“Manusia dan Agama” dan Masa Depan Psikologi

Membaca buku ini membuatku berpikir tentang masa depan psikologi. Masa depan psikologi dan Islam, tepatnya. Buku ini berjudul “Perspektif Al Quran tentang Manusia dan Agama”, karya Murtadha Muthahhari. Ya, beliau adalah tokoh syiah dan aku sangat bersyukur bisa ber”temu” dengannya. Beliau manusia abad lalu, meninggal beberapa hari setelah Revolusi Iran karena dibunuh.
Aku tak mengenal dia, tetapi bergetar mengetahui sejarah hidupnya dapat dilukiskan dalam tiga kalimat: Ia lahir. Ia berjihad. Ia syahid. Jihad apa yang dia lakukan? Ya, ini sangat menggugah: berjihad dengan “tinta ulama”, begitulah istilahnya. Bagiku, aku seperti menemukan sosok manusia yang “sempurna” dalam arti dia ulama sekaligus ilmuwan (dua kata yang sebenarnya artinya sama, hanya berbeda konotasi). Ia menguasai ilmu agama juga ilmu dunia.
Terkait dengan karyanya ini, setelah membacanya, beberapa pertanyaan dalam hidupku terjawab.  Sebagian sangat psikologis, salah satunya adalah tentang manusia, agama dan psikologi.
***
Aku baru tahu bahwa ungkapan “agama itu candu” dari lisan seorang dosenku dalam kuliah Sejarah Aliran Psikologi. Itu kata-kata Freud, tokoh psikoanalisa. Umm… aku tak peduli dan memandang itu sebagai pengetahuan biasa. Maksudku, Freud akan berkata begini dan banyak orang lain akan berkata begitu. Ini hanyalah kumpulan teori tentang manusia. Aku cukup tahu dan menjawab dengan benar jika ditanya waktu ujian. Bagiku sendiri, agama memang tidak demikian, tetapi “ini hanya teori”, “ini hanya psikologi“, lalu apa masalahnya?
Apakah pertentangan ini bukan masalah? Masalah. Bahkan ini masalah yang sangat besar. Pertarungan di tataran filsafati memuncak sampai di kehidupan nyata, terutama di lapangan psikologi dan praktiknya menghasilkan lebih banyak “orang sakit”. Setelah kupikirkan, semua masalah ini bermula dari satu hal yaitu: kesalahan dalam mengenal apakah manusia itu. Bukannya manusia tidak dikenal, tetapi ia dikenal dengan jalan yang salah sehingga pengetahuan tentangnya tidaklah tepat.
Apakah manusia itu hewan? Makhluk yang jahat atau baik? Apakah manusia punya free will atas diri dan kehidupannya? Ataukah dia semata-mata dibentuk oleh lingkungannya? Apakah manusia ada karena kebetulan? Jika tidak, lalu mengapa manusia ada? Seberapa muliakah manusia? Apa yang membedakan manusia dengan tumbuhan atau hewan? Lalu, mengapa psikologi itu ada? Mengapa manusia harus dimengerti?
Itulah sebagian pertanyaan besar dan mendasar yang seharusnya dijawab sebelum mahasiswa psikologi tenggelam dalam psikologi. Tetapi, itu tidak pernah dibahas di dalam kelas. Ketika agama (Islam) mampu membantu kita memahami jawaban atas semua pertanyaan itu, tidak pernah dibahas di kelas: “Maka, apakah agama bagi manusia dan psikologi?
Mereka hampir berkata agama itu tak ada guna, hanya budaya dan adat manusia, hanya sumber norma bagi kehidupan. Hampir saja berkata seperti itu: “Agama sesuatu yang tergantikan.” Ketika itu semua kini hampir tak dikatakan lagi, “Kapankah psikologi akan kembali dihiasi oleh indahnya agama, terkhusus Islam?” Agama adalah kebutuhan manusia yang paling fitri. Agama adalah sarana bagi pencapaian kebutuhan-kebutuhan manusia yang lain. Tak ada masa akhir bagi agama. (h. 41) Lalu, mengapa psikologi “memeranginya”? Psikologi yang demikian yang tewas paling pertama, kusimpulkan.
Pada titik ini, aku seperti melihat sisi destruktif psikologi jika ia adalah ilmu pengetahuan yang tak berpengetahuan, tak berpengetahuan tentang manusia dan jiwanya, dan tak beriman. Kita memang tidak akan mencapai kesempurnaan dalam memahami diri manusia kita sendiri. Namun, dengan mendekat pada kalam Allah (Al Quran), kita akan menjadi lebih tahu, lebih tercerahkan, daripada mereka yang tidak.
Pada titik ini, aku seperti melihat sebagian psikologi berubah menjadi sampah, yaitu psikologi yang malah membuat manusia jauh dari dirinya yang sebenarnya, membuat manusia salah memperlakukan dirinya sendiri dan manusia lain, salah dalam menghadapi masa depannya.
Pada titik ini pula, aku seperti dapat melihat ada banyak orang “normal” yang sebenarnya sakit jiwanya, maka sakit perilakunya. Mereka berlalu-lalang di jalan-jalan, di televisi, di koran, di mana-mana… juga yang terlihat di cermin ketika aku berkaca.
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.
QS Al Isra’: 36

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s