Belajar dari Keluarga Imran

Aku sangat suka hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan, tentang bagaimana cara mendidik manusia. Pendidikan membuatku berpikir dan membayangkan masa depan. Ini seperti menanam sebuah pohon besar dari bijinya, yang ada adalah harapan agar dia tumbuh besar, besar, dan semakin besar, dan aku adalah orang yang menanamnya, memberinya pupuk, menyiraminya setiap hari, dan menyiangi rumput-rumput pengganggu di sekitarnya.
 
Pendidikan memastikan kesinambungan rantai suatu kehidupan. Aku merasa bahagia hanya dengan membayangkan akhirnya akan seperti apa, yang mungkin tidak bisa dilihat karena tidak adanya waktu. Pendidikan berkaitan dengan suatu pekerjaan yang berguna karena pendidikan menentukan derajat kemuliaan manusia.
 
Aku tidak pernah belajar tentang teori-teori pendidikan dan sangat berharap bisa mempelajarinya suatu saat suatu saat nanti. Di saat-saat menanti seperti ini, yang paling membuatku belajar tentang pendidikan dan cara melakukannya adalah Al Qur’an. Yang paling berkesan adalah kisah keluarga Imran (QS Ali ‘Imran: 33-44) karena menceritakan secara cukup jelas tentang kelahiran dan perkembangan dua orang keturunan mereka, yaitu Maryam dan Yahya, dan apa yang dilakukan orangtua mereka.
Memang hanya beberapa ayat sehingga kita tidak bisa berharap ada deskripsi yang panjang lebar tentangnya. Dalam hal ini, aku sangat mengandalkan kemampuan analisis dan imajinasi untuk kemudian hasilnya kutuangkan dalam tulisan ini. Ide ini sudah mengendap dalam kepalaku selama berbulan-bulan dan sasaran utama dari tulisan ini adalah diriku sendiri.
PS: Entah bagaimana, gaya penulisanku kali ini sedikit berbau metode analisa data fenomenologis ^^v Aku masih belajar, oke? Jika ada kesalahan, mohon bantu aku memperbaiki pemikiranku.
 
***
Tema I: Teladan dalam Keluarga Imran
Pada pembukaan kisahnya, keluarga Imran disebutkan sebagai keluarga ideal. Allah memilih mereka melebihi segala umat pada masanya (QS 3: 33) sehingga karena itulah kita layak menjadikan mereka sebagai salah satu teladan dalam membangun kehidupan berkelompok, terutama berkeluarga. Mereka (yang disebut dalam ayat itu) memelihara kemuliaan diri mereka dalam iman dan ketakwaan secara turun-temurun, dari generasi ke generasi (QS 3: 34).
 
Tema 2: Membangun Keluarga dengan Tujuan
Kisah berawal ketika istri Imran berdoa kepada Allah agar anaknya yang akan lahir menjadi anak yang saleh dan berkhidmat di Bait al-Maqdis sebagai suatu nazar. (QS 3: 35). Dari situ, kita tahu pentingnya memulai keluarga dengan sesuatu yang positif, salah satunya dengan berharap secara sadar bahwa kita ingin memiliki keturunan yang baik dan saleh. Dalam harapan itu, kita membayangkan secara cukup jelas akan seperti apa anak kita nanti, seperti yang dilakukan istri Imran. Ayat tersebut membuat kita belajar bahwa keluarga perlu dibangun berdasarkan suatu tujuan.
Tema 3: Ridha Menerima dan Memahami Perbedaan Anak
Ketetapan Allah bisa berbeda dengan keinginan manusia. Seorang ibu bisa berharap memiliki anak laki-laki demi suatu cita-cita mulia, tetapi Allah memberinya anak perempuan. “Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan…” QS 3: 36 mengajarkan kita tentang bagaimana ridha dengan karunia Allah berupa anak.
Dalam keridhaan, kita melakukan dua hal. Pertama, memahami bahwa setiap karunia adalah baik dan memiliki kelebihan sehingga apapun ia, ia layak menjadi anak yang dicintai sepenuh hati. Kedua, apapun ia (perempuan atau laki-laki), setiap anak dapat menjadi anak yang baik dan saleh sesuai dengan karakter masing-masing. Itulah mengapa kita perlu belajar tentang perbedaan yang sungguh manusiawi antara karakter anak perempuan dan laki-laki, serta peran masing-masing, dan memperbaiki pola pikir yang tidak adil seperti anak laki-laki lebih berguna daripada anak perempuan.
Tema 4: Keseimbangan antara Pendidikan dan Pemeliharaan
Kisah berlanjut pada kelahiran Maryam, di mana Allah menerima nazar ibunya (QS 3: 37). Apa yang Allah perbuat baginya adalah “Mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah Menjadikan Zakariya pemeliharanya.” Di sini kita belajar pentingnya menyeimbangkan antara dua hal, yaitu memberikan pendidikan dan pemeliharaan secara baik. 
 
Ayat ini memberikan masukan yang baik bahwa anak tidak hanya butuh pendidik, tetapi juga pemelihara dalam kehidupannya. Sebuah keluarga tidak cukup hanya memberikan anak apa-apa yang penting bagi hidup anak, tetapi perlu juga menjaga anak dari pengganggu-pengganggu (secara fisik, psikis, dan sosial) agar anak tetap berada di jalur yang seharusnya. Keluarga tidak cukup hanya mengisi anak dengan pendidikan (agama, ilmu pengetahuan atau  etika berperilaku), tetapi perlu juga membimbing anak dapat mengamalkan isi kepalanya agar ia bijak  menghadapi realita kehidupan yang sering tidak ideal dan bertahan di dalamnya.
 
Masyarakat dan sekolah hanya dapat memberikan apa yang bisa mereka berikan dan lepas tangan dari sisanya, tetapi tidak dengan keluarga. Sering kita tidak dapat menyalahkan masyarakat dan sekolah, tetapi mudah menyalahkan keluarga atas masalah yang menimpa anak. Itu karena keluarga memang bertanggung jawab sebagai pendidik dan pemelihara yang utama.
 
Tema 5: Pendidikan dan Pemeliharaan yang Berorientasi
QS 3: 38 berbicara tentang karakter pribadi Yahya yang merupakan hasil dari pendidikan dan pemeliharaan orangtuanya, yaitu “membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu)…” Hal itu berarti bahwa orientasi pendidikan dan pemeliharaan anak setidaknya menyangkut tiga hal tersebut: agar anak mencintai agamanya, memantapkan diri menjadi sosok yang dapat diteladani masyarakatnya, dan tidak terjebak dalam kesenangan dunia. 
 
Hal itu memberi masukan agar dalam membesarkan anak, anak perlu dipahamkan kedudukan dan perannya dalam komunitasnya serta bahwa ia tidak hidup untuk keberhasilan pribadinya sendiri, tetapi kelak ia punya tanggung jawab terhadap komunitasnya. Selain itu, penting pula tidak membiarkan anak menggandrungi dunia, kekayaan, kekuasaan, kepintaran, ketenaran, kenikmatan, kelezatan, dan permainan, bahwa semua itu ada tempat dan tujuannya.
 
Tema 6 Bergantung pada Allah
Dalam kisah keluarga Imran tak satu pun ayat yang tidak menyertakan peran Allah. Allah-lah yang mengabulkan harapan dan yang sesungguhnya melakukan pendidikan dan pemeliharan terhadap manusia ciptaan-Nya.  Orangtua bahkan tidak memiliki anak-anaknya. Keberhasian pendidikan pun adalah karena izin Allah. Manusia tidak dapat berperan sendirian dalam mendidik generasi. Maka dari itu, usaha pendidikan dan pemeliharaan masyarakat tidak bisa tidak harus diawali dengan usaha perbaikan kualitas keberagamaan individu-individu yang membangun keluarga.
***
Hidup adalah perjalanan. Tidak ada orangtua yang benar-benar tahu anaknya akan berakhir seperti apa. Ada orangtua yang sudah berbuat sebaik mungkin, tetapi anaknya tidak sesuai harapan. Ada orangtua yang sangat tidak bertanggung jawab, tetapi anaknya sangat saleh. Orangtua hanya bisa berharap, bertekad, berbuat sesuai tekad itu sebaik mungkin, dan bertawakkal. Kita mudah menganggap apa yang terlihat buruk pada diri anak sebagai suatu kesalahan dan kegagalan, tapi manusia mana yang tahu isi hati mereka atau masa depannya?
 
Alhamdulillah, Allah Menepati janji-janjinya.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s