Membeli Pengalaman vs Membeli Pelajaran

Lama-lama, bisa-bisa, “pengalaman” menjadi komoditas perdagangan. Itu ide yang buruk. Kecuali jika tiba saatnya orang mulai bunuh-bunuhan demi mendapatkan pengalaman, maka itu ide yang lebih buruk lagi.
Kecenderungan macam ini mungkin tidak dialami semua orang, tetapi ada. Perhatikan saja ketika orang mulai buru-buru ikut acara ini-acara itu guna mengumpulkan sertifikat atau memenuhi kebutuhan tertentu terkait urusan sertifikasi, syarat lomba, melamar pekerjaan, dan sebagainya. Mereka berburu “masa lalu”, sesuatu yang seharusnya bisa dicapai dari dulu tanpa terpaksa atau dipaksa, ketika mulai dirasa betapa berharganya suatu pengalaman sebagai pemulus pencapaian impian, sehingga rela dibayarkan ratusan ribu bahkan jutaan demi “pengalaman(-pengalaman)” itu.
Lalu, tentu kita pernah mendengar bahwa banyak orang ditanya tentang apa yang pernah dilakukannya, apa aktivitasnya semasa sekolah, kuliah, atau bekerja di tempat yang lama, di masanya yang lalu. Semua itu digali untuk mengetahui seberapa pantas kita menempati suatu karier atau posisi. Dari situ orang berpikir tentang pentingnya pernah melakukan sesuatu yang baik di masa lalu sebagai wujud suatu kemampuan. Namun, ada saja yang berpikir pendek bahwa lebih penting “bukti fisik pernah mengalami” daripada kemampuan itu sendiri.
Perubahan pola pikir ini sangat mahal harganya, ketika orang selanjutnya menyimpulkan bahwa yang hebat adalah yang bukti pengalamannya banyak dan dari sinilah terjadi pertentangan antara kebutuhan akan pengalaman untuk suatu pelajaran dan pencapaian kemampuan dengan pengalaman sebatas pengalaman itu sendiri (pernah mengalami) dan bukti-buktinya.
 
Dunia memang tengah menuntut banyak bukti untuk setiap kejadian atau kemampuan dan bukti memang semakin dibutuhkan di tengah keadaan di mana banyak orang semakin suka berbohong. Namun, jika kembali pada esensi diharapkannya suatu bukti, maka bukti adalah penguat bagi fakta. Bukti bahkan tidak akan pernah menjadi penguat, jika ia dapat dengan mudah menjadi barang yang dipalsukan. Jika begitu, maka bukti hanyalah bagian dari fakta bernama kebohongan.
Apakah pengalaman dan bukti yang semacam ini yang dicari, pengalaman yang palsu, sementara yang sesungguhnya dimaksud adalah ketegasan bahwa kita memang pernah mengalami sesuatu yang membuat kita pantas mengklaim suatu kedudukan? Satu hal yang perlu diingat untuk pengalaman yang sesungguhnya bahwa pengalaman tidak pernah lepas dari satu hal yang bernama “proses menjadi” dimana di dalamnya pasti ada proses belajar.
Jadi, apa bangganya diri kita atas kepemilikan tebalnya sertifikat atau setumpuk surat keterangan, tetapi kepala atau aspirasi kita tetap nol? Apa bangganya jika kita ditanya, “Mas, mbak, apa motivasinya ikut acara ini?” lalu dijawab, “Mau cari pengalaman, pengen tahu kayak apa sih…“? Atau, “Mau dapat sertifikatnya…“?
Mengapa kita tidak termasuk orang yang heran dan bertanya-tanya, “Sejak kapan status suatu kegiatan yang bertujuan memberikan ‘pelajaran berharga’ bagi khalayak diturunkan menjadi ‘penyedia pengalaman” atau bahkan “pendukung kebohongan’?
***
Ada banyak orang yang mencari pengalaman dalam hidupnya, tetapi sedikit sekali yang mampu belajar darinya. Ibaratnya, bukti pernah makan nasi mereka hanyalah piring-piring kotor, bukannya cerita betapa nikmatnya makan setelah lapar, susahnya mencari beras, dan proses memasaknya dengan segala prosedurnya.
Bagaimana bisa orang belajar dari pengalamannya, sementara ia belum menjadi orang yang mau mengambil pelajaran, berusaha mendapatkan hikmah?
Maka, buat apa ada pengalaman jika kita tidak merubah diri karenanya?
Ada sebagian ilmu yang membutuhkan pengorbanan harta untuk mendapatkannya. Namun, lebih dari itu, ada banyak sekali ilmu dan pengetahuan di alam semesta yang dengan sukarela menyapa kita, jika kita menghiasi diri dengan kemauan belajar.
Kupikir, sebaiknya kita tidak melecehkan kedudukan pengalaman dan ilmu yang dapat hadir bersamanya ketika ia disempatkan Allah datang ke kehidupan kita. Kita tidak tahu, ia akan membawa kita kepada apa. Juga, kita tidak tahu, ketika kita mengabaikannya, ia akan membawa kita kepada apa.
Pengalaman sesungguhnya adalah hidup itu sendiri. Orang yang mengabaikan pelajaran adalah orang yang mengabaikan kehidupannya. Menilai pengalaman baik hanya yang mendapatkan sertifikat, penghargaan, atau sekadar tahu? Itu melecehkan kemanusiaan.
PS: Hikmah dari QS Al A’raaf: 130-136, lalu ingat QS Al Muthaffifin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s