Anak-anak yang Dibesarkan Lingkungannya

Perjalanan pulang mengantar adik sekolah selalu terasa tenang. Mungkin ini pengaruh tinggal di daerah kampung. Pukul setengah delapan pagi atau lebih, tidak ada hiruk pikuk orang bergegas ke sekolah atau ke tempat kerja. Angkutan umum yang kunaiki berjalan lambat-lambat sehingga aku bisa lebih lama memperhatikan hal-hal yang ada di sekitarku: udara pagi yang sejuk, sinar matahari yang hangat, pepohonan yang hijau, dan langit biru yang jernih.
Bersyukur tinggal di tempat seperti ini, salah satunya karena lingkungan ini yang meskipun agak ketinggalan, kupikir cukup kondusif. Selalu ada kesempatan untuk menjelaskan itu gunung-ini kebun-tanaman tumbuh dari kecil menjadi besar-itu bebek-ini sarang burung-itu buah jatuh dari pohon-ini bunga yang belum mekar-itu lumpur-ini pasir. Hal-hal semacam itu bertaburan.
Tidak hanya dari lingkungan fisiknya, tetapi juga suasana sosialnya. Adzan di setiap waktu, orang mengaji setelah subuh atau maghrib. Ada sapaan dan senyuman dari orang-orang yang lewat, bahkan ajakan agar berkunjung ke salah satu rumah. Anak-anak bermain, bercampur-baur di jalan, rumah-rumah berpagar tanaman. Saling memberi di musim buah atau kalau ada rezeki lebih di rumah. Selalu ada kesempatan untuk menjelaskan, ini waktunya shalat-kalau disapa orang, tersenyumlah-kalau diberi, terima kasih-saling berbagi-berinteraksi dengan tetangga.
***
Anak-anak memang sangat tergantung pada orang dewasa di dekatnya. Tapi, akan ada masa di mana orang dewasa tidak ada di sampingnya. Tidak ada yang menggandeng tangannya di jalan dan menjelaskan ini dan itu, menceritakan ini dan itu. Keluarga selalu memiliki harapan dan membesarkan anak berdasarkan harapan itu. Tapi, keluarga tidak selalu ada.
Ia akan mulai makan tanpa diawasi, bermain tanpa izin, sekolah tanpa ditemani lagi. Ia akan punya keinginan sendiri, semakin bernyali, keluar rumah lewat jendela, mengendap-endap. Ia tidak lagi hanya berkeliaran ke rumah sebelah, desa sebelah. Ia mulai ke kelurahan sebelah, kecamatan sebelah, kota sebelah! Tidak lagi hanya gunung dan kebun yang dilihat, tetapi juga gedung-gedung dan kendaraan yang banyak. Tidak lagi hanya menerima sapaan dan salam, tetapi juga orang-orang yang bertengkar, pukul-pukulan, tidak beragama.
Rasanya, percuma memiliki rumah dan lingkungan terdekat bak surga, tetapi neraka jauh di luarnya. Kita mungkin berharap anak-anak atau adik-adik kita selalu selamat, tetapi dunia di sana sungguh tak bisa dikira. Mungkin, akan ada dari mereka yang pulang luka-luka, menangis karena ditipu orang, atau dengan pola pikir, penampilan atau perilaku yang tidak dikenal. Mereka siap terkena marah dari orangtua, siap berargumentasi, siap perang mulut, siap berkata, “Aku pergi.”
Dalam skenario yang tidak diinginkan tetapi terjadi seperti itu, salah siapa? Semoga tidak terjadi pada diri kita, tetapi lihat, anak-anak yang berakhir di jalan seperti itu. Nongkrong di pertigaan, merokok dan minum-minum. Tidak jelas tinggal di mana, berteman dengan siapa. Tidak sedikit yang menjadi kriminal atau mengganggu ketertiban umum. Salah siapa? Orangtua selalu bisa menyalahkan masyarakat, masyarakat selalu bisa menyalahkan orangtua.
Semua orang yang mengaku dirinya manusia punya punya kewajiban terkait hidup manusia lain. Aku pribadi bertanya, kapan aku pernah tersenyum ramah pada orang-orang di jalan, bagaimana aku banyak memberi untuk orang-orang itu, apa aku bisa menjadikan mereka seperti keluargaku sendiri, menanamkan harapan dan menumbuhkan dengan harapan? Keinginan melindungi diri  dan keluarga sendiri mungkin baik, tetapi itu mungkin berpotensi mengisolasi diri sendiri demi segala macam hal yang terpusat pada kepentingan sendiri. Karena isolasi itu, terjadi keruntuhan yang lebih besar. Keruntuhan masyarakat, ia merembet, akhirnya mengetuk pintu rumah setiap keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s