“Aku Merubah Dunia” Menanam Budi Sebagai Inspirator

*Lho, aku nggak ikut kompetisinya, malah asyik nulis di sini…

Original post: http://aftina.blogspot.com/2009/03/aku-merubah-dunia-menanam-budi-sebagai.html

Sabtu, 07 Maret 2009

Suatu hari saya bercakap-cakap dengan seorang teman. Dia bercerita tentang suatu kompetisi menulis yang bertemakan “Apa yang akan kamu lakukan untuk mengubah dunia?”

Jadi, apa yang akan kita lakukan?

Ada satu cerita yang sangat berkesan dalam hidup saya, kisah tentang seseorang yang bercita-cita mengubah dunia. Pada masa mudanya, seseorang bertekad mengubah dunia. Ia berusaha dan menunggu selama 10 tahun untuk melihat apa yang terjadi, tetapi setelah 10 tahun ternyata tidak terjadi apa-apa. Untuk 10 tahun berikutnya, ia bertekad mengubah negaranya, tetapi perubahan tetap tidak terjadi. Untuk 10 tahun berikutnya lagi, ia memperkecil targetnya dengan bertekad mengubah masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya, tetapi juga tidak terjadi perubahan. Untuk 10 tahun berikutnya lagi, ia semakin memperkecil targetnya yaitu mengubah keluarganya dan ternyata juga tidak berhasil. Akhirnya ia sadar bahwa perubahan seharusnya dimulai dari diri sendiri. Untuk 10 tahunnya yang kesekian, ia memutuskan melakukan perubahan pada dirinya sendiri.

Petuah dari seseorang juga sangat membuat saya terkesan. Betapa perubahan itu harus: Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal yang sederhana, dan dilakukan saat ini. Hal ini membuat saya semakin meyakini sebuah peribahasa: Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Selama ini peribahasa tersebut hanya saya terapkan pada celengan dan tabungan saya di bank, tetapi belum untuk suatu budi pada dunia.

Budi pada dunia? Siapa sajakah orang yang menyadari hal ini?

Dunia bukankah semakin dipenuhi orang-orang yang hanya memikirkan keselamatan dan kesejahteraan dirinya sendiri? Berapa banyak orang yang masih berprinsip pada persaudaraan dan kemanusiaan bagi seluruh dunia? Berapa banyak orang yang menjadikan dirinya pemikir masalah-masalah dunia dan berbuat demi kebaikan dunia?

Ketika perang Palestina-Israel sedang panas-panasnya dan koran-koran dan berita di televisi gencar mengabarkannya, muncul opini-opini yang mulai miring karena mempertanyakan “Kenapa kita sibuk memikirkan Palestina? Negara sendiri saja sedang krisis dan butuh dipikirkan.” Apa yang terlintas di kepala saya saat itu adalah opini-opini yang seperti ini hanya akan membuat dunia membenci orang yang melontarkan opini itu. Kita memang direcoki masalah prioritas, tetapi prioritas yang mementingkan diri sendiri dan mengabaikan orang lain, bukan lagi rahasia, akan dicela. Terlalu sering kita berpikir bahwa memberi hanya pantas dilakukan oleh orang yang berpunya dan terlalu sering kita mengasosiasikan berpunya dengan memiliki harta. Kita memikirkan yang besar-besar dan melupakan yang sederhana, yang mudah sekali dapat kita lakukan.

Nabi Muhammad bersabda, “Senyummu pada saudaramu adalah sedekah.”

Siapakah manusia di dunia ini yang tidak mempunyai senyuman sebagai sedekah yang paling sederhana, yang dapat dilakukan oleh orang paling miskin sekalipun? Bahkan hanya dengan doa demi kebaikan dunia, kita telah berjasa pada dunia dengan cara yang sangat istimewa. Bukankah pertolongan itu diberikan sesuai dengan kesanggupan diri pemberi? Hanya saja mengetahui kesesuaian itu membutuhkan kejujuran diri masing-masing dan kerelaan untuk berbuat sesuai dengan kejujuran itu.

Beberapa bulan yang lalu saya pernah diliputi rasa menyesal. Telah menjadi kebiasaan saya untuk memberi kepada seorang nenek pengemis di jalan menuju kampus, tetapi pada suatu hari saya dihantui rasa tidak percaya pada nenek itu. Saya curiga pada si nenek kalau-kalau dia hanya pura-pura sebagai pengemis karena selama beberapa tahun saya mengamati dia sesekali saya menangkap perilaku si nenek yang mengundang rasa curiga. Akhirnya saya menghentikan pemberian saya dan beberapa hari berlalu sampai pada suatu hari si nenek tidak tampak lagi di tempatnya yang biasa. Rasa menyesal datang seketika karena saya tahu sepanjang hari yang saya lalui tidak banyak atau bahkan tidak ada orang yang dapat saya beri sebagian rezeki saya. Siapa yang akan saya beri?

Kesempatan untuk menanam budi pada dunia tidak datang sepanjang waktu, itu kesimpulan saya hari itu. Ada kalanya ketika kita tidak ingin, kesempatan datang. Ada kalanya pula ketika kita ingin, kesempatan tidak ada. Siapa pun yang membaca cerita ini mungkin akan berpikiran sama bahwa budi pada dunia janganlah ditunda-tunda. Syukur, nenek itu belum pergi untuk selamanya. Ia kembali muncul, tentu kali ini sudah saya anggap sebagai salah satu rekan hidup di dunia sekalipun dia tidak mengenal saya.

Banyak orang yang memiliki hobi membaca buku, tetapi tidak semuanya gemar membaca buku biografi tokoh-tokoh dunia. Mengapa sebagian orang menyukai buku jenis ini? Tidak dipungkiri, salah satu alasan mereka adalah mencari inspirasi bagi kehidupan mereka yang dipenuhi cita-cita. Apa yang kita rasakan ketika mengetahui kisah hidup mereka? Mungkin tidak semua orang merasakan hal yang sama, tetapi bagi saya muncul suatu kebanggaan, “Ternyata ada orang yang seperti itu…” Mereka menginspirasi, menguatkan kembali harapan yang lemah, menegaskan kembali keyakinan bahwa segala sesuatu bisa terjadi dengan perjuangan dan kerja keras.

Mereka yang menginspirasi tidak selalu orang-orang besar dan terkenal. Ada begitu banyak orang biasa, yang hidup sama sulitnya dengan kita, yang tidak kita kenal, tetapi yang menginspirasi.

Kembali pada sebuah cerita, pada Ramadhan dua tahun yang lalu ketika saya pulang kuliah di mana hari sudah menjelang malam. Adzan maghrib sudah berkumandang sebagai tanda berbuka puasa, tetapi di tangan saya tidak ada makanan dan minuman sepotong pun. Keadaan ini membuat saya memutuskan menunggu hingga sampai ke rumah. Tidak disangka, seorang ibu tiba-tiba menawari orang satu angkot penuh hidangan berbuka puasa yang dibungkus dalam plastik. Ia adalah ibu-ibu biasa yang berjualan di pasar. Yang membuat saya takjub adalah keadaannya yang begitu sederhana tidak membuatnya tidak memberi pada orang lain.

Bukankah kita membutuhkan orang-orang seperti ini sebagai penyemangat kita mengubah dunia dari hal yang sederhana dan yang kita lakukan saat ini tanpa ditunda-tunda. Tetapi apakah mereka yang menginspirasi harus selalu “orang lain” dan bukan diri kita? Kenapa diri kita tidak menjadi “mereka” untuk menginspirasi lebih banyak orang lagi?

Dalam suatu survey sederhana dalam suatu pengajian yang pernah saya ikuti pada masa SMA, pembicara pengajian itu bertanya siapa dari kita yang merasa dirinya belum memberi manfaat, biasa saja, atau sudah bermanfaat bagi orang lain. Hal aneh terjadi karena, bahkan anak Rohis sendiri, hampir seluruh orang merasa biasa saja atau belum memberi manfaat alias merugikan. Pilihan kedua adalah pilihan yang paling banyak karena mungkin dianggap sebagai jawaban yang netral dan saya, dalam hati, seolah-olah bisa mendengar suara mereka, “Jangan perlihatkan kebaikan dirimu, jangan membanggakan diri, jangan merasa sudah bermanfaat bagi orang lain, itu sombong…”.

Saya kesal dalam hati saat ini, karena tidak ada orang yang benar-benar siap menginspirasi orang lain, seolah-olah perintah Allah yang paling benar adalah sembunyikan kebaikan-kebaikanmu. Padahal di samping hal-hal yang disembunyikan, kita diperbolehkan menunjukkan kebaikan-kebaikan kita asal jangan sampai diri menjadi sombong, mengungkit-ungkit kebaikan sehingga melukai hati orang yang kita beri kebaikan. Kita diperintahkan untuk tidak sombong bukan berari takut pada sombong itu. Kalau kita takut pada rasa sombong, tidak ikhlas, dan sebagainya padahal mereka hanyalah macam dari perasaan yang dimiliki manusia, kapan kita akan benar-benar berjiwa seorang inspirator bagi orang lain karena kita tidak berani menelurkan suatu perilaku. Dunia membutuhkan inspirasi atau teladan perbuatan-perbuatan baik, terutama dari sosok-sosok yang tidak terbanyangkan kiprahnya bagi dunia karena ada stigma “tidak mungkin mereka bisa”.

Ketika kita ingin mengubah dunia dari diri kita sendiri terlebih dahulu, kita harus bervisi “berusaha menjadi inspirator kebaikan bagi orang lain”. Menjadi inspirator adalah motivasi hidup yang tidak dimiliki semua orang karena kebanyakan dari kita belum berani memposisikan diri sebagai teladan secara sadar. Kita masih sibuk berkutat pada urusan menjadi baik dan melupakan aspek keteladanan, padahal proses atau cara kita menjadi baik itu bisa menjadi inspirasi yang unik bagi orang lain yang menyaksikan bagaimana kita menjalani hidup.

Keengganan kita menjadi orang yang diteladani tampaknya terjadi seiring dengan semakin berkurangnya urgensi manusia sebagai makhluk sosial karena perubahan yang terjadi sehingga manusia semakin layak disebut makhluk berkepentingan. Manusia sebagai makhluk sosial hampir selalu dihubungkan dengan saling ketergantungan dalam memenuhi kebutuhan yang berujung pada permainan licik memenangkan kepentingan. Kebutuhan inspirasi, di mana di dalamnya ada hak memiliki inspirator dan kewajiban memberikan inspirasi, telah menjadi sesuatu yang dilupakan sebagai tugas moral kita sebagai manusia yang hidup bersama-sama di dunia dengan cita-cita hidup yang sama, yaitu kebahagiaan. Sebagaimana hukum ekonomi, apa yang akan terjadi jika terlalu banyak orang yang meminta, tetapi terlalu sedikit orang yang bisa memberi? Bukankah akan semakin banyak orang yang kebutuhannya tidak terpenuhi?

Ketika tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, ketika dunia semakin membutuhkan orang-orang yang bisa memberi, “Allah, Ridhailah kami menjadi inspirator yang mewarnai dunia-Mu yang indah ini.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s