Hikmah dalam “Islam Fundamentalis dan Fundamentalis Lainnya” Roger Geraudy

Ini adalah buku karya Roger Garaudy yang baru selesai kubaca. Karya ini hampir berusia 20 tahun, tetapi ide di dalamnya masih cukup relevan untuk direnungkan. Sebagian isinya memang kontroversial dan sebagian dijadikan bahan dukungan bagi ide dan pikiran-pikiran liberal atas agama bagi orang yang akalnya terbang ke mana-mana. Namun, bagiku tidak demikian. Buku ini memiliki hikmah tersendiri dan sangat mengena.
***
Kaitannya dengan Islam, kesimpulan pertamaku adalah yang salah bukan “kembali pada yang fundamen Islam”-nya, melainkan pengaruh “kembali” itu pada sebagian orang-orang yang meyakininya, yang ternyata negatif .”
Menurut Garaudy, fundamentalisme adalah suatu pandangan yang ditegakkan atas keyakinan, baik bersifat agama, politik ataupun budaya, yang dianut oleh pendiri yang menanamkan ajaran-ajarannya di masa lalu dalam sejarah. Dengan begitu, penganutnya yakin bahwa ia memiliki kebenaran mutlak dan oleh karena itu kebenaran tersebut harus diberlakukan. (h. 1)
Apa konsekuensi ketika setiap kelompok punya kebenaran mutlaknya sendiri-sendiri? Bisa dipikirkan sendiri kemungkinan betapa rigid, jumud dan statisnya ia. Khusus pada fundamentalisme Islam, sepanjang Islam adalah agama yang haq dan memang selamanya ia akan demikian, bersikap dan berperilaku fundamental bukanlah masalah, tidak seperti yang dialami Kristen dan Barat. “Kembali pada fundamen Islam”, itulah tuntutan beriman dan bertakwa secara benar, artinya pula bahwa di dalamnya ada penyucian jiwa dan pengendalian nafsu yang sebenar-benarnya. 
Namun, hambatannya adalah hal positif yang diupayakan tersebut dapat tercemar penyakit hati, berupa sifat sombong dan berlebih-lebihan. Penyakit individu berkembang menjadi penyakit kolektif. Maka, fundamentalisme atau “kembali pada dasar” malah memunculkan individu-individu yang berkarakter negatif dengan sikap absolut, eksklusif, fanatis, ekstrem, dan agresif. (h. vi)
Perlu diketahui bahwa:
Absolutisme: sikap yang menganggap ajaran sendiri yang paling benar dan semua yang di luar itu adalah salah. Ini cermin kesombongan intelektual.
Eksklusifisme: sikap menutup diri dari pergaulan (karena pengaruh absolutisme). Ini adalah kesombongan sosial.
Fanatisme: tidak mau menerima kebenaran dari pihak lain (sementara manusia diciptakan sebagai makhluk yang dapat salah). Ini cermin kesombongan emosional.
Agresifisme: sikap mengupayakan penyebaran dan penegakkan kebenaran dengan cara kekerasan atau pemaksaan. Ini cermin berlebih-lebihan dalam tindakan fisik.
 
Semua itu berbuah keekstreman, di mana orang bisa tidak lagi berbuat adil karena “ilusi” kebenaran mutlaknya mendistorsi persepsi terhadap realita dan menghukum secara kaku banyak orang, terutama mereka yang berada di luar kelompok. 
 
Sikap-sikap negatif semacam inilah kesalahannya. Kesalahan inilah yang membuat Islam dimusuhi akibat adanya dampak negatif dan nyata yang ditimbulkan oleh sikap-sikap tersebut. (Secara global, dampak negatif bagi dunia tidak sepenuhnya karena Islam, karena fundamentalisme lain di dunia, seperti fundamentalisme sekularis atau fundamentalisme nasionalis juga menghasilkan sikap dan dampak serupa).
***
Kesimpulan keduaku adalah perubahan adalah kepastian, perbedaan adalah konsekuensinya, sehingga penyesuaian diri yang tidak melampaui batas adalah keharusan jika tidak ingin terlindas zaman.
 
Ketika kita berupaya “kembali pada fundamen Islam”, meneladani generasi dan tradisi terdahulu adalah baik, tetapi yang perlu diantisipasi adalah ketidak(/belum?)mampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan zaman karena terlalu terpaku pada masa lalu.  Hal tersebut mengakibatkan dihasilkan aturan-aturan dan keputusan terhadap umat yang tidak sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan kondisi yang sebenarnya di abad ini.
 
Ada peristiwa dan konteks yang tidak sama antara masa lalu, masa kini, dan, kelak,masa depan. Ada realita yang perlu dipersepsi secara tepat, tidak ilusional, bahwa dunia telah menjadi sedemikian kompleksnya sehingga “solusi terhadap problema mana pun tidak bisa dilakukan dengan bertolak dari komunitas secara parsial atau sepihak dan menopangkan diri pada keyakinan-keyakinan yang statis.” (h. 2)
 
Lanjut dikatakan oleh Garaudy sebagai penutup sekaligus sebagai jawaban atas mengapa fundamentalisme dapat mengancam:
 
Dewasa ini, saat manusia punya peluang untuk menggali kuburnya sendiri, maka hanya dua pilihan yang dihadapkan di depan kita: saling menghancurkan atau melakukan dialog.
 
…tidak mungkin melakukan solusi terhadap problema manapun secara parsial, mengingat kesalingterkaitan hubungan yang ada sekarang ini. Itulah sebabnya, maka fundamentalisme keagamaan maupun politis, yang mengklaim diri sebagai pemilik kebenaran universal untuk penyelesaian semua problema dan kemudian menetapkannya, menjadi ancaman yang paling berbahaya.
Dialog dimaksudkan untuk menemukan nilai kebenaran mutlak milik bersama yang… merupakan satu-satunya alternatif yang memungkinkan kita membebaskan diri dari kehancuran, dari rimba-rimba individualisme dan nasionalisme, dan dari sekterianisme teologis maupun kelompok.” (h. 116)
Hematku, jika suatu masalah adalah masalah bersama (dialami oleh banyak orang, kelompok, umat, atau generasi dengan karakternya yang berbeda), maka masalah tersebut tidak dapat diselesaikan secara sepihak, dengan satu sudut pandang, satu metode, satu keyakinan, atau apapun yang hanya satu pihak itu. Kebenaran dari Allah memang hanya satu, tapi persepsi dan pemahaman manusia akan itu sungguh berbeda-beda. Ini tentu memunculkan beragam cara baik dan benar penyelesaian masalah. Perbedaan-perbedaan itu indah dan, jika dilihat baik-baik, sesungguhnya mereka saling mengoreksi kesalahan, melengkapi kekurangan, dan menyempurnakan upaya manusia.
 
***
Kesimpulan ketigaku adalah ketika penyesuaian diri yang tidak melampaui batas seperti yang ditegaskan dalam agama adalah prioritas penting, maka umat butuh belajar dan berilmu (baik ilmu agama maupun dunia, ilmu tentang diri sendiri maupun orang lain, ilmu tentang masa lalu, sekarang, dan mendatang).
Ilmu yang benar mengarahkan konsep berpikir dan berperilaku yang juga benar, terutama dalam hal menyesuaikan diri, terutama pula untuk tidak menuruti kehendak nafsu. Ilmu ini tidak hanya berisi pengetahuan untuk kepentingan manusia dunia, tetapi juga pengetahuan untuk mencapai hati dan jiwa yang tenang.
 
Apakah teman-teman tahu apa yang dapat dilakukan oleh hati yang tenang?
Ada banyak, namun dalam konteks menghadapi masalah yang kompleks, pengaruh tersebut berupa: pikiran yang jernih dan kesediaan mendengarkan dan membuka dialog untuk memecahkan masalah, mengakui kesalahan dan kebenaran milik orang lain, menerima evaluasi bahkan kritik, membuka diri terhadap hal-hal baru, menyelesaikan masalah tanpa memperuncing perbedaan, menerima keberadaan orang lain secara terbuka, membimbing tanpa mencela, dan setidaknya memandang orang lain tanpa memicingkan mata tanda tak suka.
***
 
Sebagai penutup, apakah teman-teman juga bertanya hal yang sama tentang fundamentalisme ini? Ketika salah satu sebab perang manusia adalah fundamentalisme, wajar jika ditanyakan, “Apa sisi jelek fundamentalisme (Islam)?” Ketika pengalaman membaca menyajikan jawaban terbaik dan sementara, untuk saat ini, aku bersyukur dan menanti pengetahuan-pengetahuan selanjutnya. Alhamdulillah…
Fundamentalisme Islam (atau “kembali pada fundamen Islam”? Susah menemukan istilah yang tepat ^^a) bukanlah fundamentalisme yang seperti diyakini atau dialami Kristen dan Barat. Ia “hanyalah” label lantaran, mungkin ketidaksukaan atau rasa terancam, yang ditempelkan pada diri muslim yang ingin kembali pada Islam (namun, ia bisa sungguh dilabelkan!, mengacu pada penjelasan tentang sikap dan dampak negatif).
Mungkin, fundamentalisme Islam, bagiku secara pribadi, adalah istilah yang tidak diperlukan (atau tidak ada?!). Kembali kepada fundamen Islam adalah kembali kepada Islam secara lurus. Titik. Islam punya aturan demi kemaslahatan. Kita dikehendaki agar dalam ber-Islam kita tidak melupakan pelajaran dari orang-orang terdahulu, memegang tradisi ke-Islam-an yang ada secara proporsional, tidak mengabaikan masa depan, dan berorientasi pada perbaikan-kemajuan pribadi, sosial, dan lingkungan.
Itulah hikmah yang aku dapat. Umm… cukup psikologis (tentu saja, karena yang membaca dan menulis ini adalah orang yang belajar psikologi) dan… idealistis, karena harapan adanya dunia yang lebih baik memang tidak dapat dimusnahkan. Aku menginginkannya, ingin mewujudkannya bersama banyak orang lain. Namun, kepikiran juga bahwa sudah takdirnya manusia saling menghancurkan begini. Sungguh ujian…
Aku mungkin tidak tahu di mana salah atau kekuranganku dalam mengkonsep ini. Aku hanya berusaha mencerna permasalahan yang tengah pelik. Mungkin juga ini hanyalah pengalaman pribadiku dengan sebuah buku tua. Mohon koreksi dan masukannya selalu, jika berkenan… Terima kasih😀 Semangat semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s