Hikmah dalam “Sejarah Filsafat Islam” Majid Fakhry

Jadi, satu bulan ini aku berusaha menyelesaikan buku yang satu ini. Awalnya mau menyerah pada 1/3 bagian pertama karena aku tidak paham isinya. Aneh, itu menghabiskan dua minggu sampai akhirnya kuputuskan dilewat saja.
Aku mendapatkan buku ini dari perpustakaan yang pernah kuceritakan. Buku tua, sepertinya tidak pernah disentuh pembaca. Buku ini ditulis oleh Prof. Majid Fakhry, seorang profesor filsafat dari universitas yang aku lupa namanya di AS. Mengapa aku tertarik? Jawabannya: Psikologi Islami. Mengapa bisa? Karena akar psikologi ada di filsafat tentang manusia. Di kuliah sejarah aliran psikologi, semuanya berawal dari Aristoteles dan Plato. Tapi semua itu bisa sampai ke Eropa lewat filosof muslim.
Pada awalnya, aku termotivasi untuk membaca karena ingin tahu. Setelah itu aku baru paham pentingnya memahami posisi setiap filosof dalam sejarah mereka sehingga paham mengapa buah pikiran mereka bisa begini dan begitu sampai hari ini, mengapa yang satu bisa menjadi pelopor sedang yang lain menjadi “falsifikator”, dan ternyata penghargaan baru benar-benar bisa kita berikan jika kita melihat semua karya mereka dari “atas”. Sama seperti analogi gunung, baru terlihat indah jika dilihat dari jauh sehingga gambaran besarnya tampak.
Aku sulit menceritakan detail perjalanan dalam buku itu, tetapi intinya adalah orang-orang ini ingin mempertahankan ajaran Islam lewat pemikiran yang rasional, makanya mereka berfilsafat. Sebagian menjadi “penyelamat”, sebagian menjadi “penggembira”, sebagian menjadi “pengkhianat”, tetapi tidak ada yang benar-benar benar dan benar-benar salah. Semuanya bagaikan mutiara yang sambung-menyambung. Tahu maksudnya mutiara? Ia berharga karena terbentuk lewat proses yang luar biasa. Benar, orang-orang ini cerdas, belajar, ingin tahu, dan berpikir, muncul seiring dengan pasang-surut peradaban Islam. Semoga aku tak salah menyimpulkan.
Lalu, di mana psikologi yang cari? Ada disebutkan dibeberapa tempat dan aku cukup puas. Hanya saja, karena aku masih bodoh, jadi aku tidak tahu bagaimana mengomentarinya. Kupikir, kalimat berikut ini bisa jadi pelajaran berharga:
Petunjuk utama manusia bagi pengenalan tentang dunia haruslah merupakan pengetahuan tentang dirinya sendiri. Bahwa pengenalan seperti itu mendahului pengetahuan lain yang manapun adalah sedemikian tak dapat disangkal sehingga untuk mengenal dunia luar sebelum menguasai pengetahuan tentang dunia dalam adalah sama gilanya  dengan orang yang berusaha mengangkat 1.000 pon, padahal 100 pon saja ia tak dapat mengangkatnya, atau berusaha untuk lari, padahal ia tak mampu berjalan.
 
Berkat renungan manusia terhadap kondisinya di dunia ini akan tersingkaplah kepadanya bahwa ia berada pada posisi pertengahan antara kekecilan yang sangat amat kecil dan keluasan yang tak terbatas; bahwa tubuhnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil; bahwa hidupnya tidak terlalu lama dan juga tidak terlalu singkat; bahwa kemunculannya di dunia tidak terlalu dini dan juga tidak terlalu lambat; dan bahwa rantingnya dalam hierarki penciptaan tidak terlalu rendah dan tidak terlalu mulia; dan jatuhnya pun di pertengahan antara malaikat dan hewan, pengetahuannya pun berada di tengah-tengah antara kebodohan total yang terakhir (hewani) dan pengetahuan total yang pertama (malakuti). 
 
Juga dalam hal permasalahan pokok, daya-dayanya tidak dibatasi tetapi juga tidak terlalu kecil. Karena ia tak dapat mencapai kuantitas yang tidak terbatas dan juga mencapai ukuran yang tak terbatas kecilnya, maka ia juga tidak dapat melihat warna-warna yang terlalu menyilaukannya, suara yang terlalu tajam di satu pihak, dan kesuraman atau keredupan yang luar biasa di pihak lain.” (Ikhwan al Shafa di abad ke-10, h. 252)
 
Jadi, seberapa baik kita memahami bahwa manusia itu makhluk yang proporsional? Dengan penjelasan begitu, tampaknya cukup kita tahu apa yang perlu diluruskan dalam memahami manusia di era modern ini.
Dari belajar sejarah, kita tahu bahwa manusia semua bergerak menuju kondisi yang lebih baik. Kesalahan-kesalahan dari masa lalu terkoreksi satu demi satu, tetapi selalu akan ada kesalahan-kesalahan baru. Sebenarnya ini peringatan agar kita tidak menjadi orang yang arogan. Sebagai contoh, al Ghazali yang mengkritik habis-habisan Al Farabi dan Ibn Sina pun dapat dikritik habis-habisan oleh Ibn Rusyd. Filsafat dan segala perjalanannya yang gemilang akhirnya dikritik pula oleh Ibn Taimiyah. Masa depan akan berkata apa, kita tidak tahu. Siapa yang akan menjadi tokoh selanjutnya? Tapi, yang penting adalah semoga kita bisa belajar dan mendapatkan ilmu yang menghantarkan kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat dari manapun datangnya.
Kita wajib berterima kasih kepada orang-orang yang telah memberi kita ukuran kebenaran betapapun kecilnya, apalagi kepada orang-orang yang telah mengajar kita lebih banyak lagi, karena mereka telah menanamkan saham dalam buah renungan mereka dan menyederhanakan permasalahan-permasalahan rumit berkenaan dengan sifat realitas…” (Al Kindi, h. 115)
 
Mari menjadi orang-orang yang berpikir😀
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s