Psikologi Islami: Rumusan Akhir dan Kesimpulan

Psikologi Islami: Rumusan Akhir dan Kesimpulan

Di akhir penjelasannya tentang “Apakah Psikologi Islami itu?”, Pak Bastaman (h. 10) merumuskan bahwa:

Psikologi Islami adalah corak psikologi yang berlandaskan citra manusia menurut ajaran Islam, yang mempelajari keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam keruhanian, dengan tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagamaan.

Rumusan tersebut mengandung unsur-unsur berikut:

a.Corak psikologi

Psikologi Islami adalah sebuah gerakan islamisasi psikologi, bahkan kelak akan menjadi aliran psikologi dengan landasan dan orientasi nilai-nilai Islami. Sebagai suatu corak psikologi, Psikologi Islami menerapkan metodologi dan metode ilmiah.

b.Berdasarkan citra manusia menurut ajaran Islam

Jika psikologi kontemporer-sekular melandaskan citra manusia berdasarkan hasil pemikiran filsafati tentang manusia, maka Psikologi Islami berorientasi pada citra manusia menurut ajaran Islam. Dalam pandangan Islam, manusia memiliki martabat yang tinggi sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi, memiliki fitrak iman dan takwa, serta memiliki ruh di samping adanya raga, jiwa, dan kehidupan sosial.

c.Keunikan dan pola perilaku manusia

Objek pembahasan psikologi adalah perilaku manusia. Perilaku adalah ungkapan/ manifestasi pengalaman manusia yang melibatkan unsur-unsur dan proses pemikiran, perasaan, sikap, kehendak, perilaku, dan relasi antarmanusia. Psikologi Islami selain berupaya memahami perilaku manusia, juga memahami polanya, yaitu hal-hal yang terjadi secara persisten dan kosisten dari perilaku yang berulang-ulang terjadi.

d. Interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam keruhanian

Manusia adalah makhluk yang sadar diri, mampu melakukan distansi dan berdialog dengan dirinya sendiri. Manusia bukan makhluk yang soliter karena ia selalu berhubugnan dengan lingkungan alam fisik maupun manusia. Psikologi Islami selain mengakui dua hal tersebut juga mengakui adanya dimensi ruh dalam pengalaman keruhaniannya sebagai manusia.

e. Meningkatkan Kesehatan Mental dan Kualitas Keberagamaannya

Kesehatan mental adalah tujuan utama penerapan psikologi (bebas dari gangguan/penyakit kejiwaan, mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial, dan melestarikan lingkungan sekitar. Psikologi Islami memiliki tujuan tersebut, sekaligus berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Kesehatan mental dan kualitas keberagamaan adalah dua hal yang saling mempengaruhi. Mental yang sehat mempengaruhi kualitas keberagamaan, kualitas keberagamaan mempengaruhi kesehatan mental.

***
Dari situ, kita dapat menyimpulkan bahwa Psikologi Islami berbeda dengan psikologi kontemporer-sekular, sekalipun tetap saja ada hubungannya. Psikologi Islami mempelajari perilaku manusia dengan kacamata tauhid berdasarkan ajaran Islam, terutama konsep tentang manusia. Pada proses pengembangannya, Psikologi Islami tidak boleh lepas dari aturan-aturan Islam dan tetap berpegang pada syarat ilmiah sebagai ilmu. Pada akhirnya, produk dari penelitian dan penerapan Psikologi Islami sejalan dengan misi Islam, yaitu mensejahterakan manusia berdasarkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah.
 
Sumber: 
Bastaman, H. J. 2005. Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, h. 3 – 13.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s