Manajemen Kekecewaan

*Hari ini sadar, gaya menulisku berubah. Dahulu terasa berbusa-busa…

Original post: http://aftina.blogspot.com/2009/06/manajemen-kekecewaan.html

Kamis, 04 Juni 2009

Kecewa adalah salah satu bentuk stres yang sangat sering kita alami. Sepanjang manusia memiliki kebutuhan, ia akan memiliki keinginan, dan sepanjang ia memiliki keinginan, ia akan kecewa.

Kebutuhan adalah mutlak dimiliki oleh setiap manusia. Kebutuhan menjadi sumber motivasi utama mengapa manusia berperilaku. Apa yang manusia lakukan, pasti ada motif di baliknya dan ketika kita membicarakan motif tersebut, maka itulah kebutuhanyang ingin ia penuhi. Sebagai contoh, seseorang yang bekerja, mengapa ia bekerja didorong oleh motif ingin mendapatkan uang yang dengan uang itu ia akan memnuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Contoh yang lain, seorang mahasiswa , mengapa ia kuliah didorong oleh motif agar mudah mendapatkan pekerjaan yang dibalik itu ada kebutuhan untuk memperoleh penghargaan diri. Masih banyak contoh lagi yang bisa kita pikirkan sendiri.

Pemenuhan kebutuhan membutuhkan daya dan upaya. Asumsi yang kita miliki adalah semakin besar daya dan upaya yang kita miliki, maka semakin besar kemungkinan kebutuhan kita penuhi. Pada bagian inilah kebanyakan manusia terbentur masalah pemenuhan kebutuhan. Sebagai contoh, kita sering dihadapkan pada kasus bahwa mereka yang tidak berpendidikan cenderung berstatus sosial ekonomi yang lemah. Mereka yang lemah secara kemampuan kognitif, lebih banyak bekerja di bidang-bidang yang mengandalkan otot.

Sebagaimana burung yang mencari makan harus terbang ke berbagai tempat, jika ia tak punya sayap, bagaimana ia bisa makan? Sayap ”tangan” yang kita miliki untuk memunuhi kebutuhan sebagian dimiliki oleh diri kita sendiri, sebagian besar ada pada diri orang lain. Ini mencerminkan kodrat kita sebagai makhluk sosial bahwa kita tidak dapat hidup sendirian. Karena kodrat kita sebagai makhluk sosial, komunikasi suatu keharusan jika kita ingin kebutuhankita dipenuhi dengan bantuan orang lain. Dengan ilustrasi tentang burung yang tidak bisa makan tadi, dengan bantuan burung lain yang menyuapinya, burung yang malang itu tetap bisa makan. Tetapi, apakah burung itu akan menerima bantuan jika ia tidak menyuarakan kebutuhannya kepada burung-burung lain?

Tanpa usaha, keinginan kita tidak akan terpenuhi. Sejauh ini kita akan sama-sama menyadari bahwa selalu ada dua kemungkinan atas suatu keinginan, yaitu: terpenuhi atau tidak terpenuhi. Keinginan yang terpenuhi akan membuat diri menjadi puas, tetapi keinginan yang terpenuhi akan menumuhkan kekecewaan. Maka kita dapat menemukan sebab pertama dan kedua mengapa keinginan kita tidak terpenuhi berdasarkan cerita si burung, yaitu: 1) Diri sendiri yang tidak berdaya dan upaya, dan 2) Ketidakmampuan kita mengkomunikasikan apa keinginan kita ketika kita membutuhkan bantuan orang lain.

Ketidakmampuan berkomunikasi bukan hanya masalah kita yang tidak bisa mengatakan apa keinginan kita karena suatu sebab, tetapi juga ketika kita bisa mengkomunikasikannya, hanya saja kita tidak efektif dalam mengkomunikasikannya. Apakah ketika meminta agar orang lain memenuhi keinginan kita kita sudah melakukannya secara santun dengan bahasa yang menyenangkan hati? Atau kita terkesan memperbudak mereka? Ketika kita terkesan menggurui atau menyuruh-nyuruh mereka, daripada keinginan kita terpenuhi, kita bisa jadi tidak disukai.

Setiap orang pernah bertemu pengemis. Ketika kita bertemu pengemis, jelas pengemis itu mengkomunikasikan bahwa dia meminta-minta, pesannya jelas kita tangkap. Walaupun pesannya jelas kita tangkap, ada orang yang mau memberi dan ada yang tidak. Khusus pada yang tidak, apa alasannya mereka tidak mau memberi sedikit saja uang mereka?

Dalam interaksi dengan orang lain terjadi pertukaran sosial dimana seseorang akan berperilaku jika perilakunya menguntungkan dirinya atau paling sedikit tidak merugikan dirinya. Sepanjang orang memahami bahwa dengan memenuhi keinginan kita, kebutuhannya juga terpenuhi atau paling sedikit ia tidak dirugikan dengan memenuhi keinginan kita, maka orang itu akan melakukan apa yang kita minta. Dapat disimpulkan bahwa sebab keinginan kita tidak dipenuhi oleh orang lain adalah keinginan kita merugikan dirinya.

Biasanya menjelang pasar berakhir, para penjual mengobral murah barang-barang dagangannya. Idealnya kita akan ramai mengerubuti mereka, tetapi ternyata tidak. Banyak juga yang melengos. Para pedagang itu sudah mengkomunikasikan maksudnya menggelar dagangan dan jelas pula dengan membeli barang-barang yang jadi super murah itu kita mendapatkankeuntungan dengan bisa berhemat. Tetapi dalam pikiran mereka yang melengos, seberapa pun bermanfaatnya barang itu, ia tidak akan membeli karena persepsinya pada barang itu bahwa ia belum membutuhkannya. Artinya, barang itu tidak berarti bagi dirinya. Kita simpulkan bersama lagi bahwa keinginan kita bisa tidak terpenuhi karena persepsi orang lain bahwa apa yang kita inginkan tidak berarti bagi dia.

Apa pentingnya saling mengenal satu sama lain? Benar juga pepatah yang mengatakan banyak kenalan banyak rezeki. Ada hubungan dalam persahabatan kita atau pekenalankita dengan orang lain yang membuat orang tersebut mau berbaik hati pada kita. Dalam persahabatan, misalnya, kita saling menanamkan harapan dan konsekuensi bahwa antarsahabat seharusnya saling membantu. Sebaliknya, mereka yang tidak saling mengenal baik akan lebih sulit jika meminta agar keinginan mereka dipenuhi.

Masalah kita ada di mana sehingga kita sering sekali merasa dikecewakan oleh orang lain? Memang menyebalkan, menyedihkan, dan menyakitkan hati ketika kita sudah mengharapkan sesuatu pada diri orang lain, orang lain itu tidak bertindak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Apalagi jika itu berurusan dengan masalah-masalah besar seperti kepanitiaan acara besar organisasi, deadline tugas kelompok yang sangat penting, janji yang sudah dibuat, dan sebagainya. Siapa yang tidak stres? Setiap orang akan stres! Bahkan frustasi dan depresi jika diperlakukan terus-terusan seperti itu.

Tapi, apakah stres adalah satu-satunya pilihan kita untuk merespon perilaku tidak mengenakkan dari orang lain? Jawabnya, tidak.

Orang yang kecewa adalah orang yang punya keinginan. Orang yang berkeinginan adalah mereka yang memiliki harapan. Orang yang terlalu berharap, mereka menggenggam harapan kuat-kuat dalam hati mereka, menutup mata bahwa harapan itu bisa saja gagal dicapai. Harapan yang melambung disusul dengan kegagalan, mereka sangat mungkin memutuskan untuk menyerah dan sedih bukan main. Mereka yang menyerah pada akhirnya tidak melakukan apa-apa. Mereka yang tidak melakukan apa-apa adalah mereka yang tidak mengenal kekuatan diri dan lingkungannya. Orang yang tidak mengenal dirinya adalah orang yang enggan berpikir, merenung, dan merasakan hakikat keberadaan dirinya.

Memang panjang, tetapi bisa disingkat kalimat pertama dan terakhir saja bahwa orang yang kecewa adalah orang yang enggan bepikir, merenung dan merasakan hakikat keberadaan dirinya.

Orang yang mau berpikir lebih dalam akan melampaui keinginan-keinginan. Mereka akan lebih baik dalam memahami banyak hal, terutama alasan-alasan di balik tercapai atau tidaknya suatu keinginan.

Ketika kita berhubungan dengan orang lain, pahamilah bahwa orang lain juga ingin dipahami tentang alasan-alasan ia berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Manusia berperilaku pasti dengan alasan di baliknya, itulah yang harus kita pahami sebagai obat kekecewaan kita.Orang yang tidak mau tahu dan tidak menerima alasan akan mengalami sakit hati yang lebih dalam daripada orang yang tahu alasan dan mau menerimanya. Maka, komunikasi tidak hanya sebatas kita menyampaikan pesan, tetapi yang menerima pesan juga berhak mengatakan sesuatu pada kita. Hubungan dua arah ini sangat sulit diwujudkan jika kita yang tidak mau mengenal orang lain sehingga orang lain tidak menaruh kepercayaan dan terbuka pada diri kita.

Memangnya apa untungnya bagi kita jika kita tahu alasan mengapa orang lain membuat kita kecewa? Perlu diketahui bahwa pemahaman akan suatu alasan akan membimbing kita untuk mengevaluasi banyak hal. Pernahkah dipikirkan bahwa orang lain yang tidak bersikap baik pada kita mungkin saja berperilaku begitu karena kesalahan yang kita pebuat sendiri? Dari evaluasi itu kita akan belajar menerima bahwa ada hal-hal yang berada di luar kehendak kita, seperti perasaan orang lain, harapan orang lain,persepsi orang lain, bahkan kehendak Tuhan Penguasa diri kita. Kita akan belajar menyadari bahwa sesuatu yang kita inginkan belum tentu baik bagi diri kita, sebaliknya yang tidak baik (kekecewaan) sebetulnya baik, terutama bagi pengembangan diri kita dalam menghadapi tantangan.

Di samping kita dapat mengetahui alasan-alasan, ada saat di mana kita tidak dapat mengtahuinya. Dan apa yang diajarkan oleh Islam adalah, berprasangka baiklah. Berpikiran positiflah. Pikiran positif adalah obat lain kekecewaan. Itulah yang sudah Tuhan siapkan bagi kita. Pikiran positif akan meringankan kekecewaan. Kita akan menyiapkan alasan-alasan yang baik mengenai tidak terkabulkannya keinginan kita. Kita akan menjaga hati kita dari rasa tidak suka pada orang-orang yang kita harapkan. Itu lebih baik daripada kita mengumpat tidak jelas, mengutuk orang yang ini dan yang itu, atau merasa tidak berdaya.

Apakah orang yang dapat menerima dapat kecewa? Sekalipun ia merasa kecewa, ia mungkin hanya menganggapnya sebagai angin lalu kehidupan yang ia jalani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s