Halaqoh Psikologi Islami

May 21, ’11 2:51 PM
Sebelumnya, aku tidak pernah tahu bahwa untuk mewujudkan program kerja yang satu ini membutuhkan waktu tiga tahun untuk mempersiapkannya. Adalah suatu keinginan yang besar agar Psikologi Islami dapat dipelajari oleh pengurus kelompok studi sehingga tidak ada lagi kebingungan atau bahkan ketidaktahuan mengenai apakah Psikologi Islami itu.
Awalnya, program ini hadir dalam bentuk diskusi yang tidak resmi, “hanya” untuk mengajak agar “…daripada habis kuliah tidak ada acara, mari kita berkumpul dan berdiskusi tentang Psikologi Islami…”. Salahnya adalah karena sangat tidak resminya itu, penanggung jawabnya jadi asal-asal. Maka, kemajuan pada tahun itu hanyalah terciptanya sebuah nama untuk program rintisan ini: Diskusi Informal Kesppi. Setelah dipikir-pikir, itu nama yang agak tolol dan itu aku yang buat😀
Tahun kedua, program ini kembali hadir dengan krisis identitasnya yang lain. Kami kebingungan konsep acara. Sempat bingung karena ada banyak sekali keinginan yang ingin diwujudkan lewat acara diskusi ini. Pertemuan pertama cukup awal diadakan, bulan pertama kepengurusan tahun 2010. Saat itu kami sangat menggebu-gebu untuk belajar melakukan penelitian, maka bulan itu menjadi kali pertama dilakukannya survei. Menyenangkan? Sangat! Sayangnya, cuma berjalan kali itu saja… karena selanjutnya kami terlalu stres untuk mengurusinya.
 
Tahun itu ditandai dengan kebangkitan Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Islami dan aku semakin sadar bahwa “Kita harus stop kebodohan ini!” Pada suatu malam, aku tidak bisa tidur untuk memikirkan apa yang harus aku perbuat sementara waktuku sebagai mahasiswa menjadi semakin sedikit. Banyak hal yang aku pertimbangkan. Masalah terbesar bukan pada teknis, melainkan pada materi apa yang sebaiknya diberikan dan siapa yang memberikan kepada adik-adik di kampus. 
 
Aku dihadapkan pada masalah bahwa sulit sekali menemukan sosok yang paham Psikologi Islami dan bersedia membimbing kami dalam belajar. Dosen bukan pilihan karena ada masalah perbedaan sudut pandang, sedangkan senior yang menjadi alternatif, mereka perlu dikonsolidasi kembali dan di”paksa” untuk belajar lagi.
 
Terkait materi, aku tidak bisa mengandalkan materi-materi dalam kuliah Psikologi Islami di kampus yang mengecewakan. Menunggu ikatan mahasiswa bertindak? Kelamaan! Akhirnya, materi harus dirumuskan sendiri dan cukup trial-and-error, hanya menduga-duga apa yang terbaik dan menyelaraskannya dengan kemampuan peserta yang sungguh, sebagian tak begitu paham Islam maupun psikologi itu sendiri.
 
Maka dari itu, aku mulai memasuki masa pencarian materi bersama dua rekanku yang lain. Sulit? Agak. Sempat berselisih paham tentang apa yang prioritas dan apa yang tidak. Namun, akhirnya masa itu terlewati dan masuk lah pada masa berikutnya, yaitu penyusunan modul belajar. Ini problem yang lebih besar lagi. Pertama, mencari bahan belajar itu harus selektif dan setidaknya, kaya referensi. Kedua, muncul dilema antara mengerjakan skripsi dengan modul ini. Ketiga, setelah bahan didapat dan dilema memenangkan modul, sintesa informasi yang ada juga tidak main-main. Ada orang yang sedang percaya pada kami dan itu membuat kehati-hatian menjadi keharusan.
 
Dan, akhirnya, 11 Mei 2011 yang lalu, pertemuan pertama dilakukan untuk kelompok diskusiku. Aku cemas, karena aku belum pernah melakukan hal ini. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kecuali maju terus. Aku sadar aku tidak juga benar-benar paham Islam dan sintesanya dengan psikologi untuk menghasilkan Psikologi Islami. Pada akhirnya pula, aku sadar bahwa aku memang tidak dapat berbuat banyak, tetapi ada satu hal yang bisa aku lakukan. Maka, aku mulai bercerita tentang pengalamanku bergumul dengan psikologi dan Islam yang tersimpul dalam sebuah motto:
 
“Ketika belajar psikologi, nyalakan otak Islam-mu, ketika belajar Islam, nyalakan otak psikologimu.”
 
Dan, adik-adik tiba-tiba saja, “Ooooh, bisa begitu ya, Mbak? Kok nggak terpikirkan ya?
 
Memang, pengalaman belajar psikologi dan Islam sering begitu terpisah, sampai-sampai sulit sekali menemukan titik di mana kita bisa otomatis dan secara bersamaan menemukan khazanah Islam dalam teori-teori psikologi (sekalipun itu sumbernya dari Barat) dan khazanah psikologi dalam ajaran Islam.
 
Jika ditanya, bagaimana caranya begitu? Jujur, aku tidak begitu tahu dan hanya mengandalkan insting (atau intuisi?), “Oh, ini seperti ajaran Islam!” atau, “Oh, ini sangat psikologis!” Memang, aku tidak bisa menemukan cara terbaik belajar Psikologi Islami selain itu. Cara itu pula yang kulakukan ketika membuat artikel-artikel psikologi yang Islami atau artikel-artikel Islam yang psikologis. Sering, terutama untuk yang Islam, aku tidak pandai berargumentasi dengan ayat-ayat Al Quran dan Al Hadist, tetapi hatiku sering pula berkata, “Jalan terus! Jika kau salah, insya Allah akan ada yang memberikan peringatan.
 
Apakah kalian tahu betapa senangnya belajar dengan cara seperti ini? Aku sendiri sangat menikmatinya dan nyaris tidak ada yang terasa susah kecuali beberapa saat saja, ketika sesuatu terasa begitu menyesakkan karena kesimpulan yang diharapkan untuk suatu sintesa tidak juga ditemukan. Jika begitu, aku tidak bisa tidak yakin bahwa Allah-lah yang akan menolongku. Dan benar saja, pertanyaan-pertanyaan dari beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun yang lalu terjawab di saat ini, dan seterusnya, insya Allah sampai di masa depan. 
 
Aku merasa aku tidak Ditinggalkan-Nya dan karena itu aku sangat bersyukur, lalu berdoa, semoga imanku akur dengan ilmuku. Aku sangat mengkhawatirkan ini, terutama ketika tahu bahwa ada “luka” dalam psikologi yang memang aku tidak tahu bagaimana mengobatinya. Ini masalah dunia ilmu pengetahuan, sedangkan aku masih saja di sini dan seperti ini. Walaupun begitu, ada lagi satu yang kupegang, yaitu terus mensyukuri, sekalipun itu hanyalah kesadaran yang sangat remeh tentang suatu pengetahuan. Maka dari itu, aku tidak bisa tidak optimis. 
 
Selamat belajar, adik-adikku😀 Maju pelan-pelan dengan sabar, syukuri sekecil apapun pemahaman yang didapat dan terus membuka mata untuk fakta seremeh apapun. Nyalakan otak Islam-mu, nyalakan otak psikologimu! 
 
Ya, mungkin, inilah kontribusi terakhirku sebagai pengurus di organisasi ini. Ambil manfaat dari kesalahan yang kubuat dan maafkan aku. Jangan berhenti belajar dan membuat progres. Semangat semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s