Psikologi dalam “Jiwa dan Ruh”-nya Fakhruddin ar Razi

Alhamdulillah bisa bertemu buku ini. Terima kasih perpus masjid kampus. Cuma, aku jadi heran, mengapa buku macam ini malah tidak kutemukan di perpus Fakultas Psikologi? Ya Allah, semoga ada rezeki untuk membeli buku ini. Aku ingin menghadiahi buku ini untuk teman-teman, khususnya di kampus. Aamiin 
Bagiku secara pribadi, buku ini memberikan makna yang sangat besari. Jika dikatakan psikologi yang ada saat ini tidak berjiwa, itu benar adanya dalam artian psikologi yang sekarang ini hanya mencerdaskan akal, tetapi tidak mencerahkan hati bahkan meredupkannya. Ia tidak membuatku mengenali jiwa manusiaku sendiri sehingga aku harus mencari-cari jalan lain untuk menemukan jawaban atas banyak pertanyaan. Ketika jalan yang kutemukan adalah Islam, maka Psikologi Islami menjadi sesuatu yang akan aku “kejar” sampai dapat.
***
Buku yang berjudul “Jiwa dan Ruh: Tinjauan Filosofis dalam Perspektif Islam” merupakan karya yang sudah tua sekali. Ditulis oleh Fakhruddin ar Razi berabad-abad yang lalu dengan judul asli “Kitab an-Nafs war-Ruh wa Syarh Quwahuma” (Book of the Soul and the Spirit and their Faculties). Buku ini sempat diam begitu saja sebagai manuskrip di Perpustakaan Bodleian, Oxford dan baru tahun 1968 diterbitkan  dalam bahasa Inggris dengan judul “Imam Razi’s Ilm al-Akhlaq” oleh Institut Riset Islam.
 
Bahasan yang diangkat dalam buku ini cukup berat. Topik utamanya adalah tentang ruh dan jiwa manusia, namun tema-tema kecil di dalamnya begitu beragam, semisal tentang kedudukan manusia di hadapan makhluk-makhluk Allah, hakikat eksistensi manusia, jiwa manusia dan sifat dasarnya yang mendambakan kesempurnaan dan kenikmatan. Dari situ aku menyadari sesuatu yang ironis dari kesempurnaan yang diharapkan ini karena pada dasarnya ia juga merupakan manifestasi dari kebutuhan yang besar untuk menghindari penderitaan dan kerugian.
Kebutuhan esensial manusia, ingin kenikmatan dan menjauhi penderitaan, memang bukan hal yang baru dalam psikologi, namun ide tentang bagaimana ia mempengaruhi kehidupan manusia, terutama secara ruhaniah, membuatku ternganga. Tahukah kita semua tentang apa yang sesungguhnya kita kejar dalam kehidupan? Ketika sebagian orang berubah menjadi seperti hewan, menyerahkan diri mereka pada nafsu yang bejat, aku sungguh-sungguh merasa jijik. Kita tidak pernah mendapatkan kesempurnaan dalam nikmat dan keterhindaran dari penderitaan. Semakin besar manusia menginginkan sesuatu, semakin besar rasa membutuhkannya, semakin besar penderitaan manusia karena ketidakmampuannya memenuhi itu, semakin tidak bahagia manusia. Seketika otakku dipenuhi berbagai peristiwa dan fenomena… Aku sungguh hidup dalam suatu kegilaan, bersama banyak orang gila, di zaman yang gila.
Aku bertanya-tanya, “Mengapa kita tak boleh menjadi hewan?” dan secara spesifik ketika aku teringat apa firman Allah, “…sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu…”, aku bertanya, “Mengapa kita harus mensucikan jiwa, yang artinya itu menjadi hamba yang taat dengan sebenar-benarnya, dengan tidak menjadikan diri hamba dari nafsu?
Fakhruddin ar Razi hanya menjawab, “Karena kita adalah manusia.” Dari situ aku belajar tentang bagaimanakah kesempurnaan penciptaan manusia itu. Di situ ada tabiat, fitrah, yang tidak semua orang paham kecuali mereka yang berusaha memahami tentang manusia.
Adalah sebuah fakta bahwa meskipun manusia tersusun atas syahwat, nafsu amarah dan kebiasaan-kebiasaan tercela, kalbunya penuh dengan cahaya ma’rifat, mulutnya tidak pernah kelu selalu menyebut kalimat tauhid, matanya dijadikan sarana untuk melihat tanda-tanda Allah, sedang telinganya menjadi sebuah instrumen untuk mendengar Firman-Nya. (h. 55)
Lalu aku bertanya tentang kalbu lantaran kebodohanku tentang substansi jiwa manusia. Dan, “Kalbu adalah raja. Akal seperti seorang penasihat yang jujur. Syahwat ibarat hamba pelayan pendusta yang membawa makanan, sedangkan amarah (emosi) layaknya seorang polisi…” Maka, tahukah siapa yang bersama siapa, yang pantas menundukkan siapa dalam kerajaan jiwa manusia?
***
Mungkin isi buku ini bukan hal yang baru bagi sebagian teman-teman yang telah belajar banyak tentang agama, tetapi mungkin makna psikologis yang dalam hanya dapat dirasakan oleh sedikit orang.
Dari membaca buku ini, aku menjadi semakin besar mengharapkan akan hadirnya psikologi di tengah-tengah kita yang benar-benar menempatkan manusia pada tempatnya, tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah dari kedudukannya sebagai manusia, terutama di hadapan Allah; bukan hanya karena kapasitasnya sebagai ilmu tentang perilaku dan kecenderungan manusia yang berguna bagi kehidupan duniawi, tetapi juga yang mengajarkan manusia tentang bagaimana menemukan dan memelihara jiwa mereka untuk sampai pada tujuan hidup di dunia yang lebih kekal. Karena akhirat sungguh ada dan agama tidak berbicara tentang kebahagiaan secara sia-sia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s