Bagaimana Kau Melihat Dirimu Sendiri?

*Dahulu dan sampai sekarang, beginilah caraku belajar dan memahami teori-teori psikologi: langsung menerapkannya dengan membuat artikelnya, berkaca pula pada pengalaman dan kehidupan sehari-hari. Apa yang aku tulis adalah apa yang aku tahu.

Original post: http://aftina.blogspot.com/2009/05/bagaimana-kau-melihat-dirimu-sendiri.html

Rabu, 27 Mei 2009

Suatu hari saya sedang menunggu bus di perjalanan pulang kuliah. Di sebelah saya ada beberapa orang yang sama-sama menunggu, salah satunya, wanita, mengajak saya bicara (atau sebenarnya saya yang mengajak dia bicara, saya sudah lupa). Setelah beberapa lama mengobrol, wanita tersebut mengeluhkan wajahnya, yang memang yang tampak adalah wajahnya yang kemerahan dengan kulit yang mengelupas. Dia bilang alasannya adalah karena salah pakai kosmetik. Saya mengatakan, ada orang yang tidak pakai kosmetik tidak apa-apa. Dia langsung menimpali, ”Orang itu memang sudah cantik…” Dalam hati saya berkata, ”Ooo…”

Mengapa kosmetik laris manis? Mengapa wanita ingin terlihat cantik? Mengapa wanita tidak ingin wajahnya menua? Mengapa bingung dengan pori-pori wajah, belang karena sinar matahari, jerawat, komedo, kulit berwarna gelap, kulit tidak halus, kulit tidak wangi, kulit tidak kenyal, kulit tidak bersinar, kulit tidak merona?

Salah satu buku yang baru saja saya baca membuat saya tertawa. Salah satu judulnya, begini: Bagaimana Membuat Anda Menderita? Jawabannya: Terus saja membandingkan dirimu dengan orang-orang ”hebat” di dunia. Bandingkan saja dirimu dengan mereka yang cantik, kaya, pintar, juara ini dan itu, jago ini dan itu, beken di sana dan di situ, kemudian rasakanlah betapa diri ini tampak begitu rendah. Sebanyak apapun yang kita miliki, kita tetap akan merasa kurang jika kita memandang diri kita secara negatif.

Konsekuensi dari interaksi sosial dan media massa adalah terjadinya perbandingan sosial. Kita membandingkan diri kita dengan orang lain, dan sebaliknya orang lain membandingkan dirinya dengan kita. Ketika kita merasa dan mengetahui diri kita memiliki kekurangan dan kekurangan itu kita anggap sebagai ancaman kehidupan, apa jadinya jika kita bertemu orang yang lebih dari kita? Apalagi ketika setiap hari kita ditampilkan terus-meneus orang-orang yang lebih ini di hadapan kita, seolah dunia bukan tempat bagi kita yang kurang.

Karena pemikiran ini, saya jadi mengerti mengapa sebaiknya kita menjauhi menonton sinetron. Kata orang, sinetron itu menjual mimpi. Itu benar. Karena sinetron itu gudangnya pembandingan sosial. Apa yang ditampilkan di sinetron? Rumah mewah, mobil mewah, gadis cantik dan pria tampan, teman-teman yang keren, hidup enak dilayani, atau hidup susah sebagai orang miskin, intrik-intrik keluarga kelas atas, perselingkuhan, dan sebagainya, yang sangat jauh keadaannya di kenyataan.

Iklan-iklan kosmetik juga begitu. Tentu saja iklan sampo menggunakan bintang yang rambutnya sudah dipermak sedemikian rupa. Iklan pemutih, tentu saja menggunakan mereka yang kulitnya sudah putih. Dan semuanya, tentu saja menggunakan bintang-bintang yang cantik. Mengapa kemudian kita membeli kosmetik? Karena tentu saja pembandingan sosial itu sudah terjadi bahwa yang ”normal” itu yang cantik. yang kurang cantik harus dibuat ”cantik”. Wanita harus cantik. Kosmetika tidak lagi bagi wanita muda, wanita tua juga. Dan hari ini pun kita telah mendengar bahwa penuaan sebisa mungkin dicegah. Hari ini pun kita melihat wanita-wanita yang mati-matian menjaga penampilannya, sebagian terus merasa dirinya jelek, sebagian merasa oke jika menggunakan kosmetik, dan hanya sedikit yang memutuskan menerima dirinya.

Penerimaan diri adalah isu besar dalam pengembangan diri kita, manusia. Dari makna katanya, penerimaan mengandung dua hal, yaitu mendapatkan sesuatu dan menyambut sesuatu tersebut. Apa yang menjadi milik kita adalah apa yang kita dapatkan dari Tuhan. Sebagian dapat dapat diubah, tetapi sebagian akan berjalan sesuai dengan ketentuan yang Tuhan tetapkan. Penerimaan tidak hanya mendapatkan, tetapi juga menyambut apa yang kita dapatkan itu, menyambut dengan hati senang dan tidak merasa rendah atau kurang. Penerimaan adalah terhadap apa yang nyata ada, bukan yang dibayang-bayangkan atau yang kita buat-buat.

Mengapa penerimaan menjadi penting untuk dilakukan? Karena dengan penerimaan kita akan menghindari konflik dalam diri.

Salah satu aspek dalam kepribadian kita adalah konsep diri, yaitu segala macam hal yang kita persepsikan adalah bagian dari diri kita, semua yang kita punya, meliputi: 1. pengetahuan tentang apa-apa yang kita miliki, 2. penilaian tentang apa-apa yang kita miliki tersebut, dan 3. apa harapan kita terhadap apa-apa yang kita miliki tersebut.

Kalau kita tahu wajah kita demikian, mata kita, hidung, pipi, dagu, warna kulit, dan semuanya yang ada pada diri kita, maka itu adalah pengetahuan tentang diri kita. Kita tahu kemampuan akademik kita sekian, kemampuan kita hanya sekian, kondisi keuangan kita sekian, itu semua adalah pengetahuan tentang diri yang selanjutnya membuat kita tahu yang ini adalah kelebihan kita, yang itu adalah kekurangan kita.

Lewat pembandingan sosial, kita mengetahui ada orang lain yang lebih baik dan ada orang lain yang lebih rendah dari diri kita. Evaluasi tentang lebih baik dan buruk ini mempengaruhi penilaian dan perasaan kita terhadap apa-apa yang kita miliki. Dengan wajah seperti ini, misalnya, saya tahu ada orang yang lebih baik. Mereka yang tidak mau menerima keadaannya akan dibuat tersiksa karena adanya perbedaan ini dan menilai negatif dirinya. Lain bagi mereka puas dengan apa yang dimiliki dan hidup sesuai dengan apa yang ia miliki itu. Mereka akan oke-oke saja dengan perbedaan dan tidak berusaha menyama-nyamakan diri dengan mereka yang berkelebihan.

Lain penilaian, lain pula pengharapan atas diri. Pengharapan diri menjadi lebih baik adalah hasil pengetahuan kita akan kekurangan diri. Kita tentu tidak ingin menjadi orang yang kurang, tetapi penilaian diri yang negatif akan menghasilkan cara memperbaiki diri yang berbeda dengan mereka yang penilaian dirinya positif. Mereka yang menilai diri secara negatif akan cenderung berkutat dengan kekurangan itu dan mencari segala cara untuk mengubahnya atau ketika gagal akan terpuruk. Mereka yang menilai dirinya secara positif, baik-baik saja dengan keadaan dirinya dan puas atas apa yng dimiliki, sekalipun tahu dirinya kurang, ia tidak akan menjadikan itu masalah utama dalam hidupnya. Ia akan mengembangkan diri dengan cara yang lain, pada potensi diri yang ia tahu adalah kelebihan pada dirinya.

Satu kalimat indah dari Tuhan: Manusia tidak akan sanggup menghitung nikmat yang Tuhan berikan pada dirinya. Selama apapun ia menghitung, seteliti apapun ia menghitung, hitungan itu tak akan pernah selesai. Jadi, apakah kita masih menganggap bahwa nikmat itu hanyalah hal-hal badaniah? Ada banyak nikmat, seperti keimanan, keyakinan pada Tuhan, dimudahkan dalam beribadah kepada-Nya, hidup sehat, hidup bahagian walaupun susah, dapat menikmati hari libur, diberi kesempatan untuk bersekolah, diberi kesempatan untuk memiliki teman dan keluarga, dan diberi kesempatan untuk hidup dengan penuh semangat, dan masih banyak lagi yang tidak akan pernah kita ketahui seluruhnya. Jadi, apakah kita masih berkutat pada hal-hal fisik dan merasa kurang di sana dan di sini? Ketahuilah, itu pengetahuan diri yang sempit sekali. Karena hidup lebih dari itu. Puaslah pada hidup ini. Bersyukurlah, karena niscaya Tuhan akan melimpahkan lebih banyak nikmat lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s