Melacak Kekafiran dalam Berpikir

Ini topik sulit. Jika ada yang lebih paham, tolong bantu aku.
***
“Melacak Kekafiran dalam Berpikir” adalah judul sebuah buku. Tipis, tetapi isinya berat dan setelah dipikir-pikir, tak banyak yang aku mengerti. Isinya singkat, hanya terdiri atas beberapa hal yang harus diwaspadai dalam berpikir agar sebagai orang yang beriman, cara berpikir dan pemikiran kita tidak menjurus kepada kekafiran, yaitu:
Pertama, tidak mengakui kemutlakan (meyakini relativisme), menganggap semua hal adalah relatif (hanya bermakna jika ada hubungannya dengan hal lain), dapat dibandingkan, cara berpikir “it depends on…“, “ini pendapat, pendapatku; pendapatmu, pendapatmu“.
Pada intinya, yang mutlak itu ada sehingga kita dapat tegas berkata sesuatu itu benar atau salah, ada atau tidak ada. Ada kebenaran yang datangnya dari Allah yang Maha Benar. Apakah kita menutup mata atau membuka mata, jika sunatullah berkata A, maka akan A sepanjang masa, sekalipun pendapat manusia berbeda-beda. Karena itu, ketika menghadapi suatu masalah, kita harus mendudukkan masalah tersebut di atas aturan yang mutlak-universal ini, bukan mengikuti selera atau kehendak pribadi.
***
Kedua, menjadikan perilaku zaman sebagai ukuran.
Zaman bukanlah sesuatu kekuatan yang dapat membentuk dirinya sendiri, ia hanyalah ukuran waktu kehidupan manusia. Yang dapat mengisi baik atau buruknya zaman adalah manusia yang hidup pada masa itu, bukan zaman yang menciptakan aturan. Maka dari itu, zaman tidak dapat dijadikan tolok ukur untuk menetapkan salah benarnya tindakan manusia.
Jika manusianya baik, zaman akan baik, jika manusianya buruk, zaman akan buruk. Adalah bodoh jika manusia mengikuti perubahan zaman (yang buruk) dan tidak mau mengikuti kebenaran yang sudah jelas. Menyesuaikan diri dengan zaman tidak selamanya baik jika karenanya kita mengabaikan pedoman kehidupan yang Diturunkan oleh Allah, Penguasa segala zaman.
Selain itu, meskipun zamannya berganti, manusia tidak akan berganti fitrah dan wataknya. Pada hakikatnya, perilaku manusia yang tidak menaati aturan Allah pada suatu masa bukanlah merupakan sebagai tuntutan perubahan zaman, melainkan penyelewengan manusia pada suatu zaman dari syariat Allah.
***
Ketiga, menempatkan manusia sebagai penguasa alam (padahal manusia seharusnya tunduk pada penguasa alam yang sebenarnya, yaitu Allah).
Keempat, sikap keilmuan yang menyampingkan adanya Pencipta, mengingkari ruhani manusia, dan menyamakan manusia dengan hewan.
Kelima, menjadikan asumsi sebagai akidah masa depan, sehingga mengabaikan faktor “X” yang bernama Kemahakuasaan Allah. Terlalu mengandalkan kecemerlangan pemikiran dan analisa, dan tidak bertawakal.
Keenam, budaya “kilowatt” alias materialistik, menilai derajat manusia dengan ukuran-ukuran material, duniawi, seperti seberapa banyak harta bendanya, seberapa tinggi jabatan, kekuasaannya atau tingkat pendidikannya, seberapa cantik atau tampannya ia. Harga diri manusia jatuh karena tolok ukur semacam itu, padahal yang paling mulia sesungguhnya adalah orang yang bertakwa.
Ketujuh, pola pikir personifikasi (“alam semesta berkuasa dan berkehendak tanpa Allah). Hal ini mengarahkan pada pemikiran sekular “jangan bawa-bawa agama dalam sains” dan “jangan bawa-bawa sains dalam agama karena agama dan Tuhan tidak ilmiah”.
Kedelapan, positivisme, kebenaran adalah yang harus dapat diindera, gejalanya dapat diamati, dan jelas hubungan kausalitasnya (padahal, ada lebih banyak hal yang manusia tidak tahu karena tidak dapat diindera, tidak teramati, hubungan kausalitasnya begitu gaib).
Kesembilan, ideologi emansipasi (yang membuat penganutnya mengingkari dan ingin lepas dari ketetapan Allah atas manusia, ketentuan agama, kodrat, dan tradisi yang selama ini telah berjalan).
Kesepuluh, berprinsip pragmatisme, melihat sesuatu hal dari segi kegunaan dan kepentingan orang yang bersangkutan. Dampaknya, hilangnya rasa tanggung jawab atas kebersamaan hidup di dunia karena hanya memikirkan keselamatan, keuntungan, atau kepentingan pribadi/kelompok.
***
Aku tidak begitu tahu seberapa benar isi buku ini, tetapi patut direnungkan. Terkait dengan ide “kafir” di sini, aku masih berpikir-pikir. Ini masalah yang tidak main-main. Orang disebut kafir karena menunjukkan perilaku-perilaku kafir, tidak beriman, dan menentang kebenaran yang sudah jelas sehingga terhalang dari petunjuk. Maka, berpikir itu dapat bernilai kafir jika menggiring kita pada meragukan, mempertanyakan atau menolak kebenaran yang sudah jelas dalam agama. Apakah itu berpikir sempit atau berpikir bebas (liberal?), semuanya bisa menggiring kita pada kekafiran.
*Kita bisa berbicara benar dan salah, jelas dan tidak jelas di sini karena sepakat punya pedoman kebenaran yang mutlak benarnya, yaitu Al Quran.
Secara psikologis, perilaku tidak akan terjadi tanpa ada latar belakang kejiwaan (salah satunya aktivitas berpikir) di situ. Akal manusia bisa berbuat sesuatu yang salah, bukan? Berpikir dengan bahan berpikir (data/informasi/pengetahuan sebelumnya) yang salah atau kurang lengkap dan berpikir dengan logika yang cacat, adalah sumber masalah. Data/informasi/pengetahuan sebelumnya yang salah, logika yang salah, dan cara yang salah, bagaimana kesimpulannya bisa benar? Jika kesimpulannya salah, perilaku akan cenderung mengikuti itu.
Namun, ada pula kondisi di mana bahan dan cara berpikir sudah benar, tetapi perilaku yang dihasilkan tetap salah. Ada banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya faktor eksternal seperti adanya tekanan sosial untuk berbuat salah, tetapi yang paling parah adalah diturutinya hawa nafsu dan niat-niat yang buruk. Kalau begini ceritanya, akan sulit untuk berpikir dan berkesimpulan yang adil. Banyak orang yang membenci yang benar dan berat melakukan yang benar karena kasus yang seperti ini.
 Petunjuk hanya Milik Allah. Semoga Allah mencerahkan pikiran kita.
?
***
Mendesahlah…
 
Akal memang penuh misteri
gerik pikirnya tak terdefinisi
semoga ia seperti burung yang terbang, tetapi tak lupa pulang
mungkin ia terlena, semoga tak lupa kembali terjaga
 
untunglah, yang benar itu tidak ruwet.

2 thoughts on “Melacak Kekafiran dalam Berpikir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s