Memahami Kesepian

*Waktu itu sedang merasa kesepian. Caraku menyelesaikannya: langsung mencari teorinya dan membuat artikel tentangnya. Salah satu sumber ide menulisku yang utama: fenomena pribadi.

Original post: http://aftina.blogspot.com/2009/05/memahami-kesepian.html

Senin, 11 Mei 2009

Manusia, sebagai makhluk sosial, tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Kontak sosial menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Ketika masih bayi, suara pertama kita adalah tangisan yang akan membuat ibu menghampiri kita. Sejak bayi, kita butuh diajak bicara, digendong, dibelai, dan dicintai, jika tidak kita akan mati.

Kebutuhan untuk bersama orang lain kita miliki sampai kita mati. Hanya saja sebagian dari kita merasa kesepian dan tidak memiliki teman untuk berbagi masalah. Apa jadinya ketika kita diberi kartu ucapan ”Penghargaan Orang Paling Tidak Populer”? Tentu hati kita akan hancur. Mereka yang diasingkan oleh teman-temannya merasa sakit hati yang mendalam dan cenderung menyalahkan diri sendiri. Mereka merasa malu dan tak bisa membicarakan masalah mereka dengan orang lain. Mereka, terutama lagi yang berasal dari keluarga miskin atau yang mengalami diskriminasi akan merasa kesepian sepanjang waktu.

Kesepian lebih dari sekadar sendirian dan cukup banyak orang yang menyukai kesendirian. Kesepian adalah ketika kita kehilangan dan merindukan suatu interaksi dengan orang lain (walaupun kita berada dalam keramaian, kita merasa kosong).

Terdapat banyak wajah kesepian. Kesepian terjadi ketika seseorang kehilangan interaksi dengan orang yang spesial dalam hidupnya, seperti ketika seorang adik kehilangan kakaknya karena kakanya sudah menikah, atau kehilangan suatu aktivitas sosial. Mereka yang mengalami kesepian sosial adalah karena tidak menjadi bagian dari kelompok sosial atau pertemanan yang mereka inginkan. Mereka yang mengalami kesepian emosional, tidak memiliki kedekatan atau keterikatan emosional dengan seseorang. Ada kesepian spiritual ketika kita merasa terpisah dari Tuhan. Ada pula kesepian eksistensial ketika kita merasa terpisah dari diri kita sendiri. Walaupun kesepian demikian buruknya, ada wajah lain dari kesepian yang mesti kita tahu.

Kesepian (loneliness) berbeda tipis dengan menyendiri (being alone). Dalam hidup kita dilahirkan sendirian, sendirian dalam menentukan perjalanannya, dan sendirian pula dalam kematian. Kita hidup bersama-sama orang lain, tetapi ada kalanya kita menjadi orang yang memisahkan diri. Kesendirian ini adalah kesempatan bagi kita untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kualitas diri. Bisa dikatakan, kesendirian ini cukup bermanfaat.

Perasaan-perasaan apa yang sesungguhnya muncul ketika kita kesepian? Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rubinstein dan Shaver (1982), terdapat empat macam emosi katika kita kesepian, yaitu: 1) desperation atau kehilangan harapan (merasa tidak berdaya dan takut), 2) depressed atau merasa depresi (merasa kosong dan mengasihani diri), 3) impatient boredom atau bosan yang tidak sabaran (bosan, marah, dan gelisah), dan 4) self-criticism atau mengkritik diri (merasa diri jelek, bodoh, dan tidak berharga). Kesepian dan harga diri membentuk suatu lingkaran setan, dimana kesepian dapat membuat harga diri rendah dan harga diri rendah juga dapat memunculkan kesepian.

Mengapa kita bisa mengalami kesepian? Jawaban yang paling umum adalah kehilangan suatu hubungan dengan orang lain, merasa tidak dibutuhkan, dan berbeda dengan orang lain. Kesepian dapat terjadi karena kepribadian kita tidak disukai orang lain sehingga kita dijauhi; kita yang tidak dimengerti oleh orang lain; lingkungan yang memaksa kita untuk menjadi sendiri; kita pindah ke lingkungan yang baru dan tentu berbeda; kita memiliki kebutuhan intimasi yang kuat dan tidak biasa; keluarga dan pertemanan yang miskin interaksi sosial; kesenjangan antara apa yang kita inginkan secara sosial dengan apa yang kita dapat sehingga muncul kekecewaan; mobilitas sosial yang membuat kita terpisah dari orang lain; memiliki keterampilan sosial yang buruk; rendahnya harga diri sehingga kita mengisolasi diri; kesulitan untuk mengungkapkan diri; persahabatan yang terbatas; sering menghabiskan waktu dengan aktivitas individual; nilai-nilai kultural, misalnya yang menekankan kompetisi dan kemandirian; tidak ada hubungan yang dekat dengan Tuhan; dan masih banyak lagi.

Mengapa kita butuh untuk mengenal perasaan apa yang muncul dalam kesepian dan sebab-sebabnya? Hal itu karena setiap orang punya sebab-sebabnya sendiri karena paa ia merasa kesepian. Jelasnya, sebab yang berbeda akan merefleksikan asumsi-asumsi yang berbeda tentang penyebab awal dan hasilnya dan membantu kita untuk menemukan cara-cara yang bebeda untuk menanganinya. Beberapa sebab memang mudah ditangani daripada sebab yang lain. Bisa jadi kesepian itu hanya muncul karena pemahaman yang salah tentang diri atau kurangnya kemampuan untuk bersosialisasi. Dari dua contoh tersebut, orang yang pertama dapat mulai mengatasi kesepiannya dengan memperbaiki pandangannya tentang diri, sedangkan orang yang kedua dapat mengatasi kesepiannya dengan melatih keterampilan sosial. Orang yang kesepian biasanya beropini yang buruk-buruk tentang dirinya dan opini-opini ini sangat kuat dalam membuat diri menjauhi kontak dengan orang lain untuk menghindari feedback yang mungkin negatif dari orang lain, misalnya untuk melindungi egonya yang rapuh.

Kesepian dapat memunculkan cara-cara yang negatif dalam upaya menghilangkan kesedihan karenanya. Beberapa orang bisa saja menjadi sangat mencintai idolanya sehingga perilaku terhadap idolanya menjadi berlebihan. Beberapa orang yang lain bisa jadi memiliki mekanisme penanggulangan masalah yang tidak produktif seperti melakukan penolakan terhadap kegiatan sosialisasi dengan alasan tidak tertarik dan sebagainya. Ada pula yang benar-benar menolak mengakui bahwa dirinya kesepian. Perilaku menipu diri ini akan melemahkan motivasi memperbaiki diri. Akhirnya, yang terjadi bukannya membangun keterampilan sosial dan hubungan sosial yang bermakna, orang tersebut malah mencari bentuk pelarian diri.

Terdapat lima kategori kegiatan yang dilakukan orang-orang yang kesepian. 1) Kesedihan yang pasif, dengan menangis, tidur, menonton TV, minum-minuman keras, menggunakan narkoba, makan, atau tidak melakukan apa-apa. 2) Kesendirian aktif, dengan bekerja, membaca, menulis, mendengar musik, berolahraga, dan betekun dalam hobi. 3) Menghabiskan uang dan meningkatkan penampilan. 4) Mencari-cari alasan dalam diri sendiri, seperti ”Aku sudah punya teman”, ”Aku punya kualitas diri yang bagus”, ”Kesepian ini tidak akan berlangsung selamanya”, dan sebagainya. 5) Menghubungi atau mengunjungi teman, meminta pertolongan atau bergabung dalam kelompok pertemanan. Cara pertama adalah yang paling umum dilakukan ketika kesepian, sedangkan cara keempat lainnya adalah cara yang cukup baik sebagai metode self-help.

Orang yang kesepian akan merasa kekurangan sesuatu dalam hidupnya, yaitu kebahagiaan bersama orang lain. Kesepian sebagai kondisi dimana kita sedang kehilangan dan merindukan suatu interaksi sosial perlu disadari sebagai suatu masalah yang harus diatasi segera. Sangat disayangkan jika ada orang yang menolak realita bahwa dirinya mengalami kesepian. Penolakan tersebut tidak akan membawa perubahan pada hidup malah menghambat berkembangan diri.

Sebagai makhluk sosial, kewajiban kita adalah saling memberikan kepedulian. Terutama terhadap mereka yang kesepian, kewajiban kita adalah mendekati mereka dan memberikan kepada mereka hubungan sosial yang hilang dari kehidupan mereka dan yang mereka rindukan untukmendapatkannya kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s