Dinding

Kadang-kadang psikologi sangat membantu, sumber inspirasi untuk membuat cerita pendek. Beberapa kali kucoba dan sepertinya oke, meskipun tentu saja, masih perlu banyak belajar. Wah, jadi pingin buat novel atau film.

Oct 8, ’11 1:22 PM

 

“Saat itu aku siswa sekolah menengah. Ada sebuah dinding di salah satu bagian di sekolahku yang sangat populer hanya di kalangan siswa perempuan. Mungkin, bisa jadi itu menjadi sebuah monumen yang mengabadikan beberapa hal. Tapi bagiku, dinding itu mengajarkan satu hal: Jika sepanjang hidup kamu diajari untuk berbuat baik dan mengasihi orang lain, maka ketika kamu beranjak dewasa, kamu harus belajar seni mendendam, membenci dan memusuhi.”

“Kalimat yang sangat filosofis.” Kamu terkekeh.

“Dinding itu adalah dinding toilet siswa perempuan. Jika kamu berkunjung ke sekolahku, tempat itu adalah satu-satunya yang akan kujauhkan darimu. Tapi, kalau kamu melihatnya, mungkin kamu akan kagum dengan apa yang kamu lihat. Perlukah kuceritakan?”

Kamu mengangguk bersemangat.

“Tembok halus bercat kuning itu telah mengembangkan fungsinya, tidak hanya menjadi sekadar dinding, tetapi menjadi dinding tulis. Awalnya dinding itu cukup bersih, hanya berisi “salam” dari seorang siswa kepada kakak kelasnya. Itu pun ditulis kecil-kecil, di pojok-pojok, malu-malu. Sampai pada suatu hari seseorang entah siapa menuliskan: Anak tengil dari kelas X, berani-beraninya ya, ngrebut pacar orang!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! besaaar sekali. Aku benar-benar tak tahu siapa penulisnya. Haha… Aku tidak tahu apa gosipnya, tetapi itulah. Setiap kawan mendukung kawannya, tetapi pernyataan dukungan tidak lebih dari sekadar ejekan atau hinaan balik. Ucapan-ucapan kotor dan nama-nama hewan. Lama-lama dinding itu menjadi begitu penuh oleh banyak pemain lain. Kamu tahu? Terkadang, dinding itu juga memberi beberapa pengetahuan. Hahaha… Dari dinding itulah aku tahu ada kata ‘gigolo’ di dunia ini. Lucu, kan?”

Aku tersenyum, aku melihat kamu menaikkan alis dan tersenyum miring.

Lanjutku, “aku baru tahu bahwa anak perempuan bisa bersikap seperti itu. Tapi, aku jadi sadar bahwa cinta berhubungan dekat dengan benci dan bisa memunculkan permusuhan. Begitu nyata, itu bukan cerita sinetron Indonesia, drama Asia atau telenovela Meksiko di TV, tapi anak sekolah.”

“Kamu menulis juga?”

“Tidak. Tidak pernah satu kali pun. Ibuku. Dia selalu menghentikan mulutku jika aku berkata kotor. Bagaimana bisa aku menuliskan sesuatu yang mulutku saja tak boleh mengatakannya, benakku tak boleh memikirkannya? Banyak anak yang mulai berkata kasar dan kotor di sekolah, tetapi aku tidak. Sekali pun tidak.”

“Aku lebih memandang dinding itu sebagai korban kelakuan anak baru gede. Kasihan sekali.”

“Ya. Masa-masa yang dipenuhi cerita cinta…”

“Cinta pertamamu?” Kamu sedang menyelidik?

“…”

“Dia pasti cowok yang terkenal di sekolah.”

“Mengapa bisa berpikiran begitu?”

“Perasaanku saja waktu melihatmu. Aku merasa kamu orang dengan standar yang tinggi. ”

“Aku tidak memikirkannya lagi. Itu masa yang sudah jauh.”

“Haha… Kamu malu menceritakannya. Kamu harus menceritakannya padaku agar aku tidak cemburu.”

Jangan tertawa. “Ya, aku selalu malu.” Kamu melihatku? Mataku menatap jauh ke luar jendela. Aku tak ingin melihatmu. Aku tak bisa melihatmu dengan cara seperti ini, saat ini. Aku membiarkan jeda tak berisi pembicaraan apapun.

“Ada apa? Kamu marah?” Kamu berusaha meraih tanganku tapi aku tidak memberikannya.

“Apakah aku bisa menjadi lebih baik?” Suasana menjadi dingin dan kamu terkejut. Aku menatap matamu lekat-lekat.

“…”

“Sering aku berpikir, seandainya aku bisa menjadi seperti teman-teman, punya kawan seperti teman-teman, ikut tertawa membicarakan orang, ikut berbicara dengan mengucapkan kata-kata semacam itu, ikut menuliskan sesuatu di dinding itu, ikut membicarakan dan mengejar-ngejar siswa laki-laki atau kakak kelas, mungkin aku akan lebih baik.”

“Aku tidak merasa itu perandaian yang baik… Itu terkesan… agresif? Itu tidak pantas untukmu.”

“Masa muda adalah masa melakukan banyak kesalahan dan perbuatan memalukan, bukan? Tetapi aku tidak punya keberanian untuk– Apakah dosa jika aku menjadi seperti teman-teman? Membicarakan orang, teman laki-laki atau kakak kelas, berbicara bahasa kasar dan kotor, menulis di dinding itu, memakai rok mini, berdandan ke sekolah, berlama-lama di kantin untuk mencari perhatian…”

“Stop. Jangan berkata seperti itu. Kumohon.”

“Sekarang, jawab aku. Apakah aku akan menjadi orang yang lebih baik jika aku berani berbuat itu sejak awal?”

“…”

“Teman-temanku seperti itu dan mereka mendapatkan apa-apa yang mereka inginkan. Aku berusaha tak berbuat salah, tidak melakukan hal-hal yang memalukan, tetapi aku merasakan rasa bersalah yang besar. Apakah aku mencederai diriku sendiri dengan tidak memberinya kesempatan untuk mengungkapkan diri? Aku sulit merasa diriku baik-baik saja. Apakah aku orang baik? Dari luar kamu lihat aku baik-baik saja, tapi sekarang kamu tahu bagian dalam diriku. Aku marah pada diriku sendiri.”

“…” Kamu menatapku dengan pandangan bingung. Benarkah kamu tidak tahu apa yang harus dikatakan padaku? “Aku tidak mengerti.”

“Bukankah aku orang gila? Bukankah kamu berpikir demikian sejak awal?”

“… Tidak.”

Aku kebingungan. Entah mengapa aku menjadi emosional. Aku berdiri dan beranjak pergi dari meja, meninggalkan piring-piring dan gelas-gelas sajian santap malam yang sudah tandas dan dua lilin yang salah satu apinya sudah mati. Aku melewatinya begitu saja, menyusuri jalan menuju pintu keluar restoran, melihat pantulan diriku di kaca-kaca jendela yang ikut melangkah cepat bersamaku.

Kamu tidak menyusuliku? Ruang di antara kita semakin lebar. Bagiku, itu semakin terisi oleh dinding yang semakin tebal dan kuat. Apa yang bisa meruntuhkannya?

Aku berdiri menanti taksi. Aku teringat, kotak beludru berisi cincin itu tertinggal di meja.

***

“Bukankah itu berarti bahwa kamu ingin mengatakan bahwa… Ada sesuatu hal yang kamu pendam dan itu sangat menyakiti hatimu?” Aku bergumam pada diriku sendiri. Bukankah aku orang gila? “Ya Tuhan, orang macam apa aku ini yang tidak dapat berkata-kata ketika ia seharusnya wajib mengatakan sesuatu? Dan sekarang, aku teronggok seperti serbet di meja.” Aku menghabiskan sisa kopi di cangkirku.

Ponselku berdering. Sahabatku. “Ya?”

“Bagaimana? Sukses? Dia bilang bersedia? Ya Tuhan, aku menunggu kabar darimu! Tidak mengertikah betapa aku sangat cemas kalau kamu akan gagal lagi?” semburnya.

“…” Aku mendesah.

“Ya Tuhan! Kamu gagal?! Bencana apa yang sudah kamu katakan padanya?”

“Tidak mengatakan apapun.”

“Ya Tuhan! Setelah dua tahun?! Mana dia? Biar aku yang meyakinkan dia.”

“Terlambat. Sudah pergi.”

“Apa?! Lalu kamu dimana?”

“Masih di–”

“Ya Tuhan! Apakah kamu ini pria? Kejar dia, Bodoh!” sergahnya.

“Ya, ya. Aku akan kejar dia.”

“Cepat, Bodoh!” Apakah aku masih harus diajari tentang memahami wanita?

Aku meninggalkan sejumlah uang tunai di meja, menyambar kotak cincinku, dan langsung berlari keluar. Dia masih di sana, menghentikan sebuah taksi dan masuk. Sebelum dia sempat menutup pintu, aku menahannya. Dia terkejut seperti orang yang sedang melihat setan.

 

Kami duduk-duduk di beranda rumah kosnya. Aku mencari-cari di mana bulan malam ini berada. Aku duduk bersila bertopang dagu, dia duduk memeluk lutut membenamkan wajah.

“Ada hal yang kamu pendam dan itu sangat menyakiti hatimu, kan?” tanyaku pelan. “Kau tahu? Kalau kamu cerita, aku bisa membantu lebih aw–”

“Aku takut.” Takut.

“Kalau semua itu kamu simpan sendirian…”

“Aku takut menyesalinya jika bicara.” Takut menyesal.

“Tapi hari ini kamu sudah memberanikan diri menceritakan sepersejutanya, bukan?” candaku. Dia mendongak dan aku tersenyum mencoba mencairkan suasana. Dia membenamkan wajahnya lagi, aku merengut. Aku mendesah.

“Hei, aku merasa ada dinding tak terlihat di antara kita. Bicaralah. Apa kamu masih punya rasa percaya padaku, rasa percaya seperti yang kamu tunjukkan waktu kita pertama kali bertemu?” Dia tak bereaksi. Pikiranku melayang pada kenangan manis itu, kenangan bertemu seorang gadis cantik yang menangis sendirian di salah satu bangku di taman kampus.

“Bukankah di sini ada ahli jiwanya?”

“Ada, tapi mereka juga sakit jiwa. Haha… Bercanda. Mereka akan bertanya, ‘kamu butuh pertolongan?’ ”

“Ya, aku ingin menceritakan sesuatu. Aku tak tahan lagi, aku bisa mati.”

“Mereka biasa memasang tarif…”

“…”

“Tapi denganku, kamu bisa gratis.”

“Gratis. Selamanya gratis. Sampai mati, gratis. Aku memang disiapkan untuk mendengarkan apa saja dan untukmu semua gratis.” Aku mendengarnya tersedu sedan. “Aku disiapkan untuk mendengarkan cerita-cerita yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.” Semakin keras. “Mereka bilang aku tidak boleh ikut menangis, tapi aku siap jika harus menangis bersamamu. Kumohon…”

Aku menyodorkan kembali si kotak ke dekat kakinya dan dia mengangkat kepalanya yang cantik dan banjir air mata.

“Ceritakan aku sisanya. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan cerita–”

“Tidak sebanyak itu. Hanya tinggal ini. Ini yang terakhir.”

“…”

“Aku takut kehilanganmu, lagi…

***

Kamu tidak pernah tahu tentang aku sebelumnya dan aku bahkan yakin bahwa kita tidak akan bertemu lagi. Tapi, aku selalu berharap untuk diketahui, dikenali, ditemui, disapa, diajak berbicara, atau apapun olehmu, sampai detik ini.

“… Apakah kamu akan terkejut jika ternyata kamu adalah orang yang ada di benakku ketika dengan sembunyi-sembunyi, takut-takut, malu-malu, aku menuliskan namamu kecil-kecil di salah satu sudut di dinding itu bersama dengan namaku bertahun-tahun yang lalu?”

Tatapanmu menyiratkan tanda tanya yang besar sekali. Tapi kemudian:

“OOOOOH!!!”

Aku melihatmu terkejut seperti sedang tersambar petir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s