1001 Malam

Aku suka kisah yang satu ini.
***
Sejak tiga atau empat hari yang lalu aku teringat dua buah buku. Aneh, tiba-tiba saja teringat. Mungkin ini buku pertama yang kumiliki. Cerita terpanjang dan karya sastra pertama yang pernah kubaca. Masing-masing dibeli oleh bapak pada tanggal 3 Desember 1997 dan 21 Januari 1998 di Bandung. Di bawah salah satu catatan tanggalnya tertulis “untuk Aftina”.  So, buku ini spesial. Aku menulis ini sambil senyum-senyum.😀
 
Judulnya “Kisah 1001 Malam”. Diterjemahkan oleh Hussain Haddawy dari Edisi Bulaq (1835) yang didasarkan atas Naskah Mesir yang Baru. Diterbitkan tahun 1997 oleh penerbit Mizan. 
Buku ini ada empat jilid, tapi aku cuma punya yang ketiga dan keempat (Ya Allah, semoga suatu saat bisa bertemu buku pertama dan keduanya😀 ). Waktu kutanya, mana buku pertama dan kedua, kenapa tidak beli? Jawabnya hanya, “bukan bacaan anak-anak”. Lho, nggak ngerti. Sekarang setelah kubaca lagi pendahuluannya, barulah tahu kalau buku pertama dan kedua itu terlalu sastra, sedangkan ketiga dan keempatnya lebih imajinatif. Buku ketiga berisi cerita Petualangan Sindbad dan Aladdin, sedangkan buku keempat berisi cerita Petualangan Alibaba dan Qamaruzzaman.
 
Kedua buku ini buku cerita, tapi mungkin memang agak sulit dicerna anak-anak. Kalimatnya panjang-panjang dan serius (menurutku), tidak ada gambarnya, banyak syairnya, metafora, dan beberapa seputar dunia orang dewasa, cinta dan penderitaannya. Tapi, bagaimana pun juga, bagus ceritanya. Aku baru sekali atau dua kali membaca kedua buku ini, tetapi ceritanya sangat berkesan. Setidaknya tahu cerita Sindbad, Alibaba, dan Aladdin yang sebenarnya. Banyak yang nggak tahu kan, kalau ternyata Aladdin itu setting-nya di China dan putrinya namanya Putri Badr al-Budur, bukan Jasmine?
 
Bagiku, buku ini tidak sekadar buku cerita, tetapi pintu bagi sebuah wawasan. Dahulu aku tak mengerti, sekarang aku tahu bahwa 1001 Malam adalah bagian dari peradaban Islam di masa lampau (1001 Malam adalah kumpulan cerita dan dongeng rakyat yang disusun pada Masa Keemasan Islam). Jika dikira setting yang melingkupinya hanya seputar dunia Arab, ternyata tidak. Dunia 1001 Malam sampai ke China. Dengan mempertimbangkan umurnya yang sudah beradab-abad, ceritanya tersebar luas sekali. 
 
Lebih dari itu, aku senang membaca cerita dimana nama Allah tersebar di mana-mana, bukan sekadar penghias cerita (untuk menarik perhatian masyarakat, misalnya). Cerita di mana orang beribadah, keberagamaannya, dan hubungannya dengan Tuhan diceritakan begitu natural sebagai bagian dari kehidupan orang itu; sehingga ketika seorang tokoh diceritakan bangun subuh, tidak lupa diceritakan bagaimana ia shalat sebelum melakukan aktivitas yang lain, ketika ia bersedih atau tidak berdaya, yang diceritakan pertama kali adalah ingatnya pada Tuhan. 1001 Malam berisi hal-hal semacam itu. 
 
Puisi pertama di cerita pertama di buku ketiga pun seperti itu. Ketika Sindbad si portir miskin kelelahan dan duduk di depan kediaman Sindbad si pelaut yang kaya (adegan yang mengawali kisah petualangan Sindbad), dia membaca syair:
 
Berapa banyak orang bekerja keras
tanpa istirahat,
Dan berapa banyak yang menikmati hidup
dalam keteduhan!
Keletihanku bertambah setiap hari;
Sungguh aneh, betapa beratnya bebab
yang kutanggung!
Yang lain-lain hidup makmur
dan dalam kemudahan,
Tanpa pernah mengenal beban berat
yang kutanggung,
Berada di tengah kemewahan
sepanjang hidup mereka,
Menikmati makanan dan minuman
dan kesenangan dan kemasyhuran.
Namun semua makhluk Tuhan berasal dari jenis yang sama;
Jiwaku sama dengan jiwa orang ini dan jiwanya sama dengan jiwaku,
Tapi kami begitu berbeda, yang satu dari yang lain,
Seperti cuka berbeda dari anggur.
Tapi, wahai Tuhan, aku tidak meragukan jalan-Mu,
Sebab Engkau bijaksana dan adil,
dan seluruh penilaian adalah
milik-Mu semata. (h. 32-33)
 
Aku merenungkan dunia dalam cerita itu dan berpikir, mungkin seperti itulah kehidupan dalam dunia Islam kala itu, begitulah (seharusnya) cerita tentang kehidupan orang Islam dan mungkin seperti itu pula lah kehidupan penulis dan penutur ceritanya. Ada moral di situ. 
 
Aku tidak merasa menjadi orang lain ketika membaca dan mengimajinasikannya. Dan ketika aku merasa kagum, aku tidak sedang mengagumi sesuatu yang lain.

5 thoughts on “1001 Malam

  1. Jual Buku Hikayat 1001 Malam 1 set/Jilid 1 sd 4
    Harga normal Rp. 625.000,-
    Harga diskon Rp. 350.000,-
    (langsung dari penerbit)
    Gratis ongkir wilayah DKI Jakarta,
    Luar DKI Jakarta sesuai tarif ekpedisi.
    Pembayaran bisa COD untuk DKI Jakarta
    Untuk cover buku dpt dilihat di http://www.qisthipress.com
    Keterangan lebih lanjut : Qisthi Press Jl. Melur Blok Z No 7 Duren Sawit Telp. 021 8610159 Cp. Sdr Sapto Hp.0818150579 (sms only)
    PENAWARAN BERLAKU SAMPAI STOK HABIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s