Bencana Pemisahan Ilmu Pengetahuan, Agama, dan Akhlak

Bencana Pemisahan Ilmu Pengetahuan, Agama, dan Akhlak:

Fanatisme, Rasionalisme-ateisme, dan Nihilisme-etis

(Pemikiran Al Ghazali Bag.2)*

 

Islam memajukan peradaban umat manusia melalui perpaduan antara ilmu pengetahuan dengan agama dan moral. Namun, perkembangan yang tidak sehat merebak pada di masyarakat, seperti yang kita kenal saat ini terjadi pemisahan antara dunia dan akhirat dalam kehidupan manusia. Pemisahan ketiga unsur: ilmu pengetahuan, agama dan moral digambarkan dalam tiga konsep, yaitu: fanatisme, rasionalisme-ateisme, dan nihilisme-etis.

Fanatisme

Fanatisme adalah taklid buta dan sifat jumud atau kaku dalam beragama, merupakan akibat dari pelaksanaan agama tanpa ilmu pengetahuan, yang menyebabkan hilangnya moral. Al ghazali memandang orang yang taklid buta bagaikan hewan yang tidak mempunyai sifat-sifat kemanusiaan yang sebenarnya. Orang yang taklid buta hanya mengekor pikiran dan fatwa orang lain tanpa mempunyai pikiran sendiri. Taklid buta tidak hanya ada dalam lapangan agama, tetapi juga dalam ilmu pengetahuan dan politik.

Sifat taklid buta tidak saja akan menggelapkan dan menjerumuskan diri sendiri, tetapi juga akan lebih berbahaya jika sifat itu menganggap salah segala sesuatu yang berlainan dari pendirian yang dipegangnya. Karena pahamnya yang sempit, orang yang taklid buta memandang pendirian yang dipegangnya adalah satu-satunya yang benar, sedangkan pendirian orang lain adalah salah dan sesat.

Sifat taklid buta menimbulkan sifat jumud, yang berupakan sifat yang berlawanan dengan apa yang diharapkan oleh Islam, yaitu tasamuh, yaitu toleransi dan lapang dada terhadap segala agama dan aliran, segala ideologi dan pikiran. Sifat tidak toleran terhadap orang lain sangat disayangkan karena dapat menimbulkan konflik dan pertumpahan darah.

Tasamuh atau lapang dada juga jangan diartikan sebagai tidak boleh mengecam atau menyalahkan agama atau aliran lain. Setiap orang bebas mengecam, menyalahkan, dan mengeluarkan pendapat dengan syarat berdsarkan ilmu pengetahuan. Maka, kita wajib beragama dengan ilmu pengetahuan.

Rasionalisme dan Ateisme (Pendewaan Akal dan Anti Tuhan)

Rasionalisme dan ateisme diakibatkan oleh ilmu pengetahuan yang dijalankan tanpa agama. Ilmu pengetahuan yang terlepas dari pimpinan agama dapat melahirkan kepandaian-kepandaian yang merusak dan mengacaukan dunia.

Al Ghazali mengemukakan bahwa terdapat tiga golongan para sarjana ilmu pengetahuan:

  1. Dahriyun atau materialistis, yang mengingkari adanya Tuhan dan mengatakan bahwa dunia hanya terdiri dari materi belaka.
  2. Thabi’iyun atau naturalis, yang menyelidiki rahasia alam dan mengatakan bahwa tidak ada sesuatu di luar alam ini.
  3. Ilahiyun atau teis, yang mempercayai adanya Tuhan yang mengatur alam ini dan menciptakan seluruh makhluk.

Kaum materialistik dan naturalistik adalah mereka yang mempuyai ilmu pengetahuan, tetapi mengingkari dan mendurhakai Tuhan (kaum zindiq dan ahli juhud). Ilmu tanpa agama dapat membawa dunia pada ateisme yang saat ini sangat merajalela.

Al Ghazali mengemukakan bahwa manusia membutuhkan ilmu pengetahuan, juga amal agama untuk mensucikan jiwanya. Dengan ilmu pengetahuan, manusia dapat mencapai tingkat kecerdasan yang sempurna, sedangkan agama dapat meluhurkan jiwanya. Ahli ilmu yang tidak beragama adalah orang yang fasik, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain.

Rasionalisme dan ateisme dimulai sekitar abad ke-15 dan 16, di mana saat itu terjadi pengejaran dan pemburuan yang dilakukan oleh kaum fanatic Kristen terhadap ahli-ahli pengetahuan yang menentang kebenaran agama mereka. Perburuan ini mendorong munculnya kebencian kepada agama Kristen yang menutup rapat akan segala pengetahuan di luar ilmu-ilmu gereja. Kebencian itu berakhir pada pemisahan antara ilmu pengetahuan dan agama, yang semakin lama semakin mendalam dan bertambah menjauhkan ilmu pengetahuan dari agama dan Tuhan, bahkan tidak lagi mengindahkan nilai-nilai moral dan akhlak.

Pada mulanya muncul rasionalisme yang mendewakan akal sebagai penyelamat dunia. Sesudah itu lahir naturalisme yang memusatkan segala sesuatu pada alam. Maka, muncul humanisme yang menjunjung tinggi akan kemanusiaan sebagai ganti ketuhanan yang diajarkan agama. Kemudia muncul materialisme yang menjadikan benda di atas segalanya, sebagai ganti dari wakyu dan keimanan. Akhirnya muncul ateisme yang menolak Tuhan dan mengingkari segala agama.

Pemuja-mujaan akal di bawah semboyan “free thingking” menjerumuskan akal itu sendiri pada pengangkatan dirinya menjadi Tuhan yang merasa berhak membuat “agama”. Maka, karena tidak percaya Tuhan, wahyu dan kitab suci, akal mengeluarkan firmannya sendiri. Pemisahan antara ilmu pengetahuan dan agama menimbulkan perpecahan dalam jiwa manusia pada abad ini.

Nihilisme-etis (Ilmu Pengetahuan Tanpa Moral)

Nihilisme-etis adalah wujud pemisahan antara ilmu pengetahuan dengan akhlak. Al Ghazali mengatakan bahwa pada hakikatnya, ilmu pengetahuan bukanlah suatu hal yang buruk, bahkan ia merupakan barang yang baik yang setiap manusia diperintahkan untuk mencari dan mempelajarinya. Segala ilmu pengetahuan adalah terpuji, sebagai alat manusia membentuk peradabannya. Namun, ilmu pengetahuan dapat berubah sifat menjadi tercela ketika penggunaannya tidak lagi mengenal batas-batas moral dan peri kemanusiaan.

Nihilisme-etis atau nihilisme nilai terlahir dari kalangan ilmuwan yang di dalam teorinya ingin membebaskan ilmu pengetahuan dari segala ikatan dan belenggu, bebas dari agama dan moral.

Ilmu pengetahuan yang melepaskan diri dari moral mengakibatkan korban jutaan manusia, dilihat dari peperangan dengan persenjataan dan mesin-mesin yang semakin canggih untuk menghancurkan. Rosseau menyatakan sebuah kenyataan bahwa semakin cerdas manusia dan semakin maju ilmu pengetahuannya, manusia bukanlah semakin maju akhlaknya, tetapi semakin merosot moralnya. Atau seperti yang diungkapkan oleh Gilouin bahwa dahulu manusia dididik untuk menjadi hamba Tuhan, tetapi saat ini manusia dididik untuk menjadi hamba mesin dan industri dengan segala ilmu pengetahuan yang melahirkan dan membesarkannya. . Namun, walaupun tampak ilmu pengetahuan semakin tidak bermoral, sesungguhnya kesalahan ada pada diri manusia yang telah menyalahgunakan ilmu pengetahuan.

Schopenhauer memberikan sebuah kiasan yang manarik antara ilmu pengetahuan dan moral, bahwa keduanya ibarat seorang yang buta dan seorang yang lumpuh. Akhlak adalah orang buta yang mempunyai tenaga, sedangkan ilmu penetahuan adalah orang lumpuh yang t dapat melihat. Jika keduanya hidup saling membantu, saling mengisi kekurangan masing-masing, maka dapatlah tercapai segala tujuan yang diinginkan.

 

*Tulisan ini merupakan ringkasan buku “Konsepsi Negara Bermoral Menurut Imam Al Gazali” karya H. Zainal Abidin Ahmad (1975).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s