Motivasi dalam Proses Regulasi Diri Mahasiswa Berprestasi

Artikel penelitian ini dimuat dalam Proceeding Seminar Nasional Psikologi  “Tantangan Pengembangan Psikologi Indonesia” pada 6 September 2012, diterbitkan oleh Program Studi Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta.

MOTIVASI DALAM PROSES REGULASI DIRI MAHASISWA BERPRESTASI

 

Aftina Nurul Husna

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Semarang

 

ABSTRAK

 

Regulasi diri dipandang menjadi salah satu kunci pencapaian prestasi seseorang. Proses regulasi diri melibatkan keaktifan seseorang dalam menghasilkan pikiran, perasaan dan tindakan, merencanakan serta terus-menerus mengadaptasikannya guna mencapai tujuan-tujuan (Zimmerman, 2000). Mahasiswa yang berprestasi pun diasumsikan meregulasi dirinya untuk mencapai prestasi yang tinggi secara akademik maupun nonakademik. Tujuan penelitian ini adalah memahami proses regulasi diri mahasiswa yang berprestasi tinggi, terfokus pada aspek motivasionalnya. Partisipan penelitian berjumlah dua orang yang merupakan mahasiswa peraih gelar “Mahasiswa Berprestasi” lewat kompetisi tahunan Pemilihan Mahasiswa Berprestasi di Indonesia. Menggunakan metode analisis data fenomenologi deskriptif (Moustakas, 1994; Giorgi, 2009), peneliti menemukan 10 tema yang menyusun motif regulasi diri yang dialami partisipan dan mensintesiskan kesemuanya dalam deskripsi struktural fenomena. Disimpulkan bahwa pengejaran prestasi dimotivasi oleh keinginan berhasil memenuhi kewajiban sebagai anak dalam keluarga, memenuhi kebutuhan dan mencapai kepuasan pribadi, menjalani hidup bermanfaat dan bermakna, dan bersyukur kepada Tuhan atas keberhasilan menjadi mahasiswa. Penemuan yang berkaitan dengan persoalan kultural didiskusikan.

Kata kunci: motivasi, regulasi diri, mahasiswa berprestasi tinggi, “Mahasiswa Berprestasi”

MOTIVATION IN THE PROCESS OF SELF-REGULATION OF INDONESIAN HIGH-ACHIEVING COLLEGE STUDENTS

 

Aftina Nurul Husna

Faculty of Psychology, Diponegoro University, Semarang

ABSTRACT

 

Self-regulation is long understood as a significant factor that influences person/ student achievement. Self-regulation refers to self-generated thoughts, feelings, and actions that are planned and cyclically adapted to the attainment of personal goals (Zimmerman, 2000). High-achieving university students are assumed to regulate themselves to achieve high score in academic task and to maintain extracurricular activities harmoniously. This study is purposed to identify the process of self-regulation of high-achieving university student, focused on its motivational aspect. Participant of this study is two university students that won title “Mahasiswa Berprestasi” through annual competition “Pemilihan Mahasiswa Berprestasi” in Indonesia. Using descriptive phenomenological analysis method (Moustakas, 1994; Giorgi, 2009) of data from the participants, the author identifies 10 themes of motive of self-regulation and synthesizes them through a structural description of phenomenon. It is concluded that achievement striving are motivated by desire to successfully accomplish the obligations as child in the family, to fulfill personal need and satisfaction, to live a useful and meaningful life, and to thank God to have succeeded being a college student. Findings that related to cultural issues are discussed.

Key Words: motivation,self-regulation, high-achieving university student, “Mahasiswa Berprestasi”


 

Pendahuluan

 

Keinginan Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar menimpakan tanggung jawab yang besar bagi perguruan tinggi untuk mencetak sumberdaya manusia yang berkualitas. Sesuai dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perguruan tinggi bagaikan kawah candradimuka di mana di dalamnya mahasiswa dididik untuk membangun kemampuan dan kompetensi, tidak hanya secara kognitif, tetapi juga sosial, emosional dan spiritual.

Tidak dapat dipungkiri, semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun keluarga ingin agar mahasiswa berprestasi, sukses dalam studi, berkarakter, berkompeten, dan kompetitif sehingga pada akhirnya mampu mengharumkan nama bangsa dan negara. Namun, keinginan tersebut dihadang oleh satu kenyataan pahit bahw meskipun berbagai upaya telah dilakukan, sebagian mahasiswa tidak berproses dan berprestasi seperti yang diharapkan.

Ada titik di mana perguruan tinggi tidak dapat dipersalahkan lagi ketika kegagalan tersebut bersumber dari diri mahasiswa itu sendiri. Sarana prasarana belajar yang memadai, pengajar yang cakap, kebijakan akademis yang mendukung, dan luasnya kesempatan untuk mengembangkan diri lewat kegiatan organisasi dan kompetisi tidak akan bermanfaat jika mahasiswa tidak berinisiatif untuk memanfaatkannya. Meskipun mahasiswa itu cerdas dan berbakat, jika ia tidak aktif mengelola dirinya sendiri dan mau bekerja keras, maka ia tidak akan berprestasi.

Pemerintah dan perguruan tinggi pun berusaha mendongkrak prestasi mahasiswa lewat berbagai kebijakan akademis. Namun demikian, beberapa solusi sistemik atas permasalahan pendidikan ini tampak terlalu reaktif, diterapkan pada mahasiswa dengan cara yang cukup memaksa dan terlalu menekankan hasil daripada proses yang berkualitas. Hal itu mengabaikan hakikat prestasi sebagai hasil dari proses berprestasi, sementara prestasi yang memunculkan kebahagiaan dan kepuasan hidup adalah prestasi yang dicapai karena diinginkan dari dalam diri sendiri dan diusahakan sepenuh hati (Brown & Ryan, 2004).

Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti memandang perlu untuk mengetahui bagaimanakah proses berprestasi yang membuahkan prestasi itu. Pengetahuan tentang proses tersebut dapat menjadi suatu pembelajaran atau acuan bagi upaya pembangunan prestasi mahasiswa. Peneliti pun mengadakan penelitian terhadap mahasiswa yang berprestasi tinggi, yaitu mahasiswa yang menerima gelar “Mahasiswa Berprestasi”, untuk mengetahui seperti apa proses yang mereka lalui untuk berprestasi dengan menggunakan perspektif teori regulasi diri, berfokus pada aspek motivasionalnya.

            Regulasi Diri dan Prestasi Akademik

Teori regulasi diri merupakan salah satu perkembangan dari teori sosial kognitif. Berdasarkan teori sosial kognitif, manusia dikenal sebagai makhluk yang dapat mengorganisasi dirinya sendiri (self-organizing), proaktif, self-reflecting, dan mampu meregulasi dirinya sendiri, bukan makhluk yang reaktif, yang dibentuk dan dipengaruhi semata-mata oleh kekuatan lingkungan atau impuls-impuls dari dalam diri (Schunk & Pajares, 2005).

Kemampuan regulasi diri merupakan hasil dari adanya sense of personal agency, yaitu rasa dimana seseorang menganggap dirinya bertanggung jawab atas usaha pencapaian hasil. Maka dari itu ia membuat pilihan, membuat rencana untuk tindakan, memotivasi dan mengatur jalannya rencana dan tindakan (Woolfolk, 2010).

Regulasi diri didefinisikan sebagai suatu proses di mana seseorang menghasilkan pikiran, perasaan dan tindakan, merencanakan dan mengadaptasikannya secara terus-menerus untuk mencapai tujuan-tujuan personal (Zimmerman, 2000). Ia pun mengacu pada keterlibatan aktif seseorang dalam membuat tujuan, memantau dan mengevaluasi kemajuan dan, jika dibutuhkan, menyesuaikan strategi untuk mencapai tujuan (Senko & Harackiewicz, 2005).

Di Indonesia, sebuah penelitian disertasi menunjukkan hasil bahwa individu yang berprestasi tinggi memiliki karakteristik pekerja keras, disiplin, prestatif, berkomitmen, mandiri, dan realistis (Markum, 1998). Sekalipun tidak secara langsung berbicara tentang regulasi diri, penemuan tersebut bersangkutan dengan self-regulatory ability.

Hal yang sama ditemukan dalam kasus siswa yang berprestasi tinggi di bidang akademik sekaligus atletik di AS. Zimmerman dan Kitsantas (2005) menemukan bahwa pencapaian prestasi membutuhkan lebih dari sekadar bakat dan pelajaran yang berkualitas, tetapi juga keyakinan diri, ketekunan, dan kedisiplinan. Hal itu menunjukkan adanya dimensi self-regulatory dalam suatu kompetensi yang sering kali tersembunyi dan luput disadari berperan besar menjadi salah satu faktor penentu prestasi.

Dalam beberapa penelitian dalam konteks akademik, diketahui bahwa siswa yang berprestasi tinggi melakukan regulasi diri dalam aktivitas belajarnya (self-regulated learning). Regulasi diri mempengaruhi cara siswa menghadapi tugas akademiknya. Dalam belajar, tujuan mereka tidak sekadar mendapatkan nilai bagus (performance goal), tetapi juga mencapai penguasaan dan pemahaman materi (mastery goal) (Senko & Harackiewicz, 2005); cenderung untuk tidak melakukan prokrastinasi akademik (Rakes & Dunn, 2010) dan self-handicapping akademik (Thomas & Gadbois, 2007).

Evans (2007) dalam abstrak penelitian disertasi pada siswa sekolah menengah, menyimpulkan bahwa regulasi diri bermanfaat dalam membantu siswa mencapai banyak prestasi di sekolah, termasuk prestasi sosial yang dalam hal ini adalah penyesuaian diri dengan lingkungan sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa regulasi diri juga berperan dalam mengelola aktivitas sosial, di samping aktivitas belajar siswa.

            Aspek Motivasional dalam Proses Regulasi Diri

Motivasi merupakan salah satu aspek penting dalam proses regulasi diri. Regulasi diri tidak akan berjalan tanpa disertai motivasi diri untuk melakukan suatu tindakan (Zimmerman, 2000). Usaha-usaha dalam proses regulasi diri pada dasarnya merupakan usaha yang bertujuan dan berorientasi pada pencapaian target (goal-oriented behavior). Keberadaan target dan tujuan merupakan sumber motivasi; ia memberikan energi, mengarahkan perilaku, dan memberikan makna bagi kehidupan seseorang (Carver & Scheier, 2000).

Seseorang akan lebih memelihara pola perilaku dalam mencapai tujuan jika perilakunya didasarkan oleh motivasi yang bersifat internal. Adanya motivasi internal menunjukkan bahwa seseorang berperilaku demi suatu ganjaran yang intrinsik. Hal ini berkebalikan dengan motivasi eksternal yang mana seseorang berperilaku karena tuntutan dari luar dirinya, seperti untuk menghindari hukuman, mendapatkan ganjaran atau menyenangkan orang lain (Rothman, Baldwin, Hertel, & Fuglestead, 2011).

Terdapat beberapa hal yang menarik terkait persoalan motivasional ini menyangkut adanya pengaruh budaya dan agama terhadap orientasi tindakan. Salili (1996) mengungkapkan bahwa orientasi budaya suatu masyarakat mempengaruhi motivasi dan aktivitas belajar seseorang. Masyarakat Asia yang kolektivistik cenderung berprestasi demi kepentingan komunal mereka. Dalam Chong (2007) disebutkan bahwa siswa Asia didorong untuk berusaha keras demi memenuhi harapan orangtua dan sosial mereka. Mampu membuat keluarga bangga dan menjaga nama baik keluarga menjadi insentif yang lebih besar daripada kepuasan pribadi.

McCullough dan Willoughby (2009) mengemukakan bahwa agama mempengaruhi regulasi diri dengan mempengaruhi tujuan yang dimiliki seseorang. Agama mempengaruhi pemilihan tujuan, meningkatkan kepentingannya dengan adanya sanksi, mengurangi konflik antartujuan, dan mempengaruhi bagaimana tujuan diinternalisasikan.

            Permasalahan dan Pertanyaan Penelitian

Peneliti berasumsi bahwa prestasi yang tinggi dan seimbang mampu dicapai oleh mahasiswa melalui usaha keras berdasarkan kemampuan regulasi diri yang baik. Kemampuan tersebut memungkinkan mahasiswa berprestasi mencapai apa yang menjadi target dan tujuan-tujuannya dengan strategi-strategi tertentu. Namun demikian, meskipun secara teoretis teori regulasi diri yang ada cukup dapat menerangkan proses yang pada prakteknya membawa mahasiswa berprestasi tinggi, tindakan-tindakan yang terlibat atau menyusunnya, tetap belum diketahui.

Setelah semakin disadari besarnya pengaruh budaya (Chong, 2007; Trommsdorff, 2009), proses interpersonal (Finkel & Fitzsimons, 2011) dan religius (McCullough & Willoughby, 2009) terhadap proses regulasi diri, tantangan yang dihadapi penelitian ini adalah memahami motivasi  dalam proses regulasi diri di dalam konteksnya yang dialami oleh mahasiswa yang hidup dan dibesarkan dalam budaya Indonesia yang dikenal bersifat kolektivistik-religius.

Pertanyaan utama yang berusaha dijawab penelitian ini adalah: bagaimana motivasi dalam proses regulasi diri yang dilakukan oleh Mahasiswa Berprestasi?

Metode Penelitian

            Studi Psikologi Fenomenologi

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Fenomenologi berarti studi tentang pengalaman manusia dan tentang cara yang dengannya suatu hal dipahami sebagaimana ia tampak pada kesadaran. Psikologi fenomenologi adalah tentang deskripsi yang kaya dari pengalaman orang-orang, sehingga dapat diketahui aspek-aspek spesifik dari pengalaman beberapa orang (Langdridge, 2007). Tujuan utama dari studi fenomenologi adalah mereduksi pengalaman individual untuk mendapatkan hal yang esensial (mendasar) terkait fenomena (Giorgi & Giorgi, 2003). Esensi adalah hal yang paling mendasar dan dialami oleh semua subjek, serta sifatnya tidak bervariasi.

            Partisipan

Partisipan penelitian ini berjumlah dua orang dan merupakan mahasiswa yang meraih gelar “Mahasiswa Berprestasi” di tingkat universitas di Kota Semarang, berusia 20-21 tahun, dan belum lulus dari perguruan tinggi. Partisipan diperoleh secara purposif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

            Pengumpulan Data

Setelah mengajukan surat izin penelitian dan form kesediaan menjadi partisipan penelitian (informed consent), peneliti memulai proses pengumpulan data. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam (depth interview) selama tiga sampai empat kali pertemuan, masing-masing sekitar 1 sampai 1,5 jam.

Sebelum melakukan wawancara, peneliti mempersiapkan panduan wawancara. Peneliti memulai wawancara dengan pertanyaan yang bersifat umum tentang bagaimana perjalanan pencapaian prestasi partisipan selama menjadi mahasiswa. Penggalian informasi dilakukan ketika peneliti mendapati jawaban partisipan yang kurang jelas atau untuk mengetahui lebih dalam mengenai suatu topik dalam pengalaman partisipan. Setelah melakukan wawancara, peneliti mengubah hasilnya dalam bentuk transkripsi verbatim.

            Metode Analisis Data

Prosedur analisis dalam penelitian ini menggunakan metode fenomenologi deskriptif (descriptive phenomenology) (Giorgi & Giorgi, 2003; Moustakas, 1994) yaitu:

Memahami keseluruhan pengalaman. Tahap pertama dalam analisis adalah memahami pengalaman setiap subjek secara menyeluruh. Untuk itu, peneliti mendengarkan kembali rekaman wawancara dan membaca berulang-ulang transkripsi.

Horisonalisasi. Pada tahap kedua, peneliti mengidentifikasi “unit makna” dari data dengan cara mencermati makna dari ucapan subjek. “Unit makna” adalah satu bagian dari deskripsi (kalimat atau beberapa) yang mengandung satu makna saja sehingga dapat dibedakan dari unit makna yang lain. Horisonalisasi ini menghasilkan daftar unit-unit makna.

Mengorganisasi Unit-unit Makna. Pada tahap ketiga, peneliti mengorganisasi unit-unit makna ke dalam kategori-kategori (pengelompokkan/ clustering) berdasarkan kesamaan tertentu, lalu memberi kategori-kategori tersebut nama atau tema (thematizing). Tema-tema yang dihasilkan adalah poin-poin penting yang membentuk seluruh pengalaman subjek.

Menyusun Deskripsi Tekstural dan Struktural Individual. Pada tahap keempat, berdasarkan tema-tema yang membentuk pengalaman subjek, peneliti membuat semacam deskripsi yang menceritakan kembali pengalaman subjek berdasarkan pemahaman peneliti. Peneliti kemudian memunculkan makna psikologis (psychological significance) dari deskripsi tema tersebut. Peneliti melakukan refleksi atas pengalaman partisi[an dan mengungkapkannya lagi dengan bahasa yang kreatif dan psikologis tentang apa sebenarnya yang partisipan alami.

Identifikasi Tema Umum dan Khusus. Pada tahap kelima, peneliti mencermati tema-tema pengalaman setiap subjek untuk menemukan tema-tema umum yang dimiliki seluruh subjek beserta variasi individual yang ada. Tema-tema umum yang dimiliki bersama dikelompokkan sebagai indikasi adanya tema utama yang muncul dari seluruh pengalaman.

Sintesis Tekstural-Struktural/ Deskripsi Gabungan. Pada tahap terakhir ini, berdasarkan tema umum yang telah ditemukan, peneliti mensintesiskan deskripsi gabungan. Deskripsi tersebut mengintegrasikan seluruh pengalaman tekstural dan struktural seluruh subjek menjadi deskripsi yang universal yang merepresentasikan pengalaman seluruh subjek sebagai satu kesatuan.

Hasil

 

            Tema-tema Umum

  1. Peran sebagai anak tertua, harapan dan tanggung jawab untuk menjadi teladan. Kedua partisipan dalam penelitian ini adalah anak tertua dalam keluarga mereka. Di dalam keluarga, anak tertua berkewajiban menjadi teladan (model perkembangan) bagi saudara-saudara yang lebih muda.
  2. Tujuan berprestasi berorientasi pada keluarga, yaitu: 1) berbakti kepada orangtua/ membahagiakan orangtua dan 2) menjadi anak dan kakak yang baik/ memenuhi tugas sebagai anak dan kakak.
  3. Dalam hubungannya dengan orangtua mereka, kedua partisipan menunjukkan adanya ikatan emosional yang kuat, ditandai dengan adanya rasa sayang yang mendalam. Orangtua berperan sebagai significant other, tidak hanya karena perannya sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai penentu keberhasilan hidup/ prestasi kedua partisipan. Prestasi pun dirasakan sebagai suatu kewajiban moral terhadap keluarga yang jika tidak dicapai memunculkan rasa bersalah.
  4. Keinginan berprestasi dipengaruhi oleh konsep diri kedua subjek sebagai anak pertama, bahwa sebagai anak pertama mereka harus selalu baik dalam hal apapun, tidak hanya dalam hal prestasi akademik, tetapi juga perilaku dan mentalitas.
  5. Dalam konsep yang diyakini kedua partisipan, prestasi adalah sumber kepuasan hidup yang besar. Prestasi adalah 1) sumber kesenangan, manfaat dan kebanggaan dan 2) sarana untuk mengembangkan diri dan mengaktualisasikan kemampuan. Kedua partisipan membangun sikap positif terhadap prestasi (suka dengan semua hal yang akan membuat diri berprestasi, seperti belajar, kompetisi dan aktivitas organisasi).
  6. Keinginan berprestasi dipengaruhi oleh konsep diri kedua subjek sebagai anak berprestasi. Pengalaman menjadi “siswa teladan” selama masa sekolah membuat prestasi dirasakan sebagai bagian yang integral dalam diri dan kehidupan. Kedua partisipan tidak tenang dengan kondiri “menjadi yang biasa-biasa saja”, mereka berekspektasi tinggi pada diri mereka sendiri.
  7. Prestasi adalah jalan untuk memenuhi tujuan hidup yang prinsipil, mengada (eksis) sebagai manusia yang bermanfaat karena mampu melakukan sesuatu yang baik dan bermakna sesuai kapastias diri. Menjadi orang yang bermanfaat adalah jalan hidup yang diinginkan, yang dengan mencapai itu hidup akan terasa menyenangkan.
  8. Prestasi adalah jalan untuk membuktikan diri bahwa diri bisa, berkemampuan dan tidak lemah. Prestasi dicapai karena didorong oleh kebutuhan mengetahui sejauh mana kapasitas diri dan kemampuan otentik diri yang membuat diri layak menerima tanggung jawab hidup yang besar.
  9. Kedua hal di atas menjadi prinsip yang mewarnai upaya berprestasi dalam bentuk etos diri yang berorientasi pada kebermanfaatan, proses yang berkualitas dan perkembangan diri.
  10. Kedua partisipan berjanji untuk berprestasi karena dua hal: 1) bersyukur atas keberhasilan menjadi mahasiswa dan 2) bertanggung jawab atas pilihan belajar di bidang studi yang diinginkan. Kedua partisipan mengalami pengalaman masuk perguruan tinggi yang tidak mudah (melibatkan pengalaman nyaris gagal dan konflik preferensi dengan orangtua) di mana mereka harus bekerja keras untuk memenangkan bidang studi yang diinginkan. Rasa puas dan bersyukur pun diikuti dengan janji untuk berprestasi. Komitmen tersebut tercermin dari target prestasi tinggi yang ditetapkan untuk diri sendiri.

            Sintesis

Mencermati hal-hal apa saja yang menjadi motif berprestasi yang menggerakkan proses regulasi diri, regulasi diri untuk mencapai prestasi tampak merupakan proses yang multidimensional dan multitujuan. Meskipun dilakukan dalam konteks akademik terkait peran partisipan sebagai seorang mahasiswa, regulasi diri untuk mencapai prestasi bersentuhan dengan berbagai aspek kehidupan partisipan yang lain. Apa yang mendorong partisipan untuk berprestasi berasal dari ranah kehidupan nonakademik, seperti keinginan menyukseskan peran sosial sebagai anak dan kakak yang baik dan mencapai prestasi eksistensial-spiritual sebagai pribadi yang unggul, bermanfaat dan bersyukur.

Motivasi untuk berprestasi berasal dari berbagai sumber. Dorongan berprestasi yang besar muncul dari adanya tekanan untuk memenuhi harapan sosial (keluarga) dan menghindarikan diri dari merugikan kepentingan umum. Ikatan emosional, rasa sayang dan takut mengecewakan orang yang disayang, serta rasa bersalah karena gagal menjadi sumber kekuatan untuk berjuang yang besar. Dorongan berprestasi juga muncul dari kebutuhan diri untuk berprestasi dan memelihara integritas dan identitas diri sebagai individu yang berprestasi. Prestasi berkaitan erat dengan persoalan harga diri untuk mencapai kebanggaan dan menghindari rasa malu dari tidak berprestasi. Karena itu, tidak berprestasi dirasakan sebagai sesuatu yang mengancam harga diri. Terakhir, prestasi dicapai sebagai konsekuensi memiliki prinsip hidup yang bersifat moral-sosial-religius, untuk menjalani hidup yang ideal sebagai individu yang baik, dalam arti bermanfaat, mampu berbagi kelebihan diri pada lingkungan/ orang lain. Kemampuan untuk bermanfaat ini memberikan insentif berupa rasa bahagia dan puas karena dapat membahagiakan orang lain. Prestasi tampak merupakan konsekuensi/ reaksi adaptif atas pengalaman sukses dengan kebersyukuran sebagai proses yang memerantarainya.

Diskusi

Motif adalah sumber motivasi dan daya juang subjek dalam berprestasi. Pemahaman akan motif menjadi kunci memahami determinasi dan persistensi individu; apa yang membuat individu menghendaki “kesulitan” dan kebertahanannya dalam kesulitan tersebut demi berprestasi.

Perilaku manusia dapat dipahami dengan mengetahui apa tujuan/motif yang ia miliki. “Goals energize and direct activities; tujuan memberikan energi dan mengarahkan tindakan”, demikian dikatakan dalam Carver & Scheier (2000). Tujuan juga memberikan makna bagi kehidupan individu. Mencermati motif atau tujuan yang dimiliki partisipan, dapat dilihat bahwa berprestasi adalah sebuah perjalanan yang penuh makna, menyangkut kepentingan/ kebahagiaan orang banyak dan diri sendiri.

Prestasi akademik tidak menjadi hal berdiri sendiri. Peran sebagai mahasiswa tidak dimainkan atau terjadi dalam ruang hidup yang terisolasi secara akademik, melainkan berhubungan dengan peran-peran lainnya dalam hidup, menyangkut status diri sebagai makhluk individual dan sosial, serta spiritual. Dalam kemultidimensiannya, tujuan-tujuan berprestasi yang dimiliki subjek berhubungan dengan banyak motif, berkaitan dengan peran-peran yang dimainkannya dalam kehidupan.

Macam dari motif terentang dari yang berorientasi pada diri sendiri/ motif personal-instrumental (menjadi diri terbaik, mencapai kesenangan, kepuasan, dan kebanggaan), sampai yang berorientasi pada orang lain/ motif sosial-familial, dan pencarian kebermaknaan hidup/ motif yang bersifat eksistensial-spiritual. Di hadapan motif-motif tersebut, prestasi yang diperjuangkan tampak diposisikan sebagai sarana atau jalan untuk mencapai hal-hal lain yang lebih besar dan lebih penting dalam hidup tersebut.

            Peran Keluarga

Proses dalam keluarga menentukan proses regulasi diri. Hal ini mendukung teori yang menyatakan bahwa hubungan sosial memiliki pengaruh yang kuat dan luas terhadap proses regulasi diri seseorang (Vohs & Finkel, dalam Finkel & Fitzsimons, 2011). Hubungan sosial mempengaruhi keputusan tentang tujuan yang hendak dicapai, mempengaruhi usaha mencapai tujuan dengan memberikan dukungan sosial dan sumber kekuatan psikologis untuk meregulasi diri, mempengaruhi motivasi dan strategi, serta mempengaruhi pengawasan terhadap pencapaian tujuan.

Dihubungkan dengan keluarga, keberhasilan berprestasi dan (karenanya) membahagiakan orangtua memberi efek yang resiprokal, dirasakan sebagai sumber kebahagiaan diri sendiri. Kegagalan atau tidak berprestasi dipandang secara moral tidak diperkenankan karena berarti gagal memenuhi harapan orangtua. Emosi yang dirasakan dari kegagalan begitu intens, sedih dan mengecewakan. Adanya ikatan emosional dan rasa sayang terhadap orangtua dan saudara memunculkan rasa tanggung jawab yang besar untuk berprestasi dan mewujudkan harapan. Dalam proses pencapaian prestasi, mengingat orangtua menjadi sumber motivasi untuk berjuang yang besar.

            Peran Konsep Diri

Pencapaian prestasi erat kaitannya dengan persoalan identitas “siapa saya”. Bagi kedua partisipan, diri mereka adalah “kakak teladan dan anak yang berprestasi” sehingga selamanya “saya harus mampu menjadi teladan dan berprestasi”. Kedua subjek hidup dengan konsep diri yang demikian dan prestasi pun menjadi penting karena ia berhubungan dengan kebutuhan dan usaha memelihara diri untuk tetap menjadi diri yang ideal.

Penemuan ini mendukung konsep yang dikemukakan oleh Carver dan Scheier (2000) bahwa tujuan yang dimiliki seseorang adalah berkaitan dengan diri orang itu sendiri; “self is partly the person’s goal”, diri seseorang sampai pada titik tertentu merupakan bagian tujuan dari orang itu. Sebuah tujuan menjadi penting karena dihubungkan pada konsep diri seseorang.

            Peran Pengalaman Berprestasi

Pengejaran prestasi di perguruan tinggi melanjutkan keinginan berprestasi yang sudah ada sebelum partisipan menjadi mahasiswa. Satu hal yang menjadikan prestasi selalu diinginkan adalah karena prestasi memberikan “sesuatu” secara psikologis. Ketika berhasil mencapai itu, partisipan merasakan puas, senang dan bahagia. Lebih dari sekadar perasaan yang emosional, keberhasilan memunculkan rasa bermakna bahwa eksistensi diri tidak sia-sia. Karena itu, pengejaran prestasi pun menjadi menjadi jalan untuk mencari kebahagiaan diri.

Pencapaian prestasi memberikan efek yang menjamin keberlangsungan keinginan berprestasi lewat pengaruh psikologis yang diberikannya, berupa kepuasan hidup, seperti yang disebutkan oleh Sagiv, Roccas dan Hazan (2004, h. 73) bahwa pencapaian tujuan memuaskan kebutuhan psikologis dan mengharmoniskan diri (self-concordance).

            Isu Kultural dalam Proses Regulasi Diri

Beberapa temuan dalam penelitian ini bersangkutan dengan isu kultural dan religius. Pertama, mengenai motif berprestasi yang sangat mengutamakan kepentingan keluarga yang mencerminkan karakter kolektivistik masyarakat Asia (keinginan mewujudkan harapan dan berbakti kepada orangtua dan menjadi anak tertua yang dapat diteladani). Kedua, mengenai adanya rasa takut mengecewakan keluarga dan perasaan malu, bersalah dan sedih ketika gagal mencapai prestasi yang diinginkan yang mendorong kerja keras. Ketiga, mengenai pengaruh kebersyukuran terhadap motivasi dalam proses regulasi diri.

Temuan yang dihasilkan menunjukkan adanya peran budaya kolektivistik dalam regulasi diri partisipan yang merupakan orang Indonesia. Tujuan dari kolektivisme adalah mencapai harmoni dan berusaha demi mencapai kesejahteraan bersama di mana kepentingan bersama berada di atas kepentingan pribadi. Dari perspektif kolektivistik terhadap regulasi diri, perilaku individu dipandang merupakan hasil dari adanya harapan komunal (Jackson, Mackenzie, & Hobfoll, 2000).

Motif dan perilaku berprestasi partisipan menunjukkan kesamaan dengan yang dimiliki siswa di masyarakat Asia (dalam Chong, 2007). Orang Asia diajarkan untuk bersikap dan merespon dalam cara yang akan meningkatkan keterikatan mereka dengan significant other di lingkungan tempat tinggal. Seorang siswa didorong untuk berusaha keras memenuhi harapan orangtua dan sosial.

            Keterbatasan Penelitian

Betapa pun penelitian ini telah menghasilkan sebuah penemuan, penelitian ini tidak lepas dari keterbatasan metodologis yang berdampak pada aplikasi hasil penelitian, yaitu menyangkut jumlah subjek penelitian yang minim hanya dua orang dan karakteristik yang relatif homogen. Polkinghorne (dalam Cresswell, 2007) merekomendasikan bahwa jumlah subjek yang ideal untuk studi fenomenologis adalah 5 sampai 25 orang. Metode sampling yang utama bagi fenomenologi deskriptif adalah sampling dengan variasi maksimum (maximum variation sampling) (Polkinghorne, dalam Langdridge, 2007).

Penelitian ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dan akses terhadap subjek/ partisipan. Penelitian ini memiliki sumber yang sangat minim, mengingat ketatnya syarat yang peneliti terapkan sebagai karakteristik subjek. Peneliti mengambil subjek secara purposif, yaitu mahasiswa yang sangat berprestasi/ berprestasi tinggi, dilihat dari keberhasilan mereka terpilih menjadi Mahasiswa Berprestasi lewat kompetisi Pemilihan Mahasiswa Berprestasi di universitas dan menjadi finalis di pemilihan tingkat nasional. Jumlah individu yang menjadi subjek pun terbatasi lewat kriteria tersebut.

Peneliti pun tidak sengaja mendapatkan subjek dengan karakter yang serupa. Dilihat dari sudut pandang kultural, kedua subjek adalah wanita, menjadi anak sulung di dalam keluarga, berasal dari suku Jawa, dan beragama Islam. Dilihat dari latar belakang keluarga dan pengalaman hidup, kedua subjek berasal dari keluarga yang berpendidikan dan status sosial ekonomi yang relatif serupa, dibesarkan dengan pola asuh yang demokratis, menekankan peran anak pertama sebagai teladan dan keharusan berprestasi, dan menjadi Siswa Teladan di masa sekolah.

Persoalan tersebut mempengaruhi variasi data yang dihasilkan di mana peneliti menemukan ada lebih banyak kesamaan daripada perbedaan dalam pengalaman regulasi diri kedua subjek sehingga deskripsi pengalaman yang dihasilkan penelitian ini tidaklah kaya. Menurut Langdridge (2007), kekayaan data adalah hal yang penting karena hal itu memungkinkan subjek dipahami, yang dalam penelitian ini adalah mahasiswa berprestasi, dengan cara yang baru, cermat, mendetail, dan berbeda.

Setelah mempengaruhi hasil, keterbatasan mengenai karakteristik subjek mempengaruhi aplikasi hasil penelitian ini. Temuan dalam studi ini tidak dapat secara langsung diterapkan untuk memahami pengalaman individu yang berprestasi tinggi dengan karakteristik demografik dan latar belakang kehidupan berbeda, seperti dalam hal kondisi keluarga, profesi, jenis kelamin, suku atau agama.

Penutup

            Kesimpulan

Motivasi yang sifatnya internal adalah aspek penting dalam proses regulasi diri. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terlihat bahwa partisipan mengelola dimensi motivasi. Mereka memiliki banyak hal yang terus memotivasi mereka untuk mengejar prestasi. Secara eksternal, mereka berkomitmen pada peran dan tanggung jawab sosial yang mereka miliki untuk menjadi teladan dan anak yang berbakti dan mampu membahagiakan keluarga. Secara internal, terdapat kebutuhan pribadi untuk mempertahankan prestasi dan menggunakan prestasi tersebut sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan hidup yang prinsip dan menjalani hidup yang bermakna. Motivasi yang dimiliki bernuansa religius ditandai dengan terlibatnya kebersyukuran sebagai pendorong regulasi diri dan juga menyiratkan adanya pengaruh kultural masyarakat Indonesia yang kolektivistik; mengutamakan kepentingan komunal.

            Saran

Secara praktis, hasil penelitian ini menjadi masukan yang mendukung upaya peningkatan prestasi mahasiswa. Motivasi penting diperhatikan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi proses regulasi diri dan keberhasilan akademik. Ketika diketahui bahwa faktor sosial (keluarga), individu (pengejaran makna hidup) dan religius (kebersyukuran) berperan di dalamnya, maka upaya memotivasi mahasiswa dapat dilakukan dengan mengintegrasikan ketiga hal tersebut.

Penelitian ini dapat menjadi referensi bagi peneliti-peneliti lain yang ingin meneliti topik terkait regulasi diri, terutama dalam konteks yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Mengingat adanya keterbatasan dalam penelitian ini, peneliti menyarankan untuk dilakukan penelitian ulang dengan metode kualitatif dan subjek yang sama, tetapi dalam jumlah yang lebih besar atau penelitian baru dengan metode dan subjek yang berbeda.

DaftarPustaka

Brown, K. W. & Ryan, R. M. 2004. Fostering Healthy Self-Regulation from Within and Without: A Self-Determination Theory Perspective. Dalam P. A. Linley & S. Joseph (Ed.). Positive Psychology in Practice. New Jersey: John Wiley & Sons.

Carver, C. S. & Scheier, M. F. 2000. On The Structure of Behavioral Self-Regulation. Dalam M. Boekaerts, P. R. Pintrinch & M. Zeidner (Ed.). Handbook of Self-Regulation. San Diego: Academic Press.

Chong, Wan Har. 2007. The Role of Personal Agency Beliefs in Academic Self-Regulation: An Asian Perspective. School Psychology International. 2007, 28, 63.

Creswell, J. W. 2007. Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Thousand Oaks: SAGE Publication.

Finkel, E. J. & Fitzsimons, G. M. 2011. The Effect of Social Relationship on Self-Regulation. Dalam K. D. Vohs & R. F. Bauminster. Handbook of Self-Regulation: Research, Theory, and Applications Second Edition. New York: The Guilford Press.

Giorgi, A. P. & Giorgi, B. M. 2003. The Descriptive Phenomenological Psychological Method. Dalam P. M. Camic, J. E. Rhodes, & L. Yardley (Ed.). Qualitative Research in Psychology: Expanding Perspective in Methodology and Design. Washington, DC: American Psychologist Association.

Jackson, T., Mackenzie, J., & Hobfoll, S. E. 2000. Communal Aspects of Self-Regulation. Dalam M. Boekaerts, P. R. Pintrinch & M. Zeidner (Ed.). Handbook of Self-Regulation. San Diego: Academic Press.

Langdridge, D. 2007. Phenomenology Psychology: Theory, Research and Method. Harlow: Pearson Prentice Hall.

Markum, M. E. 1998. Sifat Sumber Daya Manusia Indonesia Penunjang Pembangunan: Studi tentang Prasyarat Sifat, Latar Belakang Keluarga dan Sekolah dari Individu Berprestasi Tinggi. [Abstrak] Disertasi. Universitas Indonesia. Diunduh dari: http://www.lontar.ui.ac.id//opac/themes/libri2/ detail.jsp?id=74950&lokasi =lokal.

McCullough, M. E. & Willoughby, B. L. B. 2009. Religion, Self-Regulation, and Self-Control: Associations, Explanations, and Implications. Psychological Bulletin. Vol. 135, No. 1, 69-93.

Moustakas, C. E. 1994. Phenomenological Research Methods. Thousand Oaks: SAGE Publication.

Rakes, G. C. & Dunn, K. E. 2010. The Impact of Online Graduate Students’ Motivation and Self-Regulation on Academic Procrastination. Journal of Interactive Online Learning. 9 (1), Spring 2010. Diunduh dari: http://www.ncolr.org/jiol/issues/PDF/9.1.5.pdf.

Rothman, A. J., Baldwin, A. S., Hertel, A. W., & Fuglestad, P. T. 2011. Self-Regulation and Behavioral Change: Disentangling Behavioral Initiation and Behavioral Maintenance. Dalam R. F. Baumiester & K. D. Vohs. Handbook of Self-Regulation: Research, Theory, and Applications Second Edition. New York: The Guilford Press.

Sagiv, L., Roccas, S. & Hazan, O. 2004. Value Pathways to Well-Being: Healthy Values, Valued Goal Attainment, and Environmental Congruence. Dalam P. A. Linley & S. Joseph (Ed.). Positive Psychology in Practice. New Jersey: John Wiley & Sons.

Salili, F. 1996. Learning & Motivation: An Asian Perspective. Psychology Developing Societies. 8, 55, h. 55-81.

Schunk, D. H. & Pajares, F. 2005. Competence Perceptions and Academic Functioning. Dalam A. J. Elliot & C. S. Dweck (Ed.). Handbook of Competence and Motivation. New York: Guilford Press.

Senko, C. & Harackiewicz, J. M. 2005. Regulation of Achievement Goal: The Role of Competence Feedback. Journal of Educational Psychology. Vol. 97, No. 3, 320-336.

Thomas, C. R. & Gadbois, S. A. 2007. Academic Self-Handicapping: The Role of Self-Concept Clarity and Students’ Learning Strategies. British Journal of Educational Psychology. 77, 101–119.

Trommsdorff, G. 2009. Culture and Development of Self-Regulation. Social and Personality Psychology Compass. 3 (2009), 5, h. 687 – 701.

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Woolfolk, A. 2010. Educational Psychology Eleventh Edition. New Jersey: Pearson Education International.

Zimmerman, B. J. 2000. Attaining Self-Regulation. Dalam M. Boekaerts, P. R. Pintrinch & M. Zeidner (Ed.). Handbook of Self-Regulation. San Diego: Academic Press.

Zimmerman, B. J. & Kitsantas, A. 2005. The Hidden Dimension of Personal Competence: Self-Regulated Learning and Practice. Dalam A. J. Elliot & C. S. Dweck (Ed.). Handbook of Competence and Motivation. New York: Guilford Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s