Manajemen Tidur Bangun Islami

Dia-lah yang Menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia Menjadikan siang untuk bangun berusaha.
QS Al Furqan: 47
 
***
 
Beberapa bulan yang lalu, aku pernah berbincang dengan seorang teman tentang tips “melek” di ruang kuliah. Biasa, masalah mahasiswa yang mudah mengantuk waktu kuliah. Waktu itu ingin sekali segera membuat tulisan tentang itu, tetapi aku kehilangan kesenangannya. Waktu pun berlalu, aku mendapat kesempatan untuk berbincang dengan seorang teman tentang tips “merem”. Lagi-lagi, biasa. Masalah mahasiswa yang begadang overdosis. Haha… ini hampir menjadi masalah kita semua😀 Pernah mengalaminya, teman-teman?
 
Tidur, bangun dan berbagai permasalahannya adalah topik menarik dalam psikologi. Secara khusus, waktu kuliah aku mempelajarinya dalam Psikologi Abnormal dan Kesehatan Mental. Beruntung, kedua mata kuliah tersebut termasuk yang menjadi favoritku sehingga beberapa detil tentang tidur dan bangun masih lekat dalam ingatan. 
 
Dalam agama kita, tidur juga merupakan topik yang menarik untuk dibahas. Dari sekian banyak penjelasan, aku berkesimpulan bahwa tidur dan bangunnya seorang muslim sama seperti makan dan minumnya: kita semua dituntun untuk bijak dalam memenuhi kebutuhan biologis, agar tidak kurang, tidak berlebihan dalam tidur dan bangun. Tidur terus sama tidak baiknya dengan bangung terus. Tidak tidur sama buruknya dengan tidak bangun. Telah teruji secara klinis, jika kita tidur sesuai tuntunan Al Quran dan Rasulullah, maka yang kita peroleh tidak hanya kesehatan secara fisik, tetapi juga secara psikis :D Bagaimana bisa? Bisa.
Apa sih fungsi utama dari tidur? Yang jelas bukan untuk mengisi waktu sembari bosan, melainkan untuk istirahat. Ketika beristirahat, yang sebenarnya kita lakukan adalah berhenti sebentar dari berbagai aktifitas dan melepas lelah. Itu artinya, kita sedang melakukan suatu upaya melepaskan tekanan fisik dan psikis yang kita peroleh dari kesibukan kita sepanjang kita bangun. Seperti tali, jika ditarik terus dia akan putus, jika dibiarkan longgar tidak berguna untuk mengikat, demikian kondisi fisik dan psikis kita. Meredakan tekanan (stres) dengan tidur adalah salah satu cara untuk memelihara kesehatan mental.
Tidur yang mengistirahatkan adalah tidur yang sehat (karena ada tidur yang tidak sehat):
Pertama, waktunya tepat, yaitu di malam hari, dan tidak larut malam. Bisa kita gunakan tuntutan Rasulullah “tidur cepat, bangun cepat”.
Kedua, proporsinya tepat, tidak kurang dan tidak berlebihan. Menurut suatu hasil penelitian, sebenarnya orang cukup tidur hanya 3 jam (tidur nyenyak) dan selebihnya alam mimpi. 
 
Ketiga, tempatnya tepat, yaitu di tempatnya. Bukan tidur duduk di depan komputer karena melembur kerja. Salah posisi tubuh waktu tidur bisa menyebabkan kaku otot yang menyakitkan, bukan?
Keempat, persiapannya tepat. Shalat isya’ dulu atau wudhu (wudhu itu relaksasi, lho), baca doa dan niat mau bangun pagi dan melakukan hal baik besok pagi. Bersihkan tempat tidur dan matikan lampu. Sambil menunggu lelap, kita bisa berdzikr kepada Allah karena dengan dzikr hati kita menjadi tenang, insya Allah, apapun masalah yang tengah kita hadapi.
Tidur yang sehat akan membuahkan bangun yang sehat juga (karena ada bangun yang tidak sehat):
Pertama, setelah tidur, kita bangun dengan energi cukup untuk melakukan aktifitas, terutama aktifitas yang berat secara fisik atau membebani mental, seperti berpikir. Bayangkan orang yang tidurnya kurang, dia akan lemas di ketika bangun. Sedangkan orang yang kebanyakan tidur, malasnya akan terbawa sehingga ia mengantuk terus. Jika ada mahasiswa yang nasibnya seperti itu, tanyakan saja apa kabar tidurnya?😀
Kedua, setelah tidur yang tidak membawa-bawa masalah, kita bangun dengan pikiran yang tenang dan lebih jernih. Maka dari itu, jangan bangun kesiangan karena kesiangan cenderung membuat kita tergesa-gesa. Bangun subuh, lalu wudhu dan shalat subuh. Itu menenangkan.
Ketiga, bangun proporsional. Hari terang itu memang untuk bangun, belajar, bekerja dan berusaha. Kupikir ini memang mekanisme yang dapat membuat kita lelah sehingga hari gelap memang untuk tidur dan istirahat. Dari situ irama tidur dapat terjaga yang membuat kita tidak menjadi makhluk nocturnal. Sudah fitrahnya manusia merasa lelah dan menggunakan malam untuk istirahat. Maka, sebaiknya tidak kita langgar fitrah tersebut.
Memang enak kalau kita bisa tidur dengan semangat, bangun juga dengan semangat karena keduanya dapat bernilai ibadah. Merasa tidur sebagai suatu nikmat, bangun juga suatu nikmat, kupikir dapat kita capai jika kita mampu menghargai waktu dan umur kita karena ada hal penting yang kita tuju dan ingin kita capai. Jangan meremehkan tidur, jangan mengabaikan bangun. Keduanya bersahabat baik😀
***
Sekian hari ini, penulisnya sendiri juga mau tidur 
Mungkin ini tulisan yang aneh karena terlalu ideal. Tapi, tulisan ini memang ditujukan untuk orang-orang yang berada dalam kurva normal. Orang-orang di luar kurva normal, terutama karena yang disebabkan oleh gangguan biologis atau psikologis harus bersabar, karena mereka punya pemecahan masalah mereka sendiri sesuai dengan gangguannya. Semoga kapan-kapan bisa dibahas di sini 
Zaman sekarang memang tidak setenang dulu. Kita orang-orang yang banyak dituntut dan juga menuntut diri sendiri. Tidur dan bangun dapat menjadi masalah yang rumit dan kompleks. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Oia, 70% isi tulisan ini adalah pendapat pribadi. Bisa baca artikel lain di sini. Jika teman-teman punya pengetahuan lain tentang tidur, semoga berkenan untuk berbagi.
“Bismika Allahumma Ahya wa Bismika Amuut”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s