Memaknai Persahabatan Bag. 1

Reblog tulisan-tulisan lama dari aftina.blogspot.com. Wah, jadi kangen masa lalu! Waktu itu, kuliah menjadi saat-saat yang menyenangkan karena gara-gara kuliah, selalu saja ada ide untuk tulisan.

Original post: http://aftina.blogspot.com/2009/07/memaknai-persahabatan-bag-1.html

Jumat, 17 Juli 2009

 

Yuk, Menjalin Persahabatan!

Siapa orang di dunia ini yang tidak membutuhkan sahabat? Sekalipun sahabat tidak melakukan apa-apa bagi kita, melihat wajahnya saja kita sudah senang, bukan? Tahu tidak? Memiliki sahabat setidaknya membuatnya kita sehat secara mental. Itu kesimpulan saya karena suatu hari saya menyadari sesuatu: hanya di depan sahabatlah kita dapat bertingkah laku konyol tanpa harus menjaga image. Ha…

Ide tulisan ini sebenarnya adalah salah satu pertanyaan essai di ujian akhir semester mata kuliah kesehatan mental. Pertanyaan itu tentang bagaimana intimasi bisa dibangun dalam hubungan interpersonal. Secara umum, jawaban saya 90% ngarang, tetapi saya tidak melupakan tiga kerangka pentingnya. Mengapa kita bisa punya sahabat kental? Karena: 1) saling terbuka, 2) kesesuaian pribadi, dan 3) saling menolong.

Orang yang kesepian akan mencari teman. Orang yang sudah memiliki teman ingin menemukan sahabat.

Lebih dari sekadar teman, manusia membutuhkan kedekatan yang lebih lagi sampai pada akhirnya ia menemukan orang yang menjadi tempat baginya untuk membagi hal-hal terdalam yang ia miliki, seperti rahasia, masalah pribadi, kebiasaan, hal-hal konyol yang tidak ingin diketahui umum, nilai ujian yang super buruk, dan masih banyak lagi. Kesialan kita bisa jadi bahan lelucon yang tidak membuat kita sakit hati. Kita saling menyindir tanpa saling bermusuhan, tetapi lagi-lagi itu menjadi lelucon bersama. Kontak fisik yang pada hubungan biasa tampak mengganggu menjadi tidak lagi. Kita bisa memeluk dan menepuk punggung sahabat kita, menepuk-nepuk kepalanya, bahkan, untuk main-main, menjitaknya. Kita bergandengan tangan, mengirim banyak sms yang tidak penting hanya untuk cerita apa yang terjadi hari ini, mengucapkan kata-kata yang kurang sopan atau bermanja ria, meminjam barang-barang miliknya dengan mudah, meminta bantuannya dengan mudah, atau meminta makanan yang dimakannya tanpa basa basi. Sekalipun secara fisik terpisah jauh, antara dua sahabat masih memiliki ikatan emosional. Bagi dua sahabat yang membangun komitmen, jarak bukanlah hambatan bahkan penyemangat untuk terus menjaga hubungan.

Tapi… Untuk mendapatkan sosok sahabat seperti itu…

Sejauh mana kita mau membuka diri, saling mengenal dan bersedia membantu untuk orang-orang yang kita temui?

Bersedia membuka diri adalah tanda bahwa kita mempercayai orang lain. Bersedia membuka diri adalah pintu gerbang mendapatkan sahabat. Masih ingat, kan, saat-saat pertama kali masuk SMA atau kuliah? Membuka diri yang paling mudah adalah dengan tersenyum sambil mengucapkan nama, lalu asal, saudara ada berapa, hobi apa, dan, ”Oh, hobi kita sama!”, lalu pembicaraan berubah pada apa yang menjadi kesukaan bersama.

Saat berada di tempat yang asing, bukankah satu saja orang yang kita kenal adalah penyelamat kita di kala kita membutuhkan sesuatu? Meminta ditemani ke toilet, menemui guru atau dosen, selanjutnya kita akan lebih suka jika duduk di dekatnya. Jika sialnya kita beda kelompok dengan dia, kita kembali menjalankan ritual tersenyum, menanyakan nama, asal, keluarga dan sebagainya.

Dari pembukaan diri informasi tentang diri kita mengalir dan lagi-lagi kepercayaanlah yang membuat pembukaan diri kita tidak garing. Pasti kita pernah bertemu orang yang kita ajak bicara jawabannya hanya ya dan tidak, jawaban yang singkat-singkat saja, atau hanya menjawab dan tidak ada pertanyaan balasan. Mana tahan! Itu artinya ia belum percaya pada kita sehingga ia tidak siap memberikan informasi tentang dirinya.

Semakin kita membuka diri, kita akan saling mengenal dan mengetahui apa persamaan dan perbedaan di antara kita. Ketika kita sama, untunglah, itu adalah penguat hubungan, tetapi jika berbeda… Ada hal yang mulai tidak nyaman dirasakan, terutama jika perbedaan semakin runcing, banyak, dan tidak dapat dengan mudah disamakan, seperti perbedaan tabiat karena kita anak pertama sedangkan dia anak bungsu. Ada saat-saat dimana kita akan berkonflik.

Bagaimana cara menyikapi konflik dengan baik? Mungkin yang pertama bisa kita lakukan adalah menyadari bahwa kita punya andil dan bukan hanya salah dia kita berkonflik. Jadi, meminta maaflah. Bukankah sejak SD kita sudah diajari bagaimana bertoleransi? Perbedaan itu perlu diterima, salah satunya sebagai pengisi lubang-lubang kehidupan kita. Mungkin saja kita punya teman yang super cerdas sedangkan kita hanya biasa saja, maka dia adalah sumber dukungan kita untuk belajar. Jika dia pendiam sedangkan kita orang yang ramai, dia adalah tempat yang baik untuk curhat, sedangkan kita adalah orang yang baik sebagai penghibur hati.

Yang terakhir penting dalam menjalin hubungan adalah kesediaan untuk saling memberikan kebaikan hati, sekalipun itu adalah pertolongan yang sederhana. Menemani ke toilet, menemani makan siang, memberikan air minum, meminjamkan pena atau buku catatan dan fotokopian, meminjamkan buku bacaan, memberikan pujian dan penghargaan, memberikan senyuman, dan menjadi orang yang menyenangkan adalah kebaikan hati sederhana tapi penting.

Apakah persahabatan membutuhkan syarat?

Ada orang yang menjadikan orang lain sebagai syarat bagi kehidupannya. Ia akan memberi jika orang lain juga memberikan hal yang sama bagi dirinya. Seakan-akan persahabatan membutuhkan bukti empiris, ada orang yang mati-matian mengikat persahabatannya dengan berbagai atribut materi, seperti harus mengenakan atribut yang sama, memiliki tanda persahabatan berupa cincin atau kalung yang sama, mengikat janji sehidup semati, dan banyak hal lainnya.

Persahabatan yang menimbulkan ketergantungan adalah persahabatan yang tidak sehat. Persahabatan yang dibungkus adanya manipulasi juga tidak sehat. Persahabatan yang membuat kita tidak mampu berdikari adalah tidak sehat. Persahabatan yang membatasi minat dan kebebasan bertindak, serta mengancam keselamatan diri malah sangat tidak sehat. Karena salah satu aspek penting persahabatan adalah adanya optimalisasi diri kita sebagai manusia untuk terus berkembang dan memperbaiki diri. Karena persahabatan yang kita miliki tidaklah kekal dan hidup hanya berlangsung sekali, carilah sahabat-sahabat yang baik dengan cara yang sebaik-baiknya, tidak hanya untuk di dunia ini, tetapi juga di akhirat sana.

Karena pada hari akhir nanti…

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” QS Az Zukhruf: 67.

“Dan tidakada seorang teman akrab pun menanyakan temannya,” QS Al Ma’aarij: 10.

“Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini.” QS Al Haaqqah: 35

“Maka sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada bagian (siksa) seperti bagian teman-teman mereka (dahulu); maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakannya.” QS Adz Dzaariyaat: 59.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s