Beban Sebuah Harapan, Jebakan Ekspektasi

“Expect : To look forward to the probable occurrence or appearance of.”
Senang bisa menulis dengan judul ini. Jadi berharap, semoga ada kesempatannya, bisa mengadakan penelitian yang baik tentang ini suatu hari nanti.
Sebenarnya aku bingung bagaimana sebaiknya ide ini dituliskan. Ini muncul segera setelah merenung-renungkan salah satu bagian ucapan subjek penelitianku. Sebelumnya aku hampir saja menilai bagian ini tidak berguna, tetapi sekarang aku malah bersyukur. Entah bagaimana aku bisa belajar tentang apa itu tawakkal darinya. Dan sekarang bodohnya, aku malah jadi terharu tapi sambil tersenyum. Ya, itu artinya pengetahuan ini sangat bermakna, bagiku.
Harapan (atau expectation) itu sesuatu yang aneh. Tanpa harapan (untuk hidup) kita pasti mati, tetapi berharap pun bisa membuat kita mati, dalam kondisi tertentu. Itu kesimpulanku saat ini.
***
Karena penelitian skripsiku tentang regulasi diri, aku jadi banyak akrab dengan istilah outcome expectancy. Dasar teori tersebut adalah bahwa perilaku manusia pasti bertujuan (goal-directed behavior). Selanjutnya, tujuan itu salah satunya berupa keinginan. Sangkaan bahwa kita “bisa sampai pada tujuan” itulah yang bernama harapan. Sebaliknya, jika kita berpikiran bahwa kita tidak bisa, maka kita sedang kehilangan harapan.
 
Dari sini, apa itu optimisme dan pesimisme dapat dengan mudah dipahami. Orang yang bersangkaan baik alias optimis, perilakunya akan sebesar mungkin diarahkannya untuk mencapai keinginannya karena seakan-akan dia tahu bahwa dengan berbuat ini hasilnya pasti  seperti ini. Sementara orang yang pesimis adalah kebalikannya. Mungkin bukannya dia tidak berusaha, tetapi selama berusaha itu ia seakan-akan tahu bahwa ia tidak akan dapat yang diinginkannya.
 
Tidak hanya mempengaruhi perilaku, harapan yang baik juga mempengaruhi warna emosi kita. Orang yang optimis bisa dipastikan mereka memiliki excitement, mereka bergembira. Meskipun prosesnya penuh jatuh-bangun, tetapi sangkaan bahwa “mereka akan dapat” selalu menyuntikkan energi baru. Maka dari itu, mereka punya perseverence alias kegigihan yang membuat mereka tidak berhenti berusaha. Sebaliknya, untuk orang yang pesimis karena berekspektansi negatif, bisa dibayangkan sendiri.
 
Sekarang aku berpikir, apakah berekspektasi yang “aku akan dapat” selalu baik? Kita bicara tentang power yang bisa kita munculkan dari dalam diri untuk mencapai apa yang diinginkan. Semakin besar power, semakin besar control yang diperlukan untuk mengendalikan tindakannya mencapai tujuan. Ada banyak orang yang berhasil mengendalikan dirinya, tetapi ada banyak pula yang terpeleset dalam perfeksionisme, ambisi, ketergesaan, atau ekstremitas.
Hasilnya, tindakan regulasi dirinya untuk mencapai keinginan bersifat destruktif (self-defeated behavior), menghancurkan diri sendiri dan bentuknya dapat bermacam-macam. Ada yang berupa kerugian yang langsung dirasakan atau keinginan yang tidak sampai-sampai dan lama menjadi beban dalam kehidupan. Kalau begitu, seberapa mungkin ia akan tetap berekspektasi?
Meskipun belum menemukan penelitian empirisnya, menurutku ini bisa dilogika. Apakah tidak berekspektasi adalah baik? Sungguh berlawanan dengan teori, fenomenanya, ada sebagian orang yang tidak berani berekspektasi dan tidak berekspektasi, sekadar berdoa dan mengharapkan yang terbaiklah yang terjadi setelah melakukan usaha yang terbaik.
Mereka meluangkan sebagian lapangan pengharapan mereka untuk ditempati oleh ketidakmungkinan akan dapat, bersebelahan dengan kemungkinan akan dapat. Mereka bersiap menerima apapun yang dapat terjadi. Jika harapan itu terjadi, mereka bersyukur, jika harapan itu tidak terjadi mereka baik-baik saja. Mereka berkata pada diri mereka sendiri, “Mungkin lain waktu akan diberikan yang lebih baik,” atau “Sabar sebentar lagi.” Mereka mengarahkan orientasi tidak hanya pada tercapainya keinginan, tetapi mampu dilakukannya usaha terbaik… karena di situ, di dalam sebuah proses, ada pahala. Dan mereka berkata “insya Allah”?
Aku bertanya(-tanya), mengapa regulasi diri orang yang beriman bisa seperti ini?
 
***
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s