Hapsak Pancasila (Pidato Buya HAMKA tentang makna menjadi muslim di Indonesia)

Berikut ini adalah penutup pidato Prof. Dr. HAMKA yang berjudul “Doktrin Islam yang Menimbulkan Kemerdekaan dan Keberanian”, tahun 1975. Dari sebuah buku tua, dan menurutku, isinya baik untuk direnungkan.
***
“Dengan berkat Rahmat Allah”, demikian kita tuliskan pada Mukaddimah UUD 1945, kita bangsa Indonesia telah mencapai kemerdekaan. Tanah air yang indah ini ialah anugrah Tuhan kepada kita, lalu kita putuskan pula menerima Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara.
Pada kesempatan ini saya menyatakan: “Saya menerima Pancasila sebab saya seorang muslim”. Sebab sila pertama ialah Ketuhanan yang Maha Esa, percaya akan Kemahakuasaan Tuhan ialah dasar pertama dan utama dari hidup saya sebagai muslim. Memang Allah itu Esa, Tunggal, Satu, Widhi! Sebab itu untuk menjamin terpeliharanya Pancasila itu, menurut keyakinan saya, tidak ada lain jalan hanyalah satu yaitu supaya saya menjadi seorang muslim yang baik, seorang muslim yang taat kepada Allah. Saya bersyukur kepada Allah yang telah menganugrahkan berkat dan rahmat-Nya sehingga tanah air saya ini merdeka.
Dan saya tidak dapat keluar dari garis itu atau memberi lebih dari itu. Sebagai muslim saya tidak dapat meletakkan Pancasila jadi nomor satu lalu Islam saya letakkan di bawah naungan Pancasila, melainkan sebaliknya sebagai saya katakan tadi. Saya akan berusaha hidup sebagai muslim sejati, niscaya tak dapat lain, saya akan jadi Pancasialis sejati.
Oleh sebab itu tidaklah menurut logika yang sehat, kalau ada orang yang mengatakan bahwa Pancasila-lah yang melindungi Islam. Sebab agama ialah wahyu Ilahi, sedang Pancasila sebagai Filsafat Negara ialah ciptaan kita semua.
Dan adalah satu fitnah yang besar kalau ada orang yang mempertentangkan di antara Islam dengan Pancasila. Orang yang mencoba mempertentangkannya ialah salah satu dari dua. Pertama ialah orang yang tidak ada pengetahuannya sama sekali tentang Islam dan tidak pula tentang Pancasila. Yang kedua ialah maksud-maksud politik tertentu untuk menyisihkan orang-orang yang beriman teguh dalam agamanya dari medan perjuangan. Dan hanya akan dipanggil bila ada bahaya saja, karena semua tahu yang bersedia mati dalam menegakkan Tanah Air, agama dan bangsa ialah orang yang beriman. Sesudah itu selesai nanti, campakkan mereka ke tepi dan tuduh mereka golongan fanatik.
Maka sampailah saya pada akhir uraian ini, yaitu bahwa kita bersyukur kepada Allah karena kita telah menjadi bangsa merdeka, mempunyai negara merdeka dan berdaulat dan telah kita pancangkan lima dasar atau Pancasila sebagai filsafatnya. Dasarnya yang pertama adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Tuhan itu ialah Allah. Maka doktrin-doktrin yang disampaikan oleh Muhammad sebagai utusan Allah itu hendaklah oleh bansa Indonesia yang beragama Islam, sebagai golongan mayoritas di negara ini, diamalkan, diamankan dan diresapkan sedalam-dalamnya pada kehidupan kita. Caranya ialah dengan iman dan amal saleh menurut ajaran Allah. Karena Allah yang ditulis di Mukaddimah UUD 1945 itu bukan Allah yang lain, tetapi Allah yang kita sembah sekurangnya lima waktu sehari semalam itu.
La ilaha illahllah. Qul huwallahu ada; Katakanlah: “Allah itu Esa!” Allahu akbar; Allah Yang Mahabesar, Mahaagung. Yang lain adalah kecil belaka dan makhluk belaka.
Maka apapun yang akan kita hadapi dalam negara kita ini, bahaya dari Timur maupun dari Barat, akan kita hadapi dengan doktrin Islam yang kita terima yaitu: “Kemerdekaan Jiwa dan Kemerdekaan Bertindak!”
Dengan demikian akan tegak terus Republik Indonesia yang berdasar Pancasila.
***
Kau tahu, dari mendengarkan ini dalam imajinasiku, aku seperti tahu:
1. Bukti kita telah menjadi sebaik-baiknya muslim adalah dengan menjadi warga negara yang baik.
2. Bukti kita telah menjadi sebaik-baiknya muslim adalah dengan mensyukuri hidup yang kita nikmati saat ini sebagai orang Indonesia.
3. Yang melindungi kita, hidup kita dan dakwah-dakwah kita bukan Pancasila, bukan pemerintah, bukan partai, bukan kelompok, bukan organisasi, bukan pemimpin-pemimpin kita, juga bukan diri kita sendiri (dengan segala ilmu dan iman yang kita aku-akui), melainkan ALLAH karena kita muslim yang beriman dan bertakwa dengan sebaik-baik takwa, yang takwa dengan ilmu.
Terima kasih, Buya. Terima kasih, Buya.

2 thoughts on “Hapsak Pancasila (Pidato Buya HAMKA tentang makna menjadi muslim di Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s