Hati-Hati dengan Kebutuhan-Kebutuhan Buatan

Ide tulisan ini sudah berdiam lama di kepalaku tiga bulan lamanya. Semoga aku dapat menyampaikannya dengan baik kali ini. Dari sebuah buku, aku menemukan perkataan Ar-Raghib al-Ashfahani tentang kebahagiaan:
 
Kebahagiaan itu ada dua, yaitu kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Duniawi mencakup usia panjang, kekayaan, dan kemuliaan, sedangkan ukhrawi mencakup kekekalan tanpa kepunahan, kekayaan tanpa kebutuhan, kemuliaan tanpa kehinaan, dan pengetahuan tanpa kebodohan.
 
Tulisan kali ini tidak akan berisi penjelasan tentang seluruh perkataan tersebut. Pertama aku tidak tahu dan kedua, aku tidak kenal Ar-Raghib ini siapa. Dari perkataan itu aku sangat tertegun ketika membaca bagian “kekayaan tanpa kebutuhan”. Apakah kita dapat merasa bahagia dengan membatasi kebutuhan kita? Atau mungkin ini tentang merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak mencari-cari yang tidak ada?
 
Itu sulit dijelaskan menurut psikologi. Maksudku, bahkan salah satu teori psikologi yang paling terkenal adalah tentang kebutuhan-kebutuhan manusia dan bagaimana cara memenuhinya. Aku bertanya, apakah aku salah jika jadi berpikiran bahwa psikologi semacam ini berpotensi memiskinkan manusia, atau setidaknya membuat manusia merasa miskin? 
 
***
Ada banyak sekali konsep psikologi tentang kebutuhan. Ada yang menjelaskan macam-macam kebutuhan manusia, mana kebutuhan yang lebih baik daripada yang lain, mana yang harus terlebih dahulu dicapai sebelum yang lain, bagaimana pengaruhnya terhadap kepuasan hidup dan well-being (kesejahteraan psikologis), bagaimana ia menjadi stres dan sumber ketidakbahagiaan, dan sebagainya. 
 
Teori-teori tersebut berusaha mencari cara agar kebutuhan manusia terpenuhi karena prinsipnya adalah “terpenuhinya kebutuhan meredakan ketegangan psikologis, artinya terpenuhinya kebutuhan menghilangkan penderitaan manusia dan mendatangkan kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan”. Namun, apakah kenyataan mengiyakan prinsip tersebut? Apakah ada kepuasan atas suatu pencapaian yang tidak menimbulkan harapan untuk dicapainya kepuasan yang lebih besar lagi? Dengan banyak kasus orang-orang yang jatuh, terpuruk, sementara asanya terbang semakin tinggi, bagaimana menjelaskannya?
Maka aku simpulkan bahwa pertama, terpenuhinya kebutuhan hanyalah meredakan ketegangan psikologis secara sementara, sesuai dengan sifat kebutuhan di alam dunia. Ia adalah kesenangan yang sementara (QS Al Mu’min 40: 39). Dengan demikian, menumpuk hal-hal yang sementara ini dalam hidup sungguh merugikan.
Kedua, terpenuhinya kebutuhan yang kemudian malah mendatangkan kerusakan, penderitaan dan ketidakbahagiaan bagi manusia mengindikasikan bahwa pemenuhan kebutuhan tersebut hanyalah diturutinya hawa nafsu, sekalipun itu dibalut dengan tujuan atau cita-cita hidup yang luar biasa.
Ketiga, ketika nafsu berbicara banyak, maka akal dibungkam sehingga jiwa sulit untuk memutuskan mana kebutuhan yang penting dan perlu dipenuhi dengan baik, mana yang hanya hiasan. Mana kebutuhan yang betul-betul, mana kebutuhan yang buatan belaka. Kebutuhan-kebutuhan buatan ini yang tidak ada habisnya, terus-menerus membuat manusia merasa kurang dan miskin.
***
Aku merasa ada yang salah dengan teori motivasi dalam psikologi ketika misi yang dibawanya “hanyalah” mendorong manusia untuk mencapai tempat tertinggi. Sebagai orang beriman, kita sadari bersama bahwa kita perlu peka dalam mencermati dorongan-dorongan dalam diri. Dengan demikian, bukankah ada kebutuhan-kebutuhan yang seharusnya, memang, tidak perlu dipenuhi karena tidak berguna dan/atau merugikan? 
 
Dari sini, aku semakin paham mengapa kita sebaiknya hidup dengan zuhud. Kupikir, prinsip pemenuhan kebutuhan dalam Islam adalah pengendalian diri untuk tidak memperturutkan nafsu, tidak mendengarkan sebagian bisikan kebutuhan, dan mengarahkannya pada tujuan ukhrawi. Seperti dalam QS Yusuf: 53, kita tentu mengharapkan nafsu dan dorongan mencapai kebutuhan yang dirahmati Allah.
 
Aku sadar ada yang cacat dalam teori motivasi dalam psikologi. Bagaimana tidak? Jika dicermati, konsep tentang apa yang menjadi kebutuhan adalah produk pikir manusia. Konsep tentang “kebutuhan yang tercapai berarti baik sedangkan tidak tercapai berarti buruk” adalah produk pikir manusia. Konsep tentang “jika kebutuhan dan harapan tercapai berarti sukses dan jika tidak berarti gagal” adalah juga produk pikir manusia. Apakah manusia adalah makhluk yang mengenal hakikat kebutuhan dan dorongan dalam dirinya?
Kita, orang beriman, tidak bisa memutuskan dengan cara begitu. Kita mendengarkan firman-firman Allah, Allah Menciptakan manusia dengan fitrah kemanusiaannya dan Allah menghendaki kita mengendalikan nafsu, di mana salah satu maknanya yang kupahami adalah membatasi diri terhadap kebutuhan-kebutuhan yang tidak dibutuhkan dan dibuat-buat semata.
 
Kini aku menganggap kebutuhan (need) itu hanyalah “hawa nafsu” yang diistilahkan secara ilmiah. Semoga kita tidak menjadi orang yang menuhankan kebutuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s