15): 29, Allah Berfirman:

Maka, apabila Aku telah Menyempurnakan kejadiannya, dan telah Meniupkan ke dalamnya Ruh (Ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

 QS Al A’raaf (7): 172), Allah Berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu Mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah Mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya Berfirman), “Bukankah aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab, “Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami Lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Allah),”…

Psikologi Islami memandang bahwa manusia memiliki empat dimensi dalam dirinya: a. Dimensi ragawi (fisik-biologi), b. Dimensi kejiwaan (psikologi), c. Dimensi lingkungan (sosiokultural), dan d. Dimensi ruhani (spiritual).

Ruang lingkup Psikologi Islami tidak hanya terbatas pada pengembangan psikobiologi, psikoeksistensial, dan psikososial, tetapi juga psikospiritual. Artinya, diakui adanya pengaruh dorongan spiritual dalam menentukan perilaku manusia. Dorongan ini sering merupakan pendorong utama dalam manusia untuk berperilaku. Sebagai ilustrasi, dapat dilihat penjelasan tentang dorongan spiritual ini di artikel Membangkitkan Dorongan Spiritual.

***

Psikologi Islami harus dikembangkan melalui metode ilmiah, baik melalui penelitian kualitatif maupun kuantitatif dengan teknik-teknik seperti observasi, wawancara, tes, eksperimen, dan survei. Namun demikian, ilmu pengetahuan tidak hanya dapat diperoleh dengan metode ilmiah, tetapi juga melalui intuisi dan ilham sebagai petunjuk dari Allah.
Sebagai contoh, melalui penelitian empiris kita dapat mengetahui tentang kehidupan keberagamaan manusia, terkait praktik ibadah dan aspek keagamaan lainnya, serta pengaruhnya terhadap kejiwaan manusia.
Dalam usaha pengembangan ilmu, ilmuwan Psikologi Islami dapat melakukan upaya pembandingan (komparasi) antara psikologi modern dengan konsep-konsep yang dijabarkan dalam Al Quran, Al Hadist, dan hasil pemikiran para ulama. Komparasi tersebut berguna untuk mengetahui sejauh mana terjadi keserupaan (similarisasi), kesejalanan (paralelisasi), saling melengkapi (komplementasi), saling memperkuat (verifikasi), dan saling menyangkal (falsifikasi).
***
Psikologi Islami tentu tidak dapat dipisahkan dari psikologi yang sudah ada. Namun demikian, perannya bukan sebagai pengekor psikologi kontemporer-sekular. Teori-teori yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam tentu tidak disangkal. Teori-teori yang belum lengkap perlu disempurnakan, sedangkan teori-teori yang salah kaprah perlu diluruskan berdasarkan nilai-nilai Islam. Di sinilah mengapa penelitian menjadi sangat penting, yaitu agar kita yang bersemangat mengislamisasi psikologi tidak sembarang menyalahkan atau menganut suatu teori.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s