Dunia yang Bernama “Dunia Nyata”

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/306/Dunia-yang-Bernama-Dunia-Nyata

Sep 15, ’11 10:15 PM

Mungkin, tulisan ini untuk adik-adik mahasiswa baru saja, deh😀 Mahasiswa lama juga boleh…
Ceritanya adalah… Pada hari menjelang sidang skripsinya, seorang temanku meminta dukungan teman-teman seangkatan untuk mendukungnya, mendoakannya via grup angkatan di fb. Biasa lah, responnya ya seperti itu. Hanya saja aku mencermati salah satu komentar. Isinya bagus, karena ia mengingatkan tentang keberadaan “dunia nyata”, dunia pascakampus. Tapi, kok aku merasakan suatu ironi ya, karena seakan-akan lulus cepat “sama dengan” cepat menderita, gara-gara keberadaan dunia nyata ini.
Aku bertanya, pertama, “Benarkah?” Yang kedua, “Memang kampus bukan dunia nyata, ya?” Sebelum melanjutkan, terkait dengan pertanyaan di atas, aku teringat pengalamanku sendiri tentang keluar dari dunia remaja dan menghadapi kedewasaan.
Pertama, sebelum memikirkan dunia nyata ini untuk pertama kalinya, aku merasa baik-baik saja. Menurut teori psikologi, dunia nyata itu makanannya orang dewasa, bukan remaja. Usia remaja terentang dari sekitar umur 10 sampai 20-an. Pada pembagian yang lebih spesifik, masa itu berakhir pada usia 22 sampai 24 tahun untuk selanjutnya seorang remaja berubah menjadi orang dewasa awal (early adult). Wah, aku masih selamat, dong. Belum waktunya aku memikirkan hal yang serius-serius. Itu pada awalnya. Sekarang? Aku merasa goblok percaya pada teori yang begituan. Memang, apa artinya angka di atas itu??? Memangnya tanggung jawab datang tergantung angka-angka itu?
 
Kedua, kakiku ada dua. Yang satu masih belum mau meninggalkan masa remaja, yang satu takut-takut menapak di masa dewasa. Menurut teori psikologi, itu termasuk salah satu masalah yang bernama krisis perkembangan. Normal. Karena krisis perkembangan terjadi pada setiap transisi kehidupan. Awalnya aku mempercayai kenormalan itu. Sekarang? Lagi-lagi aku merasa goblok. Normal apanya? Di buku memang bilang itu fenomena normal, tapi pengalaman transisi ini sungguh terasa tidak normal. Kecemasannya, kebingungannya, rasa krisis dan kerentanannya, ketidakberdayaannya semua bercampur-baur bersama optimisme, cita-cita, harapan akan masa depan, rasa mampu, rasa sudah menjadi dewasa. Balon keyakinanku kembang-kempis: masa depan terlihat menyenangkan sekaligus menakutkan.
 
***
Mungkin, semacam itulah perasaan ketika suatu krisis perkembangan melanda, termasuk melanda mahasiswa psikologi. Itu pengalamanku, tapi entah dengan teman-teman. Inilah fenomenanya. Sekilas mungkin kita, aku tepatnya, sedang menyalahkan teori yang tampaknya tidak akurat. Tapi, teori itu menolong kita dalam satu hal: menyadarkan kita akan suatu tantangan dan mengajak kita untuk bersiap menghadapi apapun yang dapat terjadi seiring dengan perkembangan diri kita.
 
Perkembangan diri manusia adalah suatu keniscayaan. Suatu keniscayaan pula ketika kita berkembangan tanggung jawab datang, tugas-tugas perkembangan, istilahnya. Sebagai contoh, masa anak-anak dan remaja adalah masa bermain, menuntut ilmu,  dan mengembangkan keterampilan sosial. Masa dewasa adalah masanya bekerja dan berkeluarga. Masa tua adalah masanya istirahat dan berefleksi. 
 
Akan ada masa transisi antara satu masa perkembangan ke masa perkembangan lainnya dan di sini sangat mungkin terjadi masalah karena ketidakmampuan menyesuaikan diri. Mungkin, ada banyak orang yang berharap menjadi seperti Peter Pan karena tidak yakin dirinya mampu mengemban tanggung jawab kedewasaan. Ada juga yang masih belum bisa terbebas dari kebiasaan-kebiasaan masa bersenang-senangnya, belum siap mengandalkan dirinya sendiri, atau belum berhasil membentuk pola pikir yang menunjang kedewasaan, seperti berani menderita, berani susah, berani gagal, dan sebagainya.
 
Dunia kampus adalah dunia yang memberikan kita kesempatan untuk mempersiapkan diri menuju kedewasaan dan “dunia nyata”. Kalau kutanya, “Benarkah lulus cepat sama dengan cepat menderita?” bisa jadi jawabannya adalah YA. Tapi, itu buat orang-orang yang menyia-nyiakan masa belajarnya karena asyik bermain-main dan tak segera menyadari bahwa dunia kampus adalah dunia nyata juga. Dari perspektif akhirat, memang dunia ini adalah sandiwara, penuh tipuan, senda gurau dan permainan belaka. Tapi, berhubung kita belum sampai ke sana, inilah dunia nyata kita, di mana kita masih bernapas, dengan segala keseriusannya yang membuahkan konsekuensi di masa depan.
 
Jadi, apakah masih bisa ditanyakan, “Memang kampus bukan dunia nyata, ya?” Itu konyol. Kampus itu dunia nyata sehingga menurutku, aneh kalau ada orang yang berpikiran dunia pascakampus-lah kenyataan hidup yang sebenarnya. Itu pengertian yang sudah sangat sempit karena dunia nyata hanya dihubungkan dengan sejauh mana kita dapat menjadi bagian dari angkatan kerja tahun sekian dengan tugas beken bernama membangun negara (catatan: membangun negara tidak pernah masuk menjadi tugas perkembangan orang dewasa dalam teori psikologi ^.^), sehingga selama kita nanti sudah bisa bekerja, kita sudah aman dan selamat.
Kampus itu dunia nyata, dan aneh sekali jika ada orang yang masih bermain-main di dalamnya. Pernahkah berpikir bahwa di situlah kita membangun pola pikir, sikap dan perilaku orang dewasa yang bermoral dan terdidik sehingga kelak ia dapat berusaha menghindarkan dirinya dari perbuatan jahat? Bagaimana bisa, sejak menjadi mahasiswa ada orang yang malah menjadi bebas tak karuan, malah belajar tentang hidup mabuk kesenangan, berfoya-foya, tidak  serius menuntut ilmu, hobinya nyontek waktu ujian, IP-nya jelek, dan lain sebagainya, jika ia punya orientasi untuk juga membangun dirinya dalam proses belajarnya?
Pada titik ini aku merasa goblok belajar psikologi yang tidak lengkap, di mana pemahaman tentang real world hanya terbatas dunia ini saja, di mana tugas-tugas yang diakui hanyalah yang berkaitan dengan perkembangan diri sendiri dan tanggung jawab sosial.
Di mana tugas bertanggung jawab terhadap Allah ketika kita sudah akil baligh dan tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi diri sendiri dan orang lain? Apakah manusia harus menunggu sampai berusia 20-an tahun dulu baru dia menjadi manusia yang baik, atau usia 50-an untuk ingat dosa?
Seandainya psikologi yang ada saat ini turut membantu menyadarkan kita akan adanya tugas perkembangan yang satu ini, mungkin dapat tercegah keberadaan orang tua yang baru beribadah, beramal saleh dan ingat mati setelah tua atau yang menyesal karena masa mudanya hanya dipakai untuk bersandiwara, menipu diri, bersenda gurau, dan bermain-main.
 
Ketika kita diminta untuk mempersiapkan diri, ingat, ada jiwa yang perlu dikuatkan. Dan jiwa yang kuat adalah jiwa mau menerima cahaya agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s