Tujuan untuk Sebuah Masyarakat

Ide ini masih sangat mentah, cuma berasal dari beberapa pemikiran sederhana. Yang satu bersumber dari sebuah teori psikologi, yang satu lagi dari beberapa kalimat dari sebuah buku. Teorinya apa? Regulasi diri (self-regulation), spesifik pada aspek pertamanya, yaitu penetapan tujuan, dan bagaimana ia mempengaruhi keseluruhan dinamika perilaku manusia. Bukunya? Kitab Al Quran😀, spesifik pada kisah kaum Fir’aun yang dihancurkan karena tidak mau mengevaluasi diri dan mengambil pelajaran (QS Al A’raaf: 130-136).
 
***
Pada hal tertentu, analogi atau generalisasi atas sesuatu yang sederhana dapat dilakukan untuk membantu kita memahami dinamika sesuatu yang lebih besar. Pada hal tertentu, tentu saja, tidak semuanya, bisa. Nah, dari sini cerita akan berawal. 
 
Entah bagaimana (inikah nature-nya?), manusia adalah makhluk yang berorientasi pada pencapaian tujuan. Hampir tidak ada di antara kita yang tidak bergerak tanpa adanya tujuan atau sesuatu yang ingin dicapai. Ada banyak sekali keinginan yang menjadi tujuan kita. Apakah itu kemudian disebut dengan harapan, impian, cita-cita, ambisi, atau target, semua itu adalah cermin adanya sebuah tujuan. 
 
Apakah tujuan ini penting? Ya, penting, karena tujuan ini mewarnai target dan rencana kita dalam mencapainya. Ia mempengaruhi motivasi. Pada tahap performansi, tujuan ini mempengaruhi perilaku-perilaku. Ia mempengaruhi cara kita memandang dan menghadapi kegagalan dan kesalahan, apakah positif atau negatif. Maka tidak salah, jika beberapa masalah manusia terkait “tidak semangat hidup” atau “hidup tanpa makna” dapat dikembalikan pada pertanyaan mendasar, “Tujuan hidupmu apa, sih?” 
 
Kemudian, jika ada jawaban yang luar biasa tetapi tidak tercermin pada perilaku mencapai tujuan yang juga luar biasa, maka masalahnya ada di keyakinan dirinya (self-belief). Banyak tujuan yang manis di mulut, tetapi pahit di hati. Ketidaksinkronan ini adalah sumber stres yang, seringnya, luar biasa, menciptakan orang-orang yang tidak bisa berkata “tidak” atau “ya” secara tegas, terombang-ambing dalam gelombang perubahan, bingung memutuskan apa, dan akhirnya ikut-ikutan.
 
Banyak orang menciptakan bagi dirinya sendiri tujuan hidup yang normatif-konformis tanpa paham apa maknanya bagi dirinya sendiri. Ketidaktahuan tentang apa yang penting ini menyebabkan ketiadaan kemauan dan daya juang (will power) untuk mencapai tujuan itu. Buktinya, banyak orang yang suka dan ingin sesuatu karena tahu itu baik dan benar, tetapi tidak mau bergerak untuk itu. Kalaupun mau bergerak, itu karena dipaksa atau terpaksa.
 
Yang di atas itu adalah dinamika yang terjadi dalam diri satu individu. Sekarang, perluas dinamika semacam itu dalam diri banyak orang dan semakin banyak orang. 
 
Secara pribadi, berdasarkan perluasan cara pandang tersebut, aku jadi bertanya, “Mengapa orang yang beriman itu ‘kuat’?” Itu karena, Alhamdulillah, ada orang beriman lainnya yang hadir dan keduanya saling menguatkan lantaran tujuan hidup dunia-akhirat yang sama. Tujuan yang sama itu saling menguatkan, sedangkan tujuan yang berbeda itu dapat saling menjatuhkan. Kita tidak bisa punya tujuan jadi orang baik dan orang jahat sekaligus, bukan?
 
Mengapa masyarakat Islam seharusnya juga bisa kuat seperti interaksi kelompok kecil itu? Kupikir, dinamika raksasa ini juga tidak jauh beda dari dinamika dalam kelompok atau dalam diri individu, yakni butuh tujuan. Lebih spesifik lagi, kelanggengan sistem raksasa tidak akan bermula dari salah urus, terutama, sistem terkecilnya (individu manusia). Pendekatan komunal untuk membangun masyarakat tidak akan berhasil dengan mengabaikan pendekatan individu, yaitu meluruskan tujuan masing-masing orang sesuai dengan tujuan utama masyarakat Islam.
 
Selanjutnya benar, bahwa berdasarkan kesamaan tujuan yang dimiliki masing-masing dari kita, kita boleh bicara strategi dan rencana politik, pendidikan, ekonomi, budaya, militer atau apapun sesuai latar belakang kita. Namun, ketika berbicara di tataran masyarakat yang besar, pencapaian tujuan tidak akan tercapai dengan mengkotak-kotakkan pengetahuan dan latar belakang, apalagi latar belakang kelompok. Kita tidak bisa berpikir dengan cara yang egoistik dalam situasi dan kondisi itu, apalagi menuruti pemikiran pribadi maupun kelompok. 
 
Mengapa? Karena akan ada banyak orang yang sama-sama berbicara tentang hal yang baik dan benar tentang tujuan dan cara (masing-masing), tetapi karena saling beradu jadi tidak maslahah untuk kepentingan bersama. Hal semacam itu hanya menimbulkan disfungsi dalam pengorganisasian, debat kusir dalam dialog, dan orang-orang yang hanya berwacana, berubah-ubah dalam rencana, dan panik dalam “bencana”. Masing-masing dari kita bisa saja merasa bermanfaat, sementara kenyataannya menimbulkan kerugian.
Tidakkah itu mengerikan? Kita jadi tidak bisa melihat dengan baik, sementara mekanisme evaluasi akan selalu berjalan atas kehendak Allah. Jika hasilnya bisa berupa pujian atau kecaman, lalu apa yang akan kita lakukan? Bangga diri? Marah, mengamuk, saling mendiamkan, “untukmu pendapatmu, untukku pendapatku, setuju silakan, tidak setuju silakan”, balas mencari-cari kesalahan dan kelemahan? Lalu, di mana tujuan yang sudah dimiliki itu berada?
 
Keberadaan tujuan dalam masyarakat itu mengkonsensus orang-orang yang meyakininya, sama seperti bagaimana iman bisa menyatukan berjuta manusia betapa pun berbedanya ia. Kau tahu, Islam itu begitu indahnya, ia memberikan kita tujuan hidup yang jelas sebagai manusia. Maka, seharusnya adalah mudah untuk berjabat tangan, bukan? 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s