Muda yang Terdengar Menyenangkan

Percakapan yang bermakna, setidaknya bagiku. Sebelumnya, aku menahan diri untuk tidak bertanya padanya, “Memang, berapa umurmu sekarang?” Dia terdengar tua. Bukan. Sangat dewasa.
“The successful person has the habit of doing the things failures don’t like to do. They don’t like doing them either necessarily. But their disliking is subordinated to the strength of their purpose.”
 
J: Very good quote. I wish I had been shown this when I was very young.
A: Young. It sounds nice. Do some people really regret their young age?
J: They don’t regret their young age, but often you find wisdom at an older age that you wish you had when you were younger. “If I had only know then what I know now…
A: “often you find wisdom at an older age that you wish you had when you were younger“? I see it now.
 
 
***
Menjadi dewasa itu misteri. Ini bukan persoalan sudah berapa usia kita, melainkan sejauh mana kita dapat berpikir dan bertindak secara bijak, benar. Tapi, apa indikator kita telah berpikir dan bertindak bijak? Apakah ketika kita melihat ke belakang, tidak ada yang disesali karena tidak ada yang salah? Atau ketika kita melihat ke depan, tidak ada keraguan karena kita telah bertekad dan mengerahkan daya dan upaya terbaik?
 
Satu hal mengenai kedewasaan dan kebijaksanaan yang kupahami berkaitan dengan perhatian dan kemampuan membaca masa depan, tentang akibat dari segala sesuatu. Karena itulah, satu hal yang penting dimiliki oleh seseorang dalam hidupnya adalah pengetahuan tentang penyebab, tentang awal dan asal dari segala sesuatu yang bisa berakhir.
 
Muda, titik di mana kita bisa dikatakan “baru saja” mengucek-ngucek, membuka mata, bahwa diri tengah menuju masa depan, masa tua, masa berakhir, masa kembali tidak ada lagi.
 
Aku tidak bisa berpikir bahwa aku dengan usiaku sekarang aku masih muda, melainkan aku bertambah tua. Seperti sihir saja, aku hanya tahu dulu aku pernah begitu kecil dan kini sedemikian besar. Dulu aku pernah begitu kosong dan kini sedemikian bisa membantah. Dulu aku pernah begitu bergantung pada keberadaan di luar diriku dan kini, kecuali Allah, aku mulai berani melangkah sendirian, percaya diri, dan siap.
 
Tapi, kembali seperti sihir, kelak akan ada masa di mana aku berpikir: Dulu aku pernah sedemikian kuat dan bersinar, kini aku kecil dan meredup. Dulu aku sedemikian brilian, kini aku melupakan banyak. Dulu aku begitu independen, kini aku kembali lemah dan tergantung. Secara dramatis, semua akan menjadi kenyataan.
 
Masa depan tidak mengabariku apa-apa. Ia tidak membisikiku bahwa kelak akan terjadi ini, ini dan ini sehingga kau harus begini dan begitu. Atas kehendak Allah, aku diberi kekuatan untuk membentuknya. Aku berimajinasi, bermimpi, berencana tentangnya. Aku bertindak menurut apa yang kupikir dan kurasa benar. Aku tidak berencana untuk menjadi orang yang menyesal, menjadi orang yang berbuat salah, atau menjadi orang yang terhina.
 
Masa muda, masa berawal dan memulai banyak hal, yang menyenangkan… bukan masa mulai merajut jerat dan “mengurai pintalan”; membuyarkan harapan orang-orang yang menyayangi, mementahkan nilai-nilai moral dan agama yang ditanamkan sejak kecil, menghancurkan kebiasaan-kebiasaan baik, dan memasang wajah baru yang membuat diri tidak dikenal lagi. 
 
Masa muda… bukan tentang kesenangan apa saja yang telah dilakukan untuk mengisinya, seperti yang distereotipkan, tapi apa signifikansinya bagi masa selanjutnya yang tidak akan disesali. Ini masa menanam budi untuk masa depan, bahkan masa depan yang lebih jauh lagi, belajar yakin Allah tidak akan ingkar janji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s