Ilmu tentang Diri Sendiri

Nov 23, ’11 11:27 PM
Ini sangat personal, tetapi ingin kucatat, siapa tahu suatu saat bermanfaat. Aku sedang mencari-cari nama yang tepat untuk cabang ilmu “baru” ini; baru terpikir: ilmu tentang diri sendiri. Nah, kalau namamu Agus, boleh ilmu ini dinamai Agusologi. Kalau namamu Sri, boleh juga namanya Sriologi. Karena namaku Aftina, aku mau buat Aftinalogi.😀 Haha… bercanda.
 
Tidak bercanda. Aku benar-benar ingin mencatat apa yang tengah kupikirkan akhir-akhir ini. Does psychology really give me something? Aku hanya merasa geli. Belajar psikologi sebagiannya adalah kesempatan untuk mengenal diri, mendapatkan beberapa penjelasan tentang mengapa diri ini bisa begini dan begitu, dan membayangkan apa yang mungkin terjadi di masa depan jika diri ini begini dan begitu. Begitulah…
Tetapi selalu saja, I know my self better than those theories and theoreticians. Bukankah aku yang mengalami diriku sendiri? Bagi diriku sendiri ada pandangan yang kuterima, ada yang kutendang karena itu tak menjelaskan tentang aku sebagai aku yang aku. Jadi, kesimpulannya adalah ada sisi tak berguna dari psikologi. Sebenarnya ini masalah klasik. Semua orang pun tahu bahwa tidak ada teori yang sempurna. Tapi, kesadaran pribadi tentang pengetahuan ini menurutku berimplikasi serius.
Sulit menjelaskannya, tetapi salah satu gambarannya begini: kalau kau tahu psikologmu pro pada sekularisme dan memberimu saran-saran sekularis sementara kau tahu dirimu tidak begitu, maka kau punya kekuatan untuk berkata tidak. Kalau kau adalah mahasiswa atau dosen atau peneliti atau ilmuwan, kau berkesempatan dan punya argumen untuk membangun psikologimu sendiri yang menjelaskanmu.
Gambarannya yang lain cukup sederhana. Sama seperti orang yang tidak akan mau makan udang kalau tahu dia alergi udang, hanya saja kali ini tidak berkenaan dengan aspek fisik-material diri, tetapi psikis, bahkan spiritual. Kau mengenal hal-hal yang dapat melukaimu dan hal-hal yang dapat membahagiakanmu, lalu bertindak berdasarkan pengetahuan itu. Tidak hanya itu, seandainya kau bertindak tidak sesuai dengan harapan pengetahuan itu, kau tetap berusaha mengenali hal apa saja yang membuatmu memutuskan itu.
Kau melakukan self-analysis, analisis terhadap diri sendiri, mengamati dirimu sendiri, memahami reaksi-reaksimu sendiri, sehingga kau punya jawaban atas pertanyaan: bagian mana diri diri ini yang sama seperti orang lain, sebagian sama seperti orang lain, dan sama sekali berbeda dari orang lain? Kita bisa membuat teori tentang diri kita sendiri dan pengetahuan itu, jika benar-benar menjadi pengetahuan yang benar, akan menjadi wilayah yang tak tersentuh orang lain, dalam arti tertentu.
Ide mengenal diri sudah banyak dibicarakan orang, banyak dilakukan orang, termasuk diriku sendiri. Tapi, sudahkah kita benar-benar menekuninya sebagai suatu ilmu pengetahuan, ilmu tentang diri sendiri yang akan mengarahkan diri kita sehingga kita bisa bertanggung jawab atas diri kita sendiri? Aku hanya berpikir, mengapa kita menggandrungi hal-hal di luar diri kita? Bahkan psikologi pun dalam memahami manusia, ahlinya meneliti manusia lain, tidak dirinya sendiri yang juga merupakan manusia. Jika mereka berpendapat, itu komentar mereka terhadap kehidupan manusia lain sebagai objeknya.
Akhirnya, aku ingin berkata bahwa aku ingin menjadi subjek bagi pengenalan diriku sendiri. Aku sebagai “I” (baca: aku) dalam menghadapi “me” (baca: aku).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s