QS An Nas dan Setan Bernama Egoisme

Hanya pengalamanku bersama QS An Nas. Semoga bermanfaat😀
***
QS An Nas sudah familiar sekali dalam kehidupan kita, bukan? Dalam shalat, di pagi atau sore hari, sebelum tidur… paling tidak bisa sekali kita membaca surat tersebut. Surat tersebut pendek dan cukup mudah diingat artinya, yaitu tentang perintah memohon perlindungan kepada Allah dari setan berwujud jin dan manusia.
Ketika membaca lagi makna surat tersebut baik-baik, tiba-tiba aku bergidik. Teringat waktu kecil, aku sempat takut membaca surat tersebut karena ada kata “jin” di situ (aku dulu sangat penakut). Tapi sekarang, ada yang lebih aku takutkan lagi, yaitu ketika kedewasaan dan perkembangan pemahaman membuatku cukup mampu memahami makna setan manusia di situ.
 
Apakah ini tentang orang lain di luar diri kita? Tidak. Setan manusia itu di dalam diri kita sendiri, hidup dalam pemikiran, perasaan, dan segala tindak-tanduk kita. Ia turut makan, minum, tidur, dan bermimpi bersama kita. Ia bersama kita ketika kita menangis dan tertawa, ketika kita membuat rencana sampai mengevaluasi diri, dan ketika kita menghadapi diri kita sendiri maupun ketika menghadapi orang lain. Ia bersama kita ketika kita mendengarkan kebenaran dan peringatan atas kesalahan yang kita buat. Ia membuat kita memiliki identitas dan memperjuangkan eksistensi. 
 
Siapa dia kalau bukan diri kita sendiri? Namun, lebih tepatnya, mungkin, inilah nama psikologi baginya: EGO.
 
Menurut teori psikoanalisa, ego adalah salah satu oknum pembentuk kepribadian kita. Ia nyaris tersembunyi begitu dalam dan tak diketahui. Ia tak disadari ketika ia beraksi, tetapi jelas terlihat perannya ketika kita akhirnya bereaksi karenanya. Ia dikatakan memiliki peran sebagai pengatur, yaitu pengatur segala keinginan kita dan menyesuaikannya dengan tuntutan sosial, aturan, nilai, norma, moral, dan agama. Ialah yang memikirkan cara bagaimana kita bisa sampai pada pemenuhan kebutuhan.
 
Aku bisa membayangkan hubungan antara keinginan-ego-aturan seperti kebebasan-keseimbangan-kekakuan. Ego ini baik sebelum ia sakit dan berubah menjadi suatu istilah yang kita sangat kenal, egoisme. Ego seperti hakim yang berusaha memberikan keputusan terbaik, tetapi ada kalanya ia mudah terjungkal sehingga menghukum penjahat begitu ringan atau begitu kerasnya. 
 
Sekarang, pindahkan analogi itu ke dalam diri sendiri dan renungkanlah. Kira-kira, apa yang membuatnya mudah terjungkal? 
 
Jawab: Dorongan naluriah untuk mencapai well-being, kesejahteraan, keselamatan, keamanan, kepentingan, self-importance (rasa diri penting), pujian… Lebih jauh lagi bisa mencakup perasaan merasa diri ingin benar, lebih tahu, lebih mampu… Dan karena itu kita bisa jadi berpikiran orang lain yang tidak sama dengan kita tidak benar, tidak tahu, tidak mampu… 
 
Karena QS An Nas, aku berpikir lagi. Ketika aku punya tendensi macam yang kusebutkan di atas, mungkin, sepertinya benar, dan memang benar, aku sedang memelihara setan dalam egoku. Setan bernama egoismeku. Merasa salah dan merasa benar sama-sama dapat menimbulkan masalah ketika kedua hal tersebut membuatku melihat dunia hanya dengan perspektif yang kusuka, egoku. Ketika ini terjadi, egoku kehilangan fungsi pengaturnya, ia sakit. Ia bisa memenangkan keinginan liarku atau sebaliknya, memenangkan aturan tanpa toleransi, “hanya” karena dorongan dan naluri yang sangat manusiawi itu.
 
Aku membayangkan akibatnya, dan benar tampak jelas terjadi ketika aku bisa begitu defensif mempertahankan diri dan sakit hati, mendengar orang lain menasihati, memberikan saran, atau mengkritik. “You don’t know a thing about me!” kataku dalam hati. “Aku yang paling mengenal diriku, kau tidak tahu masalahku. Diamlah.” 
 
Aku bisa dengan mudah menilai orang salah hanya karena merasa aku tahu sesuatu itu benar. Apakah jika aku semakin “tahu”, maka semakin mudah pula aku menyalahkan orang dan berusaha menindaknya? Aku tidak tahu seberapa besar bibit pemusuhan, perselisihan, dan ketidaktenangan akan tersebar dalam kehidupanku. Apakah aku akan masih mau mendengar? Atau aku akan sibuk berargumentasi mempertahankan keyakinan?
 
Jika begitu, akankah mudah bagiku untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan, serta berterima kasih di hadapan orang lain? Akankah aku ikhlas menerima hukuman yang mungkin pantas kuterima? Akankah ada kesempatan bagiku untuk berbuat kebaikan sementara egoismeku masih membara dan dikipasi oleh bisikan-bisikan di luar diriku, jika ada?
 
Lalu, seorang teman mengingatkanku. 
 
Ingatlah Allah. Ketika kau sadar Kemahabesaran-Nya, semoga kau tahu bahwa kau sendiri tidak tahu seberapa baik kamu mengenal dirimu sendiri. Ego itu tertunduk karena merasa hina, makanya ia mengekang dirinya sendiri, mengendalikan diri agar tidak liar. Kau tidak menghinakan diri di hadapan siapa-siapa, tetapi Allah. Ketika Dia yang paling tahu apa yang benar, bagaimana kamu bisa berpikir kamu tidak berbuat salah, merasa salah, atau berpikiran salah? Kau tidak sedang berubah menjadi makhluk yang arogan, bukan?
 
Ya, begitulah. Karena QS An Nas, aku tidak bisa lagi dengan mudah berkata, “Aku sudah baik dan baik-baik saja.” Hati-hati itu menjadi harus dan perjuangan ini sepanjang hidup. Allah, Lindungilah kami dari setan manusia dalam diri kami sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s