A Need Named “Hero”

Dari sini kita akan belajar menyadari pentingnya keberadaan “jagoan” dalam keluarga. Siapakah dia?
 
Kita sering ditanya, “Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam hidupmu? Siapa orang yang paling ingin kau ucapkan terima kasih?
 
Banyak orang menjawab, “Bapak,” atau “Ibu“, atau “Orangtua“, atau “Kakak.” Pada intinya adalah orang(-orang) yang hidup satu atap bersama kita yang bernama keluarga. Ini adalah suatu pertanda bahwa ada hubungan saling mempengaruhi antaranggota keluarga. “Ya, keluarga memang sangat menginspirasi.
 
Keluarga sebagai unit masyarakat terkecil bukan barang baru di telinga kita. Pembangunan bangsa dan negara dimulai dari keluarga bukan hal asing. Banyak pendekatan pembangunan masyarakat diawali dengan pemberdayaan keluarga. Jelas, keluarga yang kuat adalah landasan bagi masyarakat yang tangguh. Namun demikian, bagaimana semua itu terjadi tidak lain dan tidak bukan didahului oleh andil orang-orang di dalam keluarga.
 
Apa yang sesungguhnya dilakukan orang-orang ini?
 
Menjadi teladan. Tentu saja, ini tentang menjadi orang yang baik demi keluarga yang baik, demi masyarakat yang baik. Untuk ini, ada prinsip yang pasti yaitu “tidak ada ampun bagi permakluman yang disengaja atas kelemahan pribadi”.
 
Apa yang kita pikirkan ketika ada perintah menahan marah atau agar tidak bertengkar di hadapan anak(-anak), perintah mengendalikan diri, perintah menjaga mulut dari kata-kata yang tidak baik dan menyakitkan hati, perintah agar bapak atau ibu tidak main pukul dan bermurah hati menyenangkan anak kecil, perintah memelihara ibadah di rumah, perintah memberi makan keluarga dengan rezeki yang halal dan baik, perintah birul-walidain, tolong-menolong, dan beberapa lainnya?
 
Untuk hasil yang langsung, jelas, ada kesejahteraan dan ketentraman di rumah. Namun, secara tidak langsung ada dinamika dalam diri anak atau adik-adik kita. Ada kesejahteraan dan ketentraman psikologis ketika mereka menyaksikan betapa indah keluarga dan perilaku bapak, ibu, kakak, adik, dan anggota keluarga lainnya. 
 
Dan, mungkin kita tidak sadar bahwa ada yang melihat kita selain Allah. Mata-mata mereka mengintip, “Oh, ibu sedang tahajud… baca Al Qur’an-nya enak, ya.” Atau “Wah, bapak beli buku. Aku juga mau baca buku.” Kita mungkin pula tidak sempat berkata-kata atau tak mampu memerintah atau mengucapkan nasihat-nasihat yang indah. Namun, meskipun tidak ada kalimat yang keluar dari mulut, kita tetap mendidik lewat perilaku nyata.
Ketika kita menjadi teladan bagi anak atau adik-adik kita, suatu saat, pasti akan terucap lewat mulut atau hanya disadari dalam batin, “My family is really my hero.” Karena itu, suatu saat, mereka juga akan bertekad menjadi hero bagi keluarganya sendiri, nanti di masa depan.
–Menjadi anggota keluarga teladan sungguh adalah tugas yang mulia.–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s