Anak-anak Menjerit, Menangis, Takut Disuntik

Disuntik sih takut… memang sakit, tapi bagaimana lagi? Kalau pak dokter dan bu suster sudah datang dengan seragam warna coklatnya itu lalu bu guru sudah mulai bilang, “Ayo antre urut absen!” … Speechless… Gawat dong. Karena namaku diawali dengan huruf A…
Tapi yang seperti itu tidak pernah terjadi. Kelas biasa mulai gaduh duluan dan antrean berantakan. Jadi siapa yang berani dia maju duluan. Anak laki-laki yang sukanya gembar-gembor berani juga jadinya meringis-meringis mau nangis, bahkan ada yang lari tidak mau disuntik. Aku sih tidak mau bersikap memalukan. Kalau ada yang lari bersembunyi di bawah meja, itu bukan aku. Kalau ada yang sampai dikejar-kejar guru, itu bukan aku. Kalau ada yang nangisnya teriak-teriak, itu bukan aku.
Ah, mau di awal atau di akhir, pasti disuntik juga. Daripada kelamaan deg-degan, mending di awal saja. Mulai maju ke depan… Lihat ada termos berbentuk aneh berisi jarum-jarum dan spuit. Dan bau yang khas itu, kapas yang dibasahi alkohol, dan cairan bening yang mucrat dari jarum. Glek! Ada sensasi dingin waktu kepas itu diusap-usap di lengan.
 
Cerita di atas separuhnya fiktif. Aku sudah tidak begitu ingat kebanyakan pengalaman diimunisasi dengan disuntik. Sudah lama sekali pengalaman itu. Tapi hari ini pengalaman itu jadi teringat karena ada ramai-ramai di Posyandu dekat rumah. Hari ini adalah hari imunisasi. Haha…  anak kecil, anak kecil.😀
Waktu mata kuliah Psikologi Komunitas sekitar tiga tahun yang lalu, aku membuat tugas rancangan pemberdayaan komunitas dengan judul “Fun Immunization for Kids”. Tahu tidak, aku dapat nilai apa? C. Jadi gimana ya? Aku co-pas sebagian isi tugasku yang waktu itu saja. Meskipun ini tugas yang bernilai C, manfaatnya boleh disimpulkan sendiri.
***
Tujuan imunisasi adalah meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai macam penyakit yang dibawa oleh virus, bakteri, parasit atau jamur. Daya tahan tubuh yang baik akan mencegah penyakit tersebut berkembang dan mengganggu kesehatan. Tujuan ini sangat baik mengingat jutaan nyawa manusia berhasil diselamatkan karena adanya imunisasi.
Hanya saja bagi anak, yang mereka pahami adalah imunisasi dan suntikan vaksin yang mereka terima adalah pengalaman yang (sangat) tidak menyenangkan.
Imunisasi menggunakan jarum suntik wajar menimbulkan kecemasan pada anak terutama karena rasa sakitnya. Karena pengaruh usianya yang masih muda, anak memang kurang dapat menahan rasa sakit sehingga disuntik dapat menjadi stres cukup berat bagi mereka. Hal tersebut dapat kita lihat dari reaksi reaktif mereka terhadap suntikan, seperti berteriak, menjerit-jerit, menangis, menghindari dokter bahkan melarikan diri dan bersembunyi karena tidak mau disuntik.
Cara mengatasi pengalaman ini berbeda-beda antara anak yang satu dengan anak yang lain. Bagi anak yang merasa mereka dapat mengatasi rasa sakit yang ditimbulkan atau menanggap rasa sakitnya tidak begitu sakit, mereka dapat mengatasi rasa takut dan cemas mereka secara proaktif (dengan mencoba menenangkan diri atau membayangkan hal-hal menyenangkan untuk melupakan rasa sakit) atau merespon netral (dengan duduk dengan tenang, tidak ribut dan melaksanakan apa yang diinstruksikan pada mereka).
 
Namun, bagi anak yang tenggelam oleh rasa takut dan cemas karena tidak tahu bagaimana cara mengatasi pengalaman yang tidak menyenangkan ini, mereka akan menjadi reaktif. Anak yang reaktif tentu akan menyulitkan dokter, perawat atau guru yang bertanggung jawab dalam proses imunisasi.
Mereka yang tidak dapat mengatasi ketakutan dan kecemasan mereka dapat mengembangkan masalah psikologis yang tidak diinginkan, seperti fobia terhadap darah, luka, dan injeksi (Blood-Injury-Injection Phobia). Hambatan yang kemudian dihadapi jika masalah psikologis ini muncul adalah keengganan melakukan konsultasi kesehatan, mempengaruhi karier dan kehidupan keluarga.
Cemas pada prosedur kesehatan, seperti suntikan imunisasi, tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang sangat serius dan berbahaya. Kecemasan pada anak wajar terjadi dan normalnya akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Walaupun demikian, cemas menghadapi imunisasi adalah emosi yang tidak menyenangkan dan dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis anak. Maka, diperlukan usaha untuk membantu anak dalam mempersiapkan diri menghadapi imunisasi.😀
Informasi yang negatif dapat mengarahkan anak pada respon negatif, sedangkan informasi positif akan mengarahkan anak pada respon yang positif terhadap imunisasi.
 
 
Untuk membantu anak mengurangi kecemasannya, berikut ini beberapa saran bagi orangtua:
1. Bicaralah pada anak betapa pentingnya imunisasi. Jelaskan bahwa imunisasi dapat menjaga tubuh dari sakit dan imunisasi hanya dapat bekerja jika obat dimasukkan dengan jarum suntik.
2. Jujurlah mengenai apa yang akan anak rasakan ketika diimunisasi. Jangan mengatakan bahwa imunisasi sama sekali tidak sakit. Katakan imunisasi akan sakit, tetapi hanya sebentar.
3. Katakanlah bahwa petugas kesehatan nanti adalah orang yang baik dan tugas mereka menjaga agar anak-anak tetap sehat.
4. Katakan bahwa saat imunisasi nanti mereka akan ditemani oleh guru (jika memungkinkan, orangtua).
Imunisasi biasa dilakukan secara bergiliran. Jadi, anak akan menghabiskan waktu untuk menunggu. Membiarkan anak tidak melakukan apa-apa dan menghabiskan waktu dengan dirinya saja dapat meningkatkan kecemasan mereka.
 
Guru sebaiknya tidak hanya pasif menyaksikan proses imunisasi. Guru dapat berperan aktif.
 
1. Ajak anak untuk melakukan kegiatan bersama sembari menunggu, seperti mengobrolkan hal-hal yang tidak berhubungan dengan imunisasi, mendengarkan musik, menonton film, membaca buku, membuat kerajinan tangan sederhana, meniup balon, dan sebagainya. Strategi ini disebut distraksi atau kegiatan selingan.
2. Jika anak terlihat takut, duduklah di sebelahnya untuk menguatkannya.
3. Guru sebaiknya tetap menjaga ketenangan dalam ruangan. Jangan membiarkan anak menunda-nunda gilirannya untuk diimunisasi atau menghindari giliran dengan berkata ingin ke toilet. Pastikan anak sudah ke toilet jauh sebelumnya.
4. Ketika anak mendapatkan gilirannya untuk diimunisasi, ingatkan dia untuk mempraktikan strategi-strategi mengatasi cemas, seperti bernapas dalam, relaksasi otot, dan berpikiran positif.
5. Katakan pada anak jika mereka ingin menangis, mereka boleh menangis dan tak usah malu. Menangis lebih baik daripada menjerit-jerit atau menendang-nendang.
6. Berikan hadiah atau pujian bagi anak yang telah berhasil menjalani imunisasi.
7. Setelah imunisasi ajak anak untuk melakukan aktivitas menyenangan bersama untuk mempercepat pemulihan emosi ketika menjalani imunisasi.
Bagaimana menjadi orang dewasa yang oke?
 
Orang dewasa (guru dan orangtua) yang baik adalah yang dapat menjaga ketenangannya sendiri. Tenang adalah cara terbaik untuk mencegah anak dari merasa takut dan cemas. Anak menjadikan orang dewasa sebagai referensinya berperilaku. Ketika orangtua atau guru menunjukkan kecemasan, anak juga akan merasa cemas.
***
Sebagai penutup…
 
Mungkin tulisan ini hanya memberikan pengetahuan tambahan bagi kita semua. Tetapi lebih dari itu, aku ingin mengatakan bahwa untuk masalah yang sederhana, semacam takut disuntik, juga ada ilmunya. Mungkin bagi sebagian orang, mereka oke-oke saja dengan disuntik, tetapi sebagian yang lain tidak. Nah, kalau nanti di antara kita bertemu dengan orang yang tidak bisa oke-oke saja itu, semoga pengetahuan ini bermanfaat.
 

5 thoughts on “Anak-anak Menjerit, Menangis, Takut Disuntik

  1. Tapi sakit tau saya pernah disuntik dipantat pas dokternya ngusap-ngusapin kapas ke pantat rasanyaaa sampai cenut2 bangeeeet pas jarum suntiknya mau nusuk rasanya jadi pengen nangs cuuuuuuzzzzz nusuk deh kepantat sampai 2kali kanan sama kiri sampai sayaa teriak2 dan menangis sakit deh -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s