Buku-buku Sejarah Impian, Uncle Tom’s Cabin & History of The Arabs

Dalam tiga bulan terakhir ini, aku berkesempatan menyelesaikan membaca dua buku sejarah yang sangat kunanti-nantikan sejak lama. Yang pertama adalah novel Uncle Tom’s Cabin (Harriet B. Stowe), sebuah novel besar yang menandai sejarah Amerika Serikat. Yang kedua adalah sebuah buku teks untuk kuliah Kajian Timur Tengah, History of The Arabs (Philip K. Hitti).
 
Jadi, salah satu subjek favoritku adalah sejarah. Sejak dahulu. Apakah cocok dengan sejarah butuh bakat? Bagiku yang jelas, imajinasi sangat membantu. Aku tidak pernah menghadapi “materi sejarah” kecuali menjadikannya seperti sebuah rangkaian cerita. Mungkin ini tentang kebutuhan mengetahui bagaimana sesuatu berawal dan pada akhirnya berakhir… kemegahan peradaban yang timbul dan tenggelam… gambaran makro kehidupan manusia untuk memahami dinamika mikronya… mengetahui tempat dari setiap hal yang pernah ada di bumi dan pengaruh-pengaruh yang dimunculkannya.
 
Orang yang belajar psikologi sepertinya butuh melengkapi diri dengan pengetahuan tentang sejarah manusia, apa yang menusia lakukan dari masa ke masa dan bagaimana. Semisal isu perbudakan dalam Uncle Tom’s Cabin, yang aku perhatikan secara intens tidak hanya hiburan yang ditawarkannya karena ia adalah novel, melainkan perkembangan pola dan cara berpikir manusia paling tidak sejak tiga abad yang lalu.
 
Manusia yang memperbudak dan diperbudak lebih dari sekadar realita sejarah, tetapi juga realita psikologi. Selalu ada di bumi ini pihak yang kuat dan yang lemah, yang di atas dan di bawah, yang bersantai dan yang bekerja keras. Orang-orang mengeksploitasi dan dieksploitasi. Orang-orang memanfaatkan dan dimanfaatkan. Persaingan mencapai tempat tertinggi, termulia, terhormat benar-benar terjadi secara sempurna. Di antara orang-orang itu, kita adalah apa? Setiap kebutuhan hidup, hasrat, dan ambisi yang kita miliki secara manusiawi membuat kita memilih menjadi apa?
 
Siapa yang akan menjadi seperti Eva St.Clare, gadis cilik yang tekun membaca kitab suci dan hatinya penuh rasa sayang dan kasihan pada para budak yang dimiliki keluarganya? Ia begitu dicintai, tetapi  meninggal dalam usia yang sangat muda. Atau Tom, budak kulit hitam yang taat dan tidak pernah kehilangan kepercayaan pada Tuhan? Meskipun tubuhnya ditindas, hatinya merdeka dan ia tetap memaafkan penyiksanya. Ia meninggal setelah mengalami penyiksaan karena melindungi rekan-rekannya yang berusaha membebaskan diri? Atau Tuan Simon Lagree, seorang tuan tanah, pemilik perkebunan yang kejam, yang memikirkan harta dan status sosialnya saja…
 
Novel Uncle Tom’s Cabin berisi kritik sosial untuk zamannya. Jelas sekali, pena itu bisa lebih tajam daripada pedang. Novel ini menjadi pematik terjadinya Perang Sipil Amerika (1861-1865) yang menghapuskan praktik perbudakan di Amerika Serikat. Kritik sosial yang dilancarkan sarat berisi pesan-pesan religius, mengingatkan orang yang membacanya tentang nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya ditegakkan oleh orang-orang yang beragama dan bahwa setiap perbuatan pasti mendapatkan pembalasan dari Tuhan.
 
Pada hari ini, kita boleh mencela negara atau pemerintahan mana saja, atau orang siapa saja yang melakukan atau membiarkan penindasan manusia. Dari membaca sejarah, kita melihat ke belakang, ada sebuah perjuangan yang sifatnya universal, yaitu perjuangan menjaga dan memelihara hak manusia dan perjuangan ini sangat banyak dimotori oleh motif religius. Agama mengedukasi manusia.
 
Harriet Beecher Stowe (14 Jun 1811 – 1 Juli 1896) adalah seorang abolitionist dan penulis Amerika. Novelnya Uncle Tom’s Cabin (1852) adalah gambaran hidup orang Afro-Amerika di bawah perbudakan dan sangat berpengaruh di Amerika Serikat dan Inggris. Novel ini mendorong gelombang anti-perbudakan di Amerika bagian Utara, sementara memprovokasi kemarahan yang luas di Selatan. Dia menulis lebih dari 20 buku, termasuk novel, tiga memoar perjalanan, dan koleksi artikel dan huruf. 
 
 
***
 
Para psikolog muslim sering merujuk pada karya-karya ilmuwan muslim dan ulama di masa lampau, terkhusus pada abad 6-13, masa kejayaan Islam. Bagiku, ini agak membingungkan. Sering terlalu berantakan, informasi terkesan asal comot yang penting pas, mendukung pendapat. Secara keilmuan, segala sesuatu harus dihadapi secara hati-hati karena meskipun karya itu dibuat oleh ilmuwan muslim, berasal dari masa kejayaan Islam, tidak ada jaminan bahwa itu lebih baik, lebih benar, lebih tepat.
 
Ketika kita menggunakan teori, konsep, praktik yang berasal dari masa lalu, sebenarnya tugas kita jadi berlipat ganda. Selain memahami ilmu itu sendiri, kita jadi berkewajiban menyelidiki konteks seputar teori tersebut dan kesesuaiannya dengan perkembangan masa kini. Hal ini sulit, pertama karena rentang masa yang jauh sekali; kedua, minimnya sumber asli, dan ketiga, meskipun sumber aslinya ada, berapa banyak orang yang bisa baca dan paham?
 
Memang tidak tertutup kemungkinan bahwa yang pernah ada tetap bermanfaat, tapi bukankah mengejar dan menggali yang hampir tidak terkejar dan tergali, agak sia-sia dan menghambur-hamburkan tenaga dan usia? Kalau psikologi Islami didefinisikan sebagai psikologi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, mengapa tidak secara tepat mengatakan, mari ramai-ramai membaca baik-baik Al Qur’an? Ini perkara yang lebih jelas dan terang, tidak membingungkan dan bisa dilakukan oleh setiap muslim. Kita letakkan kedua kaki secara pasti di masa kini dan bersiap melangkah maju.
 
Membaca History of The Arabs, aku menyimpulkan bahwa apa yang terjadi jauh di masa lalu berfungsi tidak sama seperti apa yang terjadi baru-baru saja. Untuk beberapa hal yang sifatnya dinamis dan senantiasa berkembang seperti ilmu pengetahuan, kita tidak bisa mengharapkan pengaruh langsungnya bagi masa kini. Jika kita memaksa, yang ada adalah kesenjangan. Bukan berarti menafikan perannya, tetapi mulai berpikir bahwa ada peran lain yang lebih prinsipil dan idealis yang ditawarkan oleh masa lalu, tentang warisan turun-temurun umat manusia: semangat menguak kebenaran dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
 
Kejayaan ilmu pengetahuan dari masa keemasan memang menimbulkan kerinduan akan terjadinya masa yang serupa suatu hari nanti. Ilmu pengetahuan seperti matahari… kita tak bisa menggenggam wujudnya, tetapi kita merasakan cahayanya yang terus-menerus menerangi dengan izin Allah. Dan tak ada bedanya, di Barat atau di Timur, cahaya berarti terang.
 
“Buku History of The Arabs membentuk sebuah infrastruktur pengetahuan yang seluruhnya sangat penting dikaji untuk memahami berbagai perkembangan terkini di dunia Arab dan muslim. Buku ini melingkupi rentang waktu sejarah lebih dari satu milenium sejak masa pra-Islam (periode pagan, tradisi Yahudi-Kristen) hingga penaklukan bangsa Turki Utsmani atas dunia Arab pada awal abad ke-16.
 
Bagian inti buku ini memaparkan asal-usul bangsa Arab, kemunculan Muhammad dan kelahiran Islam, dan masa pemerintahan Khulafa al Rasyidun. Buku ini kemudian melacak penyebaran Islam selang beberapa dasawarsa setelah kelahirannya, melintasi Afrika Utara ke Semenanjung Iberia, ke sebelah Barat mencapai dataran Pyrenees hingga Poitier di Prancis, ke sebelah Utara mencapai Anatolia Bizantium dan ke Cina Barat di sebelah Timur.” (h. vii)
 
Philip K. Hitti lahir pada 1886 di sebuah desa bernama Syemlan sekitar lima mil dari Beirut. Ia mendapat gelar Sarjana Muda dari American University di Beirut dan gelar Doktor dari Columbia University di New York. 
 
Pada 1927, ketika diminta oleh Daniel Macmillan untuk menulis buku History of The Arabs, ia menjabat sebagai asisten profesor sastra Semit di Princeton University, New Jersey, tempat ia kemudian menjadi profesor sastra Semit dan ketua jurusan bahasa dan sastra Timur hingga pensiun pada 1954. Ia juga menjadi profesor tamu di University of Sao Paulo, Brazil dan Harvard University.
 
Pada 1940, namanya tercantum dalam daftar New York World’s Fair sebagai warga migran Amerika yang memberikan “kontribusi berharga” bagi demokrasi Amerika. Pada 1966, ia mendapat gelar Doktor Sastra dari Princeton University. Ia meninggal di Princeton pada 1978.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s