Dalam “Janji-Janji Islam” Roger Geraudy

 
 
Kalau saya tak memiliki cahaya,
kalau Anda tak memiliki cahaya,
dan kalau kita semua tidak mempunyai cahaya
lantas, bagaimana mungkin kita mengubah
yang gelap menjadi terang?
-Garaudy (1993)
 
 
Tahun ini Roger Garaudy akan berusia 98 tahun, insya Allah. Itu usia yang panjang, subhanallah walhamdulillah. Sebagai orang 21 tahun, aku hanya bertanya-tanya, apa yang dialami atau dirasakannya kini, terutama ketika 30 tahun telah berlalu sejak dia menulis “Janji-Janji Islam” untuk dunia, khususnya Eropa? Seberapa baik pesan-pesannya (dalam buku itu) didengarkan? Atau, seberapa besar perubahan yang diharapkannya telah terjadi, yaitu diterimanya Islam secara terbuka oleh masyarakat Eropa?
Mungkin berat yang dirasakannya? Bayangkan di tengah kegelapan malam dan orang-orang tidur berjalan menuju jurang yang dalam. Kau berteriak-teriak agar mereka jangan ke sana dan bahwa kau punya sumber cahaya, kau akan menyalakannya. Namun, kau belum sempat menyalakannya dan takdir mendahului…
Kelak, adakah yang bisa menyalakan matahari tengah malam, agar orang-orang tak usah menunggu fajar? Atau mungkinkah, malam itu terhapuskan sama sekali?
 
Mengapa aku berpikiran begitu? Itu karena bagi Garaudy dan banyak orang lainnya, cahaya bagi Eropa dan dunia adalah Islam. Apakah bisa mengubah dunia dengan pemikiran, hanya pemikiran dalam buku? Karena kita orang Islam, ketika aku, kita semua tak bisa membumikan Islam dengan baik dalam perilaku nyata, ada rasa bersalah: Ternyata kita adalah masalah, bagian dari masalah yang kita rumuskan sendiri tentang umat manusia abad ini. Janji Islam tidak hanya untuk Eropa, tetapi juga untuk seluruh manusia dan kita termasuk di situ.
Allah (Pemberi) Cahaya (kepada) langit dan bumi… Cahaya di atas cahaya, Allah Membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki… (QS 24: 35)
***
Tiap revolusi akan gagal selama manusia hanya ingin mengubah segala sesuatu, tetapi tidak ingin mengubah dirinya sendiri (h. 105). Ya, kita tidak bisa berpikir tentang dunia, negara, masyarakat, atau keluarga kita tanpa ikut memikirkan tentang diri kita sendiri, menghakimi diri kita sendiri.
 
Benar, ide tentang diri kita per individu sebagai bagian dari masyarakat dunia, bukan ide yang main-main. Mudah berpikiran kita akan mati besok atau kapan, entah, tetapi hidup kita sebelum mati bisa jadi berperan dalam proses matinya orang yang tak kita kenal hari ini. Mati badannya mungkin tidak, tetapi bagaimana dengan mati harapannya, mati cita-citanya, atau mati masa depannya? 
 
Individulisme memang penyakit. Ia menjangkiti Eropa, tetapi bukan berarti itu bukan penderitaan dan penyakit bagi kita. Berharap  menguasai orang lain, kuasai dulu dirimu sendiri, menjauhlah dari egomu, nafsu-nafsumu. Tundukkanlah mereka semua di bawah kehendak Allah atas manusia? Itu konsekuensi bagi kita, orang-orang yang melihat Cahaya yang dari situ kita dapat melihat jalan dan arah tujuan, masa depan yang melampaui masa depan dunia.
 
Sesungguhnya Allah tidak Mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS 13: 11)
 
***
Ada logika di balik kejayaan Islam di masa lalu. Ada begitu banyak sebab dan penjelasannya sehingga abad-abad itu disebut masa yang tercerahkan, namun satu sebab yang mutlak adalah sebab yang ada di dalam jiwa orang-orang beriman yang bernama akidah tauhid, yang membuat mereka menundukkan diri karena meyakini: 
 
Yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. QS 2: 284, Allah yang Memiliki, Mengeluarkan hukum, dan Mengatur, sehingga orang-orang tidak menjadikan dirinya sendiri, harta benda, keluarga, kekuatan, kekuasaan, dan keberhasilan sebagai tuhan dan tujuan, melainkan sarana menuju tujuan hidup yang lebih tinggi, lebih mulia, dan sifatnya ukhrawi.
Inilah yang, menurut Garaudy dan tentu kita semua yakini, membedakan masyarakat Islam dengan masyarakat bukan Islam, terkhusus masyarakat Barat. Pemikirannya tentang terjungkirbaliknya hubungan antara sarana dan tujuan menjelaskan kecenderungan kehancuran dunia saat ini, di alam dan diri manusia sendiri. “Ketika sarana menjadi tujuan, sains dan teknologi tidak lagi disesuaikan dengan lingkungan dan tidak lagi mengabdi kepada manusia. Sebaliknya, manusia dan lingkungan telah ditundukkan kepada perkembangan sains dan teknologi…” (h. 135)
***
Sebagai penutup, aku suka kesimpulan buku ini (h. 213):
Kami membicarakan hari esok kita, dan hari esok semua orang. Buku ini bukan buku sejarah, akan tetapi suatu pendekatan baru tentang Islam… Kami telah mencoba menggambarkan Islam sebagai sesuatu kekuatan hidup, tidak hanya bagi hari kemarin, akan tetapi dalam segala yang dapat ia berikan pada hari ini untuk mengatur hari esok kita. Untuk mengetahui hal tersebut, kita tidak boleh memandang Islam hanya dari segi kekurangan.
Jika itu pernyataan untuk masyarakat Eropa, bagaimana dengan Indonesia, negeri muslim di mana Islam tak (dapat) bersuara lantang? Eropa memandang Islam dengan “rasa takut” sehingga mereka terus-menerus mencari kekurangan Islam (bacalah sejarah panjang Eropa dan dunia Islam). Bagaimana dengan Indonesia?
Semoga tidak sebagian dari kita memandang Islam dengan “rasa inferior” sehingga kita sama seperti mereka, “terus-menerus mencari kekurangan Islam”, untuk merasionalisasi penerimaan sistem-sistem asing bagi masyarakat Islam dan diri kita sendiri. Semoga kita dapat mempelajari Islam secara benar, bukan untuk meninggalkannya, tetapi untuk terus mendengarkan janji-janji-Nya yang dari situ kita mendapatkan kekuatan untuk hidup.
 
Ingatlah, sesungguhnya Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi.
Ingatlah, sesungguhnya Janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya).
 
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu Pelajaran dari Tuhan-mu 
dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada 
dan Petunjuk 
serta Rahmat
bagi orang-orang yang beriman.
 
QS 10: 55 & 57
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s