“What If I Have No Question?”

Secara pribadi, aku menyadari bahwa “kesenyapan” di kelas atau ruang kuliah ketika guru atau dosen menyediakan kesempatan diskusi adalah suatu penyimpangan besar pada diri siswa atau mahasiswa. Ketiadaan pertanyaan benar-benar mematikan iklim akademik yang sehat. Jadi, salah siapa ini?
Bagiku, ketika manusia sudah mencapai perkembangan akal/kognitifnya secara cukup sempurna sehingga tahu yang baik dan buruk, benar dan salah, maka bukan saatnya lagi dia diajari caranya belajar. Aku lebih suka menyalahkan siswa dan mahasiswanya.
*Teman-teman juga?
***
Ketiadaan pertanyaan bukan sesuatu yang terjadi tanpa sebab. Ini sunatullah, ada akibat pasti ada sebab. Secara umum, mari kita bagi sebab-sebab tersebut ke dalam dua faktor, yaitu faktor eksternal dan internal diri orang yang belajar.
Faktor eksternal tidak perlu dipikirkan panjang-panjang. Sebab di luar diri yang membuat orang tidak bertanya hanyalah tekanan agar tidak bertanya, seperti kalau kita diancam, “Hei, jangan bertanya. Awas kalau tanya macam-macam!” Adakah situasi macam itu saat ini, sementara hak asasi didengungkan di mana-mana? Kurasa tidak.  Jika hal itu terjadi, itu sudah termasuk deviant behavior yang perlu ditindak secara tegas.
Faktor internal lah yang jadi fokus kita sekarang. Ini cukup merepotkan karena benar, hampir seluruh permasalahan manusia dapat dikembalikan ke dalam diri manusia itu sendiri. Misalnya, rendahnya partisipasi di ruang kelas, ditandai dengan sepinya kelas dari tanya-jawab atau diskusi dapat murni disebabkan oleh masalah individu dan sifatnya psikologis. Sebab ini dapat pula menjadi penjelas bagi kepasifan serupa di lingkup yang lebih luas: di keluarga, di masyarakat, di negara, di dunia, atau dalam kehidupan kita sebagai manusia.
Jika ditanya, “Mengapa tidak bertanya?“, mungkin ada dari kita ada yang akan ngeles, membela diri, “Bagaimana jika aku tidak punya pertanyaan?” Katakanlah “memang tidak punya pertanyaan” karena “memang sudah memahami” pelajarannya. Namun, dapatkan pemahaman terjadi tanpa diawali terlebih dahulu oleh ketidakpahaman? Ini poinnya.
 
Banyak orang tidak ingin repot mencari tahu bahwa dirinya tidak tahu. Ini gangguan perkembangan metakognisi, istilah psikologisnya, dan sama persis seperti kata Al Ghazali bahwa “orang terparah adalah orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu”. Sebelum kita sadar kebodohan kita, kita tidak akan pernah sungguh-sungguh bertanya dan tidak tahu caranya belajar. Bertanyalah, “Mengapa orang bisa menjadi seperti ini?”  Jawabnya, ia memang tidak berpikir, dengan kritis.
 
Berpikir kritis adalah tentang menghadirkan diri kita dalam proses belajar, proses hidup dan menjadi. Menjadi kritis pada dasarnya adalah senantiasa tidak mudah percaya dan tidak begitu saja menelan informasi atau isu sebelum mengujinya dengan kondisi-kondisi tertentu. Karena kebutuhan itu, maka kita jadi mencari tahu, “Bagaimana bisa begitu?“, “Apa maksudnya?“, “Mengapa bisa begitu?“, “Mengapa tidak begini?“, “Bagaimana kalau…, maka?“, dan sebagainya. 
 
Kita memelihara akal dengan pertanyaan-pertanyaan dasar: apa, mengapa, dan bagaimana. Dalam jawaban, yang kita butuhkan tidak hanya jawaban an sich, tetapi juga klarifikasi, penjelasan di balik penjelasan, argumentasi, dan asosiasinya dengan peristiwa lain. Itu lah yang membuat kita yakin, tidak hanya tentang jalan apa kita harus melangkah, tetapi juga bagaimana caranya melangkah, mengapa harus melangkah, dan untuk menuju apa.
 
Lalu, “Mengapa kita sulit berpikir kritis?” Bayangkan suatu kejadian ketika kita digiring menuju api atau jurang. Akankah kita tidak mencari penjelasan mengapa kita harus menuju ke sana? Akankah kita tidak mencari cara selamat jika tahu di depan kita ada bahaya? Demikian pula halnya dengan hidup. Akankah kita tidak mencari tahu sementara masa depan menyajikan berjuta ketidakpastian dan pengetahuan adalah salah satu sarana untuk memiliki cukup rasa pasti?
Jika begitu kejadiannya, bagaimana bisa kita tidak kritis? Ada sesuatu yang penting yang ingin kita pelihara dalam hidup kita dan kita tidak ingin yang penting itu menghilang. Kita semua punya yang penting ini, hanya saja tidak semua orang menyadarinya. Menyadari yang penting ini mencegah kita dari melakukan hal-hal yang tidak penting. Kita mungkin tidak akan terus-menerus mengkritisi materi kuliah, tetapi mengkritisi hidup dan perilaku kita? How could I have no question?
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s