Ironi Dunia dan Kampus (yang Katanya) Hijau

*Hari ini aku menyerah “tidak naik motor” setelah lima tahun bertahan demi prinsip hidup hijauku. Ingin tertawa, bisa-bisanya aku seperti itu… Oia, sejak SMP, aku selalu menjadi staf sie. kebersihan kelas.😀

Original post: http://aftina.blogspot.com/2009/04/ironi-dunia-yang-katanya-hijau.html

Jumat, 24 April 2009
Selamat Hari Bumi, 22 April 2009!!!
Benar-benar tidak pantas jika kita mengucapkannya dengan nada seperti memberi ucapan selamat ulang tahun. Yang jelas, bumi semakin tua, tidak bisa kembali muda. Kerut-kerut di wajahnya semakin banyak, antiaging apa yang mau kita pakai?

Saya tidak tahu hari bumi adalah tanggal 22 April sampai saya membaca koran pada tanggal itu. Terdapat kampanye menarik dari suatu produk yang kalimat yang masih saya ingat adalah… Plant more… alias tanam tanaman lebih banyak lagi. Saya jadi ingin terkikik-kikik melihat kenyataan hidup saya sendiri sebagai mahasiswa di salah satu universitas yang juga mengkampanyekan “Hijau”.

Apakah “Hijau” selalu diartikan dengan tanaman dan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu? Sebenarnya tidak, jika kita benar-benar berorientasi untuk menjaga bumi. Apakah ini adalah kekeliruan? Entah kenapa, sepertinya semua orang beranggapan bahwa pemanasan global dapat dicegah dengan menanam pohon. Ini sedikit salah berpikir.

Satu hal yang membuat saya semangat masuk kuliah pada awalnya adalah menanti program universitas “satu tim, satu pohon”, itu lho… gerakan menanam pohon dan menyerahkan tanggung jawab satu pohon untuk dijaga dengan baik oleh tim yang berisi tiga orang mahasiswa. Saya membayangkan setiap hari menyirami pohon yang masih kecil itu, menjaganya sampai besar sehingga mungkin pohon itu boleh dinamai pohon “A”. Katanya program itu dijalankan di musim hujan nanti. Sekarang sudah berlalu dua musim hujan, semua orang tampaknya sudah lupa… Sudahlah.

Menyaksikan pemandangan, seperti yang ada pada foto di atas, membuat saya bertanya-tanya, “Buat apa pohon itu ditanam jika hari ini ia ditebang beramai-ramai begitu?” Tidak hanya di kampus, tetapi di jalan-jalan besar, banyak pohon yang ditebang. Saya langsung mengkaitkan fenomena ini dengan kebutuhan bahan bakar yang saat ini sangat penting. Banyak masyarakat yang tidak bisa beli gas, mereka memakai kayu lagi. Saya juga langsung mengkaitkan fenomena ini dengan “strange illegal logging” (istilah ini buatan sendiri) mengingat hutan Indonesia yang sekarat. Para pemburu kayu itu tidak hanya mencari kayu di hutan, tetapi juga di pinggir-pinggir jalan raya. Mencari-cari pohon-pohon di pinggir jalan yang lumayan… Tapi ini hanya pemikiran bodoh seorang mahasiswa, lho.

Kampus di mana saya berkuliah terkenal karena kemewahannya (ke-mepetsawah-annya). Sering jadi bahan lelucon dan kami para mahasiswa tertawa karenanya. Kampus saya dekat sekali dengan pemukiman warga petani. Setiap hari ada ternak yang kami lihat, seperti sapi dan kambing, di lahan kosong yang rencananya akan dibangun gedung baru. Ternak-ternak ini juga jadi bahan lelucon. Coba saja ketika kuliah dan kau mendengar suara lenguhan sapi. Seisi kelas bisa tertawa plus dosennya.

Ada keasrian yang saya saksikan setiap hari, terutama di musim hujan. Sawah dan rerumputan jadi hijau, ada bunyi air yang mengalir di selokan-selokan, dan yang menakjubkan ada sekawanan burung kuntul yang mampir ke kampus kami. Mereka berterbangan, saya seperti sedang menyaksikan film dokumenter “Wild Wild World”. Indah sekali, tatapi itu pemandangan tahun lalu…

Tahun ini lahan kosong tadi mulai dibangun. Yang saya lihat setiap hari adalah alat-alat berat, besik-besi dan orang-orang berhelm. Ke mana burung-burung itu pergi? Tak ada yang mencari tahu.

Kembali pada pohon, penghijauan di kampusku memang baru-baru saja, tetapi ada bagian di mana pepohonannya sudah cukup rindang. Akhir-akhir ini, pada hari-hari tertentu saya menyempatkan diri menikmati berjalan di bawah pohon-pohon itu di perjalanan ke atau dari kampus. Pada siang hari yang terik, berjalandi bawah pepohonan memang menakjubkan. Langit yang berwarna biru menjadi semakin indah terlihat di sela-sela dedauanan.

Hanya saja saya sedikit prihatin, tidak banyak orang yang benar-benar menyempatkan diri untuk “menyegarkan” diri dengan berjalan-jalan di bawah pepohonan. Saya jadi bertanya-tanya, “Buat apa menanam pohon?” Selama ini, hijau itu sendiri tidak bisa kita nikmati. Apakah karena kita hanya tahu fungsi pohon adalah penghasil O2 dan mencegah pemananasan global? Semakin saya perhatikan, saya semakin tahu kenapa di kampus saya nyaris “tidak ada” trotoar. Trotoar akan menjadi tempat hidup rumput jika manusia tidak berjalan di atasnya. Di kampus, tidak ada orang yang benar-benar menggunakan trotoar sebagai wilayah bagi pedestrian.

Hampir semua mahasiswa memiliki kendaraan bermotor, itulah kenyataan saat ini. Saya mengamati dua tahun menjadi bagian dari Penerimaan Mahasiswa Baru di kampus dan mengetahui betapa berbedanya presentasi pengguna motor antara tahun lalu dan tahun ini. Dahulu, tak banyak mahasiswa yang membawa motor, tetapi sekarang jumlah motor begitu banyaknya sehingga semakin dibutuhkan tempat khusus untuk mengakomodasi motor-motor itu.

Hal lain yang mengusik hati saya adalah penggunaan AC, air, dan listrik di kampus. Saya tidak tahu apa makna “Hemat Listrik” pada sebagian orang. Apakah hanya sekadar dimengerti sebagai alasan ekonomis, atau berpikir jauh ke depan untuk bumi?

Dimulai dari AC. AC layak dipakai seoptimal mungkin di waktu kuliah, sayangnya tidak ada yang bertanggung jawab pada AC ketika kuliah berakhir. Ketika kelas kosong, kebanyakan AC masih menyala dengan suhu yang luar biasa: 18°C. Tidak tahukan teman-teman mahasiswa kontribusi AC dalam peningkatan pemanasan global? Kenapa tidak ada yang sedikit merepotkan diri mematikan AC ketika yang kuliah berakhir atau ketika kelas hanya dipakai beberapa orang saja? Apakah karena kita masih memandang AC sebagai pemuas kebutuhan fisik saja?

Kemudian air, di mushola dan di kamar mandi. Ada saja orang yang tidak peduli pada keran-keran yang terbuka padahal tidak digunakan. Ternyata tidak banyak orang yang terusik oleh suara air yang mengalir. Betapa borosnya, air disia-siakan mengalir tanpa dimanfaatkan. Tidak banyak orang pula yang peduli pada air kamar mandi yang telah penuh. Ketika masuk kamar mandi, tujuan kita adalah keluar dari kamar mandi dan lupa bagaimana keadaan kamar mandi yang kita tinggalkan. Mengenai wudhu, ada saja orang-orang yang berlama-lama dalam wudhunya, atau membuka keran secara penuh untuk mengalirkan air. Perlu diketahui, satu gayung saja sudah mencukupi kebutuhan kita untuk berwudhu. Kalau begitu, ketika berwudhu, bukankah bisa membuka keran hanya setengahnya, tidak usah lebar-lebar?

Listrik. Banyak juga yang lupa kalau listrik itu dibeli dengan uang. Sama seperti kasus AC, banyak yang lupa mematikan lampu ketika kuliah usai. Kelas terang benderang padahal tidak ada siapa-siapa di dalamnya.
Ayo, teman, bagaimana kita menyelamatkan bumi? Ternyata yang membuat pemanasan global adalah diri kita sendiri lewat kebiasaan-kebiasaan hidup kita yang mengerikan. Kalau begini, ayo kita deklarasikan diri kita sebagai “Green Agent” atau “Agen Hijau”.

Agen hijau adalah agen pengingat hemat listrik, pengingat pemanasan global pada orang-orang yang belum paham, pembunuh AC dan lampu ketika tidak digunakan, penutup kran air ketika kran air itu terbuka tanpa digunakan, dan mencintai vegetasi-vegetasi yang ditanam di kampus.

Bumi tidak hijau lagi karena manusia, tetapi bumi masih bisa hijau lagi karena manusia. Tinggal bagaimanakah komitmen kita?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s