Bersabar Menuntut Ilmu

Kalau tidak salah ingat, tulisan ini pernah dimuat dalam Buletin Kerohanian Islam Fak. Psikologi Undip sekitar dua tahun yang lalu.😀 Tulisan lama…

Original post: http://aftina.blogspot.com/2010/06/bersabar-menuntut-ilmu.html

Jumat, 04 Juni 2010

 

Rasulullah bersabda: “Amat mengagumkan keadaan orang mukmin. Semua yang dilakukan selalu baik, dan itu ada hanya pada orang mukmin. Jika memperoleh kesenangan, dia bersyukur. Sedangkan jika menghadapi cobaan dia bersabar, dan itu baik pula bagi dirinya.” (HR Muslim).

Sabar adalah akhlak mulia yang menjadi kekuatan orang-orang beriman. Sabar adalah penolong ketika kita mendapatkan cobaan. Dengan bersabar, setiap mukmin akan menjadi sosok yang tegar, tahan banting, tidak putus asa, dan terus berusaha. Kehidupan adalah tempat yang tepat untuk mempraktikkan kesabaran. Tentu saja, setiap dari kita tidak akan lepas dari kesulitan-kesulitan hidup. Salah satunya adalah kesulitan-kesulitan dalam usaha kita mendapatkan ilmu pengetahuan.

Kesempatan belajar adalah nikmat yang luar biasa yang Allah Berikan. Di samping kita harus bersyukur bisa menjadi mahasiswa, kita juga perlu bersabar. Kenapa? Karena proses belajar mengandung cobaan-cobaan yang bisa membuat kita “gila”. Ada saja emosi-emosi negatif yang dapat hadir dalam diri dan di sekeliling kita, mulai dari yang disebabkan oleh cuaca yang panas, lapar, tidak ada semangat belajar sampai bolos kuliah, malas belajar, “kantong kering”, konflik dengan teman atau dosen, tugas yang seabrek, amanah organisasi yang segunung, sampai stres berkepanjangan lantaran prestasi belajar tidak naik-naik. Mereka yang tidak sabar akan cenderung berperilaku tidak terpuji bahkan memunculkan masalah lain yang lebih besar.

Nah, jelas bukan bahwa sabar itu penting sebagai pendorong kita untuk bertahan menempuh cobaan hidup yang namanya “kuliah”. Sayang, akhlak ini sering dilalaikan oleh kita semua. Banyak orang yang berpikir sabar adalah milik orang-orang susah yang hidup tanpa harta. Tidak demikian tentunya. Bagaimana kita mengembangkan diri tergantung sejauh mana kita mengelola diri untuk menghadapi cobaan dan melaksanakan apa yang Allah Perintahkan pada orang yang beriman.

Bagaimanakah caranya bersabar? Sabar adalah buah dari keimanan. Ketika ingin bersabar, kita perlu memupuk keimanan dan optimisme, misalnya lewat pengetahuan tentang keutamaan ibadah. Tahukah teman-teman betapa Allah Menyukai orang-orang yang menuntut ilmu (QS 58: 11)? Menempuh jalan untuk menuntut ilmu adalah wujud takwa kepada Allah Swt. Perjuangan kita untuk mendapatkannya tergolong jihad. Jika hikmah menuntut ilmu sedemikian besarnya, bagaimana kita tidak lebih memilih bersabar ketimbang sibuk berkeluh kesah atau “gila” saking stresnya dan memperturutkan emosi sesaat?

Sabar adalah teguh dan tahan untuk mengendalikan hawa nafsu. Dengan bersabar, kita tidak dikendalikan oleh kehendak yang buruk yang muncul karena kesulitan dan cobaan. Keteguhan ini membuat kita mampu mengalahkan perasaan lemah, tidak semangat, kesedihan, dan kekecewaan selama menuntut ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa sabar itu tidak hanya terkait masalah fisik. Kesabaran juga terkait dengan moralitas lewat upaya mengesampingkan nafsu-nafsu yang buruk yang mengganggu tujuan kita dalam menuntut ilmu yang bermanfaat.

Nah, apa sajakah indikator sabar sepertinya perlu kita ketahui. Mari kita cek apakah sudah kita lakukan, antara lain: tidak memperturutkan nafsu (contoh: makan-minum dan bersenang-senang berlebihan), tidak berkeluh kesah ketika terkena musibah, tidak sombong ketika berkecukupan, tidak menjadi pengecut ketika diandalkan, menahan emosi ketika marah, menjaga lidah, dan tidak serakah atas keinginan-keinginan.

Sudahkah kita bersabar?

Karena bersabar itu butuh perjuangan, yuk, kita kontrol diri baik-baik dari sekarang. Sudah ada banyak mahasiswa berprestasi atau menjadi aktivis. Tetapi, menjadi mahasiswa sabar dan tetap bersemangat menghadapi segala masalah? Itu dia tantangan besar kita sebagai mahasiswa muslim.

Akhir kata, semoga usaha kita untuk menuntut ilmu sebagai mahasiswa senantiasa bernilai ibadah. Semoga kita senantiasa Dirahmati Allah dengan curahan taufik dan hidayah-Nya agar dapat terus bersabar. Wallahu a’lam…(ANH).

Referensi:

Al Quran al-Karim
Addimasyqi, M. J. A. (1983). Mau’izhatul Mukmin: Ringkasan Ihya Ulumuddin Al Ghazali. Bandung: CV Diponegoro.
Qardhawi, Y. (2005). Merasakan Kehadiran Tuhan. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s