“Aku Tidak Mau Mandi! Huaaaaaa!” T.T

Oct 2, ’11 10:18 AM

 

Ceritanya adalah sejak bulan kemarin rumah sebelah mulai dihuni. Tetangga baru. Sejak itu hidupku berubah (BTW, hidup itu memang dinamis… :D). Aku jadi belajar bahwa ada anak yang bisa menangis seperti itu dan ada ibu yang bisa marah-marah seperti itu gara-gara masalah tidak mau mandi pagi.
Seandainya aku awam, mungkin lebih enak rasanya karena rasa hati yang teriris-iris mendengar semua itu hanya dibuntuti dengan decak, “Ck ck ck.” Tapi, karena aku mahasiswa psikologi, tidak bisa tidak, aku memandang itu sebagai fenomena psikologi.
***
Dua Wajah Tangisan
 
Tangis adalah cara komunikasi pertama yang dikuasai manusia. Semua orang pada awalnya menangis sebagai suatu ekspresi yang jujur bahwa ada yang tidak enak yang dirasakan. Dengan menangis, ada pesan yang tersampaikan yang mungkin intinya, “Dengarkan dan tolong aku.” 
 
Empat tahun membantu ibu mengasuh adik sejak dia lahir, mau tidak mau jadi mendengarkan dan belajar tentang anak kecil yang menangis. Kita semua tahu ‘kan kalau tangisan anak itu beda nada, intonasi, volume, tempo, ekspresi, (dan sebagainya), beda sebab dan tujuannya. Tangis karena lapar, sakit, jatuh, takut, kesal… ditampilkan secara berbeda. Dari pengalaman itu, aku berkesimpulan bahwa pada dasarnya anak benar-benar menangis ketika benar-benar sakit atau merasa menderita. Ketika masalahnya selesai, tangisnya benar-benar berhenti.
Dari situ pula aku berkesimpulan bahwa ada tangis yang perlu dan tidak perlu, tangis yang wajar dan tidak wajar, tangis yang perlu dibiarkan agar menangis dan tangis yang tidak boleh dibiarkan atau dibiasakan. Sebagai contoh:
Tangis siasat “murahan”. Adik menangis karena komputer kumatikan, supaya dia tidak main game terus. Yang seperti ini kubiarkan, tak kupedulikan. Apa yang terjadi? Ha! Air mata buaya. Dia menangis cuma karena tidak pingin berhenti main game. Setelah itu menangisnya selesai.
Tangis distres. Adik menangis karena jatuh, yang sampai bibir, gusi dan dagunya berdarah. Bukannya men-cup cup cup, tapi dia kubawa keluar rumah, ke tempat yang lapang, dan kubilang, “Menangis yang kuat. Tidak apa-apa,” sambil kupeluk karena kupikir dia berhak menangis dan dia perlu menangis dengan nyaman. Tidak lama tangis dan sesenggukannya selesai, dan kami bisa ke dokter dengan tenang.
Kita sebagai orangtua, kakak/nenek atau kakak, mungkin perlu berpikir cepat ketika anak atau adik kecil kita menangis: Mengapa dan untuk apa dia menangis? Rasa sayang dan kasihan kita diperlukan atau tidak? Atau, apakah sebaiknya tak perlu dipedulikan? Menurutku, keputusan berdasarkan jawaban kita atas pertanyaan ini sangat penting. Anak itu belajar dari respon orangtua terhadap aksi yang dilakukannya. Kalau penilaian dan keputusan kita tepat, anak juga akan belajar menilai dan memutuskan apakah dia perlu menangis atau tidak ketika dia menghadapi masalah, ada atau tidak ada orangtua.
 
Dua Wajah Marah
 
Marah itu salah satu emosi yang cenderung negatif. Orang yang marah, dia cenderung merusak. Yang dirusak bisa bukan hanya barang, tetapi juga hati manusia. Walaupun demikian, sebagai orangtua atau kakak, kita perlu belajar bahwa ada marah yang diperlukan dan tidak diperlukan, yang wajar dan tidak wajar, dan yang perlu diungkapkan dan tidak boleh dibiasakan.
 
Marah. Anak yang menangis karena orangtua yang marah lantaran anak tersebut bermain api dan hampir membakar rumah? Kemarahan orangtua di sini bisa bernilai hukuman yang menjerakan sehingga anak akan belajar tentang pentingnya kehati-hatian.
 
Marah-marah. Tetapi, cerita akan berbeda jika kemarahan ini bersumber dari orangtua yang temperamental, mudah tersulut, dan whuss! Api kemarahannya besar. Di sini, bisa jadi anak menangis selain karena kesalahan yang dibuatnya, tetapi juga karena orangtuanya. Kesalahan sumber masalah bisa selesai dalam tempo waktu, tetapi temperamen manusia cenderung bertahan sepanjang masa. Manusia semacam ini adalah sumber distres yang potensial, sumber kesakitan psikis, yang membuat anak menangis secara tidak wajar karena dia terbiasa bersedih.
 
 
 
Kupikir, anak berhak untuk menangis, tetapi orangtua wajib menahan marah. Mungkin cara mencegah marah agak rumit karena emosi yang satu ini bagi sebagian orang cenderung otomatis. Yang bisa kusarankan adalah dengan belajar untuk memahami bahwa tidak ada kesalahan absolut yang dilakukan anak. 
 
Banyak kejadian dimana pada lahirnya anak memang terlihat melakukan hal-hal yang salah, seperti bermain kotor-kotor, memberantakkan rumah, atau tidak mau mandi, tetapi jika mau dilihat lagi ada hal baik. Hal baik itu mungkin tidak secara langsung terkait dengan bermain kotor, rumah yang berantakan atau tidak mau mandi, melainkan respon yang kita berikan.
 
Ketika anak bermain kotor yang parah, lalu dia pulang, bagaimana kalau kita menyambutnya dengan, “Wah kotor. Ayo habis ini kita main air!” Mandi maksudnya. “Eh lihat, tangannya berlumpur. Coba kita taruh di bawah matahari. Lihat, bisa kering, ya?” Bisa belajar IPA kan?
 
Atau, rumah berantakan, buku berserakan, “Wah, ini harus dibereskan kalau tidak bisa terbuang. Ayo kita bereskan sama-sama!” Belajar tentang kerja sama… meskipun pada akhirnya kontribusinya juga sedikit kerena dia yang jadi mandor, kita yang bekerja.
 
Sabar, perpikiran dingin dan menahan marah itu satu paket!
 
***
Laa taghdhob wa lakaljannah😀 Haha, ini mantra di rumah. Janganlah kamu marah, maka bagimu surga. Adikku menghafalkan itu di TK dan setiap kali orang di rumah marah atau marah-marah, dia merapalkannya, dan seketika kami tak jadi marah, malah tergelak tertawa.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s