Bilal dan Kebebasan Eksistensialnya

Apakah ada di antara kita yang tidak pernah mengetahui kisah Bilal dan keimanannya yang menggetarkan itu? Kita selalu dapat mempersonalisasikan kisah itu dan reaksi kita adalah “itu luar biasa”. Jika ditanya apakah kita dapat seperti Bilal? Mulut kita berkata, “Insya Allah”, sementara hati kita masih bertanya-tanya, “Bisakah?”
Aku termasuk orang yang bertanya-tanya semacam itu. Sebenarnya, apakah iman itu, mengapa ia begitu “manis”, mengapa ia bisa menjadi tenaga pengubah yang luar biasa, mengapa iman adalah landasan kebahagiaan dan keselamatan… Mengapa, meskipun sudah berkata, “Aku beriman,” masih saja merasa tidak ada sesuatu yang spesial, yang membuatku berubah menjadi jreeeeeng… “manusia malaikat”? Hahaha… mungkinkah aku sedang mengharapkan kebebasan dan kebenaran tak tercemar? Aku menertawakan diriku sendiri.
Aku rasa iman bukan sesuatu yang seperti itu. Ia menempatkanmu di tempatmu. Tidak lebih tinggi, tidak lebih rendah. Ia memberimu harapan sekaligus menakutimu. Ia mampu mendorongmu berbuat hal-hal baik dan benar. Namun, sebelum itu bisa terjadi, sesungguhnya imanlah yang terlebih dahulu membebaskanmu dari berbagai penjajahan dunia dengan membuatmu lepas dari jerat yang muncul dari dalam dirimu sendiri.
Tidakkah yang semacam ini pernah kita alami bersama? Kita ingin melakukan ini dan itu, tetapi jatuhnya semua itu tidak terjadi. Kita mau berbuat itu, tetapi ada saja… misalnya rasa malas yang membuat kita menunda-nunda tindakan. Kita tahu, berkata “semangat!” itu mampu menyemangati, tetapi kita tidak dapat menyerukannya pada diri sendiri dengan suara menggelegar, yang membuat kita bangkit segera. Ada banyak mimpi yang kita tulis di buku impian kita, tetapi… itu semua hanya sampai di tataran keinginan. Ketika mau bertindak, selalu saja ada rasa takut, gentar, dan kekhawatiran, lalu… detik-detik lewat dan jadilah kita manusia yang menyesal.
Yang seperti ini adalah perasaan yang mengerikan, terutama ketika kau dimudahkan Allah menjadi orang yang tahu apa yang baik dan benar. Sungguh ujian yang luar biasa untuk mewujudkan kebaikan dan kebenaran itu. Untuk benar-benar terjun… Dunia kini sudah tidak menjajah kita secara sosial lewat larangan-larangan berekspresi, tetapi penjajah itu adalah diri kita sendiri, ketika kita gagal menentukan diri sendiri. Kau sudah bebas “dari apa”, tetapi tidak dapat bebas “untuk berbuat apa”. Ini berkebalikan dari Bilal. Bilal ketika itu tidak bebas “dari apa” karena ia seorang budak, tetapi ia mampu bebas “untuk berbuat”, yaitu menyuarakan keimanannya.
Semacam inilah kebebasan eksistensial yang kebanyakan dari kita kehilangannya. Ia adalah kemampuan kita untuk menentukan tindakan kita sendiri dan bersumber dari kemampuan kita berpikir dan berkehendak untuk mewujudkan yang baik dan yang benar dalam suatu tindakan. Keberanian sejati adalah keberanian yang hadir dengan cara semacam ini, bukan karena keberanian itu dilindungi oleh kepalsuan, kekuatan kelompok, harta, atau kedudukan. Ketakutan sejati juga adalah ketakutan yang hadir dengan cara semacam ini, bukan karena tidak ada lagi kelompok, harta, atau kedudukan yang melindungi.
***
Dalam menuliskan ini, aku sungguh berharap bisa menjadi orang yang memahami dinamika ini secara lebih baik. Kebebasan eksistensial bagaimanapun juga bukan sesuatu yang absolut bisa kita miliki. Sebagai manusia, eksistensi kita tidak dibebaskan sejak penciptaannya. Aku ingat Allah dengan segala ketidakbebasan yang Dia Kehendaki hadir dalam kehidupan ini, baik yang bersumber dari nafsu dan insting manusiawi kita, aturan hidup bermasyarakat, dan aturan-aturan-Nya. Namun, ketidakbebasan ini bukan sesuatu yang menggerogoti kebebasan kita. Ketidakbebasan ini adalah corak kehidupan manusia yang dapat dinikmati, yang tidak dapat dinafikan.
Ketika menyadari ini, sadar, ujian kehidupan yang paling besar adalah macam ini. Ujian ini bukan hanya menjauhi larangan, tetapi juga menaati perintah Allah. Kita bisa menjauhi larangan dengan tidak berbuat apa-apa, tetapi lain ceritanya jika ini terkait melaksanakan perintah secara baik dan benar sesuai aturan. Benar, kita tidak pernah dapat merasa benar-benar benar. Kita dapat salah, dan kebebasan kita sebagai manusia bermain-main di antara keduanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s