Adik, Ayo Belajar Iqra’

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/264/Adik-Ayo-Belajar-IQRO

May 26, ’11 10:54 PM

Pengalamanku belajar membaca Al Quran penuh air mata. Biasa, gurunya agak galak dan aku cengeng. Hehe… sepertinya memang aku yang berlebihan kalau begitu karena adik-adikku tidak mengalami hal yang serupa. Anak-anak tetangga juga tidak begitu. Walaupun demikian, aku kini merasakan hikmah dari kejadian masa lalu itu.
Sama seperti beliau, aku ingin menjadi guru mengaji untuk anak-anak. Aku berharap bisa menjadi guru privat atau apa, tetapi tidak terwujud. Mungkin terwujud, tetapi tidak dalam statusku sebagai guru sungguhan. Anak pertama adalah adik (aku lupa namanya) di bumi KKN. Anak kedua adalah adikku sendiri yang sekarang berusia empat tahun 20 hari dan masih berlangsung sampai sekarang, bergantian dengan ibuku.
Untuk anak seusia itu, aku tidak tahu seberapa besar kesungguhannya. Kami hanya berusaha agar pertama, dia mau duduk tenang. Kedua, mendengarkan kami menyontohkan bunyi huruf dan menirukannya. Ketiga, mau membaca sendiri dan ini sulit. Namun demikian, ada sedikit guyonan di rumah yang membuatku mengagumi kerja kerasnya yang main-main itu. Diceritakan, beberapa hari yang lalu, sebelum masuk TK, adik harus ikut wawancara bersama kepala sekolahnya. Sampai pada pertanyaan: “Ngajinya sudah sampai mana?” dan dia jawab tanpa ragu, “Sampai pengusir ayam!” Itu artinya huruf “sya”. Dan bu guru tertawa.
Ada lagi. Huruf kesukaannya adalah “ba” karena namanya “Balya” dimulai dengan huruf “ba”. Setiap belajar selalu saja halaman itu yang dibaca. Favoritisme yang sulit dimengerti. Ada lagi, dia tidak suka dengan huruf “tsa”, sepertinya. Aku curiga, itu karena dia sering tidak akur dengan adik keduaku yang namanya “Marsa”. Dahulu memang, waktu mengajarkan adik mengingat huruf itu dengan metode asosiasi, aku menghubungkannya dengan nama adikku “Mar?” dan dia sambung “Tsa”. Dia mungkin tidak suka asosiasi itu. Makanya, itulah yang terjadi.
Haha… cerita di atas cuma hiburan saja.
***
Dalam mengajarkan anak yang masih balita, kesulitan pertama adalah membuatnya tetap fokus. Dari interaksi ini, akhirnya aku tahu wujud “pendeknya rentang perhatian pada anak-anak” di dunia nyata. Tidak seperti kita orang dewasa yang bisa fokus belajar atau kuliah satu jam lamanya, anak-anak hanya tahan tidak lebih dari satu menit. Baru sebentar duduk, sudah minta berdiri. Baru sebut satu huruf, sudah mau ngomong yang lain.
Walaupun demikian, ada banyak hal yang membuat adik kecil kita tetap suka belajar baca IQRO’. Prinsip psikologi bermain di sini.
 
Pertama, modeling (peneladanan) yang berjalan dengan sukses. Seandainya orang rumah tidak suka membaca Al Quran, bagaimana adik kecil bisa suka dengan huruf-huruf Arab yang asing itu?
 
Kedua, aku tidak tahu apa istilah bagi ini, tetapi adik semakin semangat belajar ketika tahu bahwa yang belajar IQRO’ tidak cuma dirinya, tetapi juga teman-temannya, terutama di sekolah. Dia bisa akan selalu bilang, “Aku menang, mau dapat bintang!” karena pengaruh kompetisi dengan teman-temannya. Ho… behavioristik sekali. Kesamaan harapan di rumah dan di sekolah adalah sebuah penguat bagi perilaku (reinforcement).
 
Ketiga, jadikan “baca IQRO'” sebagai syarat sebelum dia boleh melakukan aktivitas kesukaannya, seperti main game, nonton film, atau jalan-jalan. “Kalau mau main, yuk ngaji dulu.” Dan jika dia nurut. Alhamdulillah… meskipun jatuhnya cuma satu lembar “ba” lagi atau apapun.
 
Keempat, sepakat antara ibu dan kakak-kakak atau anggota keluarga yang lain. Kalau waktunya belajar, belajar. Kalau dia perlu dikerasin sedikit karena bandel, didukung (tidak menunjukkan rasa kasihan yang bertentangan dengan misi). Siapa saja di rumah harus sepakat dengan keputusan ini, tetapi tentu dengan kadar teloransi yang tepat.
 
Kelima, fleksibilitas. Boleh. Membaca IQRO’ sambil makan permen, sambil diselingi cerita-cerita, canda tawa, dan apapun. Boleh. Buku IQRO’ itu dicoret-coret dengan gambar bintang kesukaannya, bulat-bulat kesukaannya, gambar tangan kesukaannya. Yang penting, duduk tenang dan baca. Sambil nonton TV, boleh.
 
Keenam, mengulang-ulang. Tidak apa-apa, halaman yang sama sebulan lamanya, kalau sukanya memang itu. Tapi kadang-kadang adik ingin segera lompat sampai huruf  berikutnya. Tapi, kalau tidak bisa ya ke halaman depan lagi.
 
Ketujuh, kalau dia tidak mau baca, maka kita yang bacakan dan dia mendengarkan saja. Itu tidak salah, karena dia tetap bisa ingat dengan cara itu.
 
Kedelapan, pasang tempel daftar huruf hijaiyah di rumah. Bolehkan adik duduk di pangkuan  kita, waktu kita membaca Al Quran. Dari situ dia suka menebak-nebak, “Eh, ada huruf ‘ba’. Kak, ada huruf ‘ba’!” dan kita lanjutkan, misalnya, “Iya, itu bacanya ‘bismillah’.
 
Kesembilan, IQRO’ adalah alternatif bacaan sebelum tidur, meskipun cuma satu huruf, satu suara. 
 
Kesepuluh, membantu hafalan bunyi huruf dengan lagu “a-ba-ta-tsa”. Anak balita itu suka sekali menyanyi, bukan?
 
Kesebelas, tidak dimarahi sebandel apapun dia dan selalu berikan penghargaan, seperti kecupan di pipi atau elusan di kepala, sambil bilang “Hebaaat” (setidakhebat apapun dia pada kenyataannya. Hehe… tentu tidak demikian).
 
***
Prinsip psikologi macam ini dapat diterapkan di rumah, secara menyenangkan dan tidak kaku. Sering, masalah belajar muncul bukan dari apa yang dipelajari, tetapi metode belajar dan diri pengajarnya. Anak belajar dengan mudah di lingkungan yang seperti bermain-main, terutama orangtua yang bisa tertawa bersama dengannya selama belajar. Senang sekali bila anak bisa belajar dengan kesukarelaannya yang innocent itu.
Selain itu, perlu disadari bahwa ada perbedaan individual antara anak yang satu dengan yang lain. Ada yang belajarnya cepat, ada yang lambat. Namun demikian, itu semua bukan penghalang bagi penguasaan huruf hijaiyah untuk membaca Al Quran.
Sepertinya masih ada banyak cara lainnya, tetapi itu saja dahulu. Semoga sukses mengajarkan adik-adik kecil kita mengaji. Maaf jika ada yang terlewat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s