Nasihat kepada Sufi Kaya dan Sufi Miskin

Karena hari ini penuh stres, mari kita mendengarkan sebuah cerita sufistik.  :D
 
***
‘Ala’ bin Ziyad Al-Harithi dikenal sebagai salah seorang dari penduduk Bahsrah yang kaya raya. Ciri-cirinya mudah dikenali: rumah besar, berpakaian elok, dan berkendaraan mewah. Saudaranya ‘Ashim bin Ziyad Al-Harithi adalah sebaliknya, bahkan dia sering menyendiri semata-mata karena ingin mendekatkan diri pada Allah Swt.
Suatu hari, khalifah zamannya, Imam Ali bin Abi Thalib berkunjung ke Bashrah. ‘Ala’ yang juga terkenal sebagai salah seorang tokoh Bashrah meminta agar khalifah menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya. Pikirnya, seorang pemimpin sebesar khalifah yang menguasai hampir separuh dunia saat itu sangat layak untuk dijamu di rumahnya.
Setibanya di rumah ‘Ala’, sang khalifah memang merasa kagum sebab rumahnya sendiri di Madinah dan di Kufah tidak lebih dari sekadar rumah yang berkamar dua, persis seperti rumah rakyatnya yang paling miskin. Sang khalifah berkata kepada ‘Ala’, “Wahai ‘Ala’, apa yang dapat menguntungkanmu dengan rumah sebesar ini, padahal kau lebih butuh rumah yang lebih besar di akhirat kelak.”
‘Ala’ hanya diam. Dia tak mampu menjawab pertanyaan khalifah. Semula dia menduga bahwa dialah yang paling layak menerima dan menjamu khalifah di istananya yang megah dan mewah. Namun, ternyata sang khalifah bukan orang dunia. Baginya kekuasaan tidak lebih dari sekadar sebuah kendaraan yang dengannya dia dapat berbakti pada makhluk-makhluk Allah. Sang khalifah benar-benar tidak dikuasai dunia, meskipun menguasai dunia.
Perubahan wajah ‘Ala’ dapat ditangkap oleh sang khalifah. Dia tahu bahwa ‘Ala’ memperoleh kekayaannya bukan karena manipulasi harta negara. ‘Ala’ adalah salah seorang dari saudagar Bashrah yang sukses. Dengan kekayaannya sendiri, kemudian dia membangun rumahnya yang megah itu di sudut strategis kota Bashrah.
Melihat wajah ‘Ala’ berubah, khalifah Ali kemudian berkata, “Wahai ‘Ala’, engkau bisa jadikan rumah yang besar ini sebagai kendaraan yang akan mengantarmu pada rumah yang lebih besar di akhirat kelak.”
“Bagaimana caranya wahai Amirul Mu’minin?” tanya ‘Ala’ antusias.
“Kau buka rumah ini untuk para tamumu yang mempunyai hajat; ikat tali silaturahmi antara sesama kaum muslim; bela dan tampakkan hak-hak muslimin di dalam rumah ini; jadikan rumah ini sebagai tempat pemenuhan hajat saudara-saudaramu kaum muslim; dan jangan dibatasi hanya untuk kepentingan dan keserakahan dirimu semata-mata.”
“Wahai Amirul Mu’minin, aku punya seorang saudara. Namanya ‘Ashim. Dia telah mengubah total cara hidupnya. Dia sekarang hanya menyendiri di tempat-tempat sunyi, berpakaian kumuh, meninggalkan pekerjaannya bahkan menelantarkan kehidupan keluarganya. Katanya, itu dilakukan semata-mata karena ingin mendekatkan diri kepada Allah. Apakah ini benar?”
“Panggil ‘Ashim menghadapku,” titah Khalifah.
Setelah ‘Ashim menghadap, Ali berkata kepadanya dengan kata-kata yang agak keras, “Wahai ‘Ashim, seorang yang telah memusuhi dirinya sendiri! Sungguh setan telah memperdayakan akalmu. Mengapa kau telantarkan anak istrimu dengan alasan ingin mendekatkan diri pada Allah. Apakah kau menduga bahwa Allah yang telah menciptakan alam semesta dan semua nikmat-nikmat-Nya ini tidak akan rela apabila kau menggunakannya tepat pada tempatnya? Demi Allah, tidak begitu caranya, wahai ‘Ashim.”
“Wahai Amirul Mu’minin, kulakukan semua ini semata-mata karena ingin meniru kezuhudan dan kesederhanaanmu. Engkau hidup susah, aku pun hidup susah; engkau berpakaian kasar, aku pun berpakaian kasar; engkau makan sekeping roti, aku pun makan cukup dengan sekeping roti. Engkau adalah anutanku, wahai Amirul Mu’minin. Aku ingin meniti jalan hidup ini persis seperti yang kautiti. Bukankah ini baik?”
“Engkau keliru, wahai ‘Ashim,” jawab Ali. “Aku berbeda denganmu. Aku memegang kekuasaan dan khalifah kaum muslim, tetapi engkau tidak. Di bahuku erpikul sebuah amanat mahabesar, sementara engkau tidak. Aku memakai jubah kepemimpinan, sementara engkau adalah rakyat yang kupimpin. Tanggung jawab seorang pemimpin di sisi Allah adalah teramat besar. Dia mewajibkan setiap pemimpin untuk berlaku adil kepada setiap rakyatnya. Seorang pemimpin sudah selayaknya hidup seperti rakyatnya yang paling sederhana agar penderitaan mereka terasa terobati. Oleh karena itu, hai ‘Ashim, di bahuku ada kewajiban yang harus kutunaikan, dan di bahumu ada kewajiban yang harus kautunaikan juga.”
 
***
Mari mengambil pelajaran dari kisah di atas. Mari kita hidup zuhud sekaligus amanah terhadap tanggung jawab masing-masing di dunia.
 

2 thoughts on “Nasihat kepada Sufi Kaya dan Sufi Miskin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s