Hidup dalam Risiko

Kepatuhan itu butuh rasa takut. Bukan sekadar takut pada figur yang memegang otoritas yang berwewenang menjatuhkan hukuman, tetapi  juga takut pada yang namanya risiko yang akan menimpa diri, akibat-akibat yang tidak menyenangkan, kerugian. Akibat yang tidak menyenangkan adalah suatu hal yang nyata akan terjadi sebagai hukum kehidupan dari dilakukannya sesuatu hal yang buruk.

Mungkin itu, salah satunya, adalah ketidakpatuhan itu sendiri yang disebabkan oleh rasa aman yang tidak sehat. Terjebak dalam perasaan selamat “aku baik-baik saja” karena buta akan pengetahuan dan kebijaksanaan futuristis.

Rasanya, sekarang ini jadi belajar mengapa dalam Al Qur’an banyak sekali ancaman yang berhubungan dengan masa depan, hari akhir dan dunia akhirat.  Maka, pikirkan tentang diri kita sendiri yang nasibnya ada di tangan kita sendiri, bukan dalam artian yang egoistik atau narsistik.

***

Hidup di dunia, mungkin kau adalah orang yang mati-matian mengejar kebahagiaan, manfaat dan kebaikan. Kau melakukan apa saja demi hal-hal itu. Namun demikian, tetap saja tidak ada manusia yang bisa mengelak dari ketidakbahagiaan, kerugian dan keburukan. Dunia bagaikan bola yang menggelinding, menyeret banyak hal ke dalam pusaranya dan semua menjadi ruwet tanpa dapat dihentikan, benang yang begitu kusut dan tidak mungkin diuraikan.

Apakah kau merasa baik-baik saja untuk setidaknya, tidak merasa bersalah? Kau mencari-cari penyebab, orang-orang yang bersalah, kejadian-kejadian yang dapat disalahkan. Berani memang karena benar, tetapi dalam hal ini mungkin saja kau berani karena merasa sudah benar. Kau tidak takut karena merasa sudah benar.

Sampai titik tertentu kita tidak bisa mengendalikan hal-hal di atas. Semua begitu normal. Bagian dari kehidupan kita yang biasa dan kita membicarakannya. Jadi, andai ditanya apakah kau akan percaya jika dikatakan kehancuran negara ini adalah (juga) karena ulahmu? Bagimu, jawabannya pasti (hanya): salahkan pemerintah dan salahkan koruptor.

Bagimu, tidak mungkin kau ambil bagian dalam hal kehancuran ini. Kau hanya manusia biasa, warga negara biasa, bekerja biasa, makan makanan biasa, berkendaraan biasa. Kau betul-betul biasa, kau bukan siapa-siapa yang dapat melakukan sesuatu yang berpengaruh sedemikian rupa. Kau betul-betul orang biasa yang berusaha bertahan hidup dan menikmatinya. Tidak ada kewajiban untuk menjadi orang yang sedikit tidak biasa.

Kau tidak mau disalahkan, dan sungguh kau merasa mulia jika kau tidak menyalahkan orang-orang yang sama biasanya denganmu. Itulah kebaikan yang kau pikir bisa kau lakukan agar tidak dibalas dipersalahkan oleh orang lain, agar suatu saat kau diselamatkan dengan cara tidak disalahkan. Sama-sama manusia, tidak ada yang boleh menjadi malaikat atau dijadikan binatang. Kau menghargai karena ingin dihargai. Kau menghormati segala keputusan orang karena ingin pula dihormati.

Kau yang hobinya berkaca dan meminta orang lain berkaca. Kau yang tahu dirimu begitu biasa sehingga tidak patut berbuat apapun, meminta orang lain menemukan hal yang sama seperti yang kau temukan dalam dirimu. Jadi, jangan berkata apa-apa, bukan? Karena kau tidak melihat hal lain kecuali sosok manusiamu dan kau yakin mereka juga akan menemukan hal yang sama.

Betapa kau adalah pahlawan dengan semboyan “jangan sok suci” hanya karena kau tidak paham bahwa kesucian juga merupakan kebutuhan hidup.

***

Hidup dalam risiko, itulah kepastiannya. Semua hal memiliki dua wajah, baik dan buruk, kecuali yang telah dipastikan baiknya oleh Allah. Selalu ada potensi buruk, selalu ada kemungkinan bahwa kita menjadi manusia yang kotor dan berbuat salah. Rasa bersalah adalah hal yang menyakitkan. Manusia ingin terlindungi/dilindungi dari perasaan ini. Rasa bersalah bagaikan rem di jalanan kehidupan yang memaksa kita untuk berhenti dan melihat kondisi diri kita. Dan, obatnya adalah kejujuran untuk bisa berkata memang ada yang salah sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Kau mungkin berkaca, tetapi salah menangkap pantulan. Mungkin cerminnya yang kotor atau matamu yang terganggu. Tak mungkin membersihkannya dengan kain yang kotor, tak mungkin mengobatinya dengan obat yang tercemar. Bukankah kau ingin bersih dan murni, dikembalikan seperti semula? Mengapa menolak peringatan? Bukankah banyak orang yang juga ingin bersih dan murni? Mengapa menolak memperingatkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s