Semangat bagi Para Pembelajar

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/246/Seri-Psikologi-Islami-Bag.-11-Semangat-bagi-Para-Pembelajar

May 8, ’11 9:20 PM

Dari sebuah weblog…😀
 
***
Nasihat Ali bin Abi Thalib tentang indahnya menjadi seorang pembelajar.
 
“… sesungguhnya hati itu adalah wadah, dan sebaik-baiknya hati adalah yang paling memiliki kesadaran. Resapilah apa yang kukatakan kepadamu ini.
Manusia itu terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu ulama rabbani, penuntut ilmu di atas jalan keselamatan, dan rakyat jelata yang mengikuti semua penyeru. Kelompok terakhir akan miring bersama hembusan angin, tidak bersinar dengan cahaya ilmu, dan tidak bersandar pada pilar yang kokoh.
“… ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu itu menjagamu sedang kamu menjaga harta. Ilmu semakin berkembang jika diamalkan sedang harta semakin berkurang jika dikeluarkan.
“… mencintai ilmu adalah agama. Ilmu membuat ulama ditaati sepanjang hidupnya dan tetap dikenang sepeninggal hidupnya. Adapun kebaikan karena harta, dia akan hilang bersama hilangnya harta itu. Ilmu merupakan hakim sementara harta dibebani hukum.
“… para penyimpan harta itu telah mati meskipun mereka masih hidup. Adapun para ulama, mereka seakan abadi sepanjang masa. Diri mereka telah sirna, namun suri teladan mereka tetap melekat di sanubari.
“Sesungguhnya di sini,” Ali menunjuk ke dadanya, “terdapat ilmu jika aku menerimanya dengan benar.”
 
***
Apakah masih berpikiran atau merasa bahwa “belajar” itu membosankan? Apakah masih terasa beratnya buku-buku yang kita bawa? Lelah berusaha memahami? Menutup lembaran, lalu menutup mata, tidur?
 
Pada fisik kita, belajar memang berat, tetapi keberatan itu bisa hilang jika hati kita ringan. Bagaimana hati bisa ringan? Kupikir, perbanyaklah nasihat-nasihat indah dan janji Allah kepada orang yang berilmu karena belajar, maka di situlah akan hadir motivasi. 
 
Semangat, teman-teman! Semangat mengembangkan psikologi Islami! Memang berat usahanya, harus memahami psikologi, sekaligus Islam itu sendiri, lalu menyintesakannya. Kita mungkin berpikir, “Kita masih mahasiswa…“, tetapi tak ada masalah dengan itu karena banyak orang yang lebih tua yang tidak memimpikan apa yang kita impikan tentang psikologi Islami. Ayo berpikir ke depan, mungkin lima atau 10 tahun lagi, insya Allah kita punya tempat bersama mimpi kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s