Novel-novel Psikologis

Aku suka novel-novel psikologis. Aku sendiri mulai mengklasifikasi bagaimana sebuah novel terasa psikologis bagiku.

Pertama, karena ceritanya mengambil setting dunia psikologi, seperti novel tentang kehidupan seorang terapis, klinisi, atau psikolog. Contoh novel ini adalah Mechanical Cat-nya Torey Hayden.

Kedua, karena ceritanya menyentuh kehidupan psikologis seseorang. Contoh novel ini adalah Veronika Memutuskan Mati-nya Paulo Coelho.

Ketiga, karena ceritanya tentang orang-orang yang menderita gangguan psikologis. Contoh novel ini adalah “My Solitaire”, penulisnya aku lupa.

Keempat, karena ceritanya menyentuh sisi psikologisku sebagai pembaca. Ceritanya boleh sangat kriminal, politik, romantis atau apa, tetapi bermakna psikologis, seperti Kite Runner-nya “aku lupa penulisnya”. Wah, nangis bacanya…

Jadi, bulan ini terasa menyenangkan karena aku bisa membaca dua novel sastra yang sangat psikologis. Pertama adalah “Perempuan di Titik Nol”-nya Nawal el-Saadawi, feminis-psikolog dari Mesir dan “Kappa” karya Ryonosuke Akutagawa, sastrawan Jepang di era Meiji.

***

“Perempuan di Titik Nol” atau kusingkat saja PDTN bercerita tentang perjuangan seorang wanita untuk keluar dari penderitaannya yang disebabkan oleh pria-pria dalam kehidupannya.

Matanya terbelalak dengan rasa heran ketika ia sedang mengamati saya menghancurkan segenggam uang kertas itu. Saya dengar dia berkata:

“Kau memang benar seorang puteri. Mengapa saya tak percaya sejak permulaan?”

“Saya bukan seorang puteri,” kata saya dengan marah.

“Mula-mula saya pikir kau seorang pelacur.”

“Saya bukan seorang pelacur. Tetapi sejak semula, ayah, paman, suami saya, mereka semua, mengajarkan untuk menjadi dewasa sebagai pelacur.”

“Ayah tidak berbeda dari seorang raja kecuali dalam satu hal.”

“Dan apa itu?”

“Ia tak pernah mengajariku untuk membunuh. Ia membiarkan saya mempelajarinya sendiri sewaktu saya menjalani kehidupan.” (h. 144)

Wanita ini bernama Firdaus, dan dia benar-benar membunuh. Ia membunuh seorang pria yang menjadi germo para pelacur di tempat ia tinggal, sebagai pelampiasan atas penderitaan yang selama ini ia rasakan sebagai wanita. Ia dijatuhi hukuman gantung, tetapi anehnya ia bahagia dengan keputusan itu dan tidak mau meminta pengampunan pada presiden. Bagi Firdaus, vonis tersebut adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan sejatinya.

Novel ini benar-benar mengecam pria-pria jahat di bumi, siapapun mereka: ayah yang memukul anak perempuan mereka, paman yang melecehkan keponakan mereka, suami yang melukai fisik dan perasaan istrinya, pria yang mengabaikan cinta tulus seorang wanita, dan pria-pria lainnya di jalan, pegawai rendahan sampai golongan eksekutif, yang mencari-cari kesempatan memanfaatkan wanita untuk kesenangan mereka; pria-pria yang gagal menjadi pelindung wanita.

Novel ini adalah pengalaman nyata yang dituturkan oleh penulisnya yang berprofesi sebagai klinisi dan aku merasa “wooooow”. Ia mengubah “transkrip wawancaranya” (*membayangkan seakan-akan ini adalah penelitian psikologi) menjadi novel. Eh, berarti aku juga bisa dong? PTDN pada awalnya tidak menarik perhatianku karena penampilan bukunya yang tidak menarik, tetapi bagitu tahu ini adalah novel psikologis, aku merasa sangat… gembira? Sulit diungkapkan dengan kata-kata.

***

 

Kappa kutemukan di sebuah toko loak, dibeli di saat-saat terakhir, dengan uang terakhir. Membaca ini butuh perjuangan, hehe… aku tak tahan dengan bau apaknya yang aneh (mungkin ini bau kappa!), kertasnya sudah lengket-lengket seperti bekas terendam air.

Kappa itu memiliki tinggi kira-kira 1 meter. Rambut kepala kappa pendek, tangan dan kakinya berjari. Di atas kepalanya terdapat lekungan cekung yang berisi sedikit air. Sebelum kappa kehilangan air di atas kepalanya, ia lebih kuat daripada laki-laki yang paling perkasa sekalipun. Kappa hidup di air, biasa keluar di malam hari untuk mencuri semangka, apel, dan hasil ladang lainnya. Kulitnya yang licin, membuat kappa sulit ditangkap.

Awalnya bingung ini cerita apa, tetapi pada akhirnya bisa kusimpulkan bahwa novel ini bertutur tentang pengalaman halusinasi seorang penderita dementia praecox atau skizofrenia. Ini sebetulnya aneh, karena isi halusinasi si pasien no. 23 di dunia para kappa begitu moralis dan ironis (menurutku) karena penuh berisi kritik atas bagaimana dunia manusia dijalankan. Cerita ini berisi pengalaman si no. 23 masuk ke dunia kappa. Di dalamnya, ia bertemu dunia yang sebenarnya mirip dengan dunia manusia, tetapi memiliki beberapa perbedaan.

Cerita ini mengambil sudut pandang si penderita sehingga tidak aneh bahwa dunia menjadi terbalik. Halusinasi menjadi kenyataan, dan orang-orang normal, kita yang tidak mengalami gangguan jiwa, tak bisa mengerti itu.

 Menurut pemeriksaan dokter yang bertugas di sini, aku mengalami penyakit yang mereka sebut dementia praecox. Tapi menurut dr. Chak [salah seorang kappa kenalan si no. 23 yang berprofesi sebagai dokter] – yang menurutku akan sangat sulit untuk dimengerti – bukanlah aku yang mengalami dementia praecox, tapi kalian, dokter yang bertugas dan kalian semua. Jika ada orang-orang gila di sini, mereka adalah kalian! (h. 119)

Sulit untuk diuji apakah seorang penderita skizofrenia memiliki isi pikiran yang sedemikian “maju”. Dalam kegilaan mereka, mereka punya rasionalitas dan logika mereka sendiri dan itu untuk diri mereka sendiri. Dalam novel ini, “dunia kappa” hanya menjadi wadahnya. Peristiwa dan buah pikir yang terjadi di dalam wadah tersebutlah yang menarik. Seperti pikiran si no. 23 berikut ini:

Perlahan-lahan aku mulai bisa mengikuti perilaku sehari-hari kappa. Artinya aku bisa memahami adat dan kebiasaan mereka. Yang paling membingungkan adalah cara kappa menganggap segalanya berlawanan. Ketika manusia menganggap sesuatu sebagai hal serius, kappa justru menganggapnya sebagai hal yang lucu; apa yang kita anggap lucu akan dianggap sangat serius oleh kappa.

… Umpamanya tentang keadilan dan kemanusiaan. Kedua istilah ini akan menjadi hal yang sangat serius bagi kita manusia; namun ketika kappa mendengar kata-kata tersebut, ia akan tertawa terbahak-bahak. Tampak bahwa seolah-olah selera humor mereka berdasarkan pada norma yang sungguh berbeda dengan kita. (h. 29-30)

Bisa membuat novel seperti ini, yang paling membuat ingin tahu adalah siapakah penulisnya. Dia adalah Ryunosuke Akutagawa. Beruntung ada biografinya yang panjang di akhir buku sehingga dapat direka-reka bagaimana ia bisa membuat novel psikologis skizofrenik. Mengejutkan, Ryunosuke Akutagawa meninggal karena bunuh diri. Sebelumnya, bertahun-tahun ia mengalami penurunan kondisi mental dan selama tahun terakhir dalam hidupnya, ia menunjukkan banyak gejala skizofrenia. “Kappa” ditulis dalam keadaan dirinya yang seperti itu.

Ryunosuke mengatakan bahwa “Kappa lahir dari kemuakan saya dengan banyak hal-khususnya dengan diri saya sendiri.” Isi novel ini adalah refleksi dunia psikologi penulisnya, perasaan dan pikiran pribadinya terhadap beberapa hal. “…Ryunosuke merupakan salah satu dari penderita skizofrenia muda yang cerdas yang memiliki kesadaran perubahan dari dalam dirinya akan rasa sakit yang sedang terjadi dan mungkin berhak untuk merasa takut bahwa mereka akan menjadi gila, dan berusaha untuk bunuh diri.” (h. 170)

Jadi, semacam itulah menariknya novel-novel psikologis. Memberi makna, sekaligus pelajaran. Besok baca apa lagi ya?

8 thoughts on “Novel-novel Psikologis

  1. It’s good there is an Indonesian version for this already, I guess. Japanese literature are different—the psychological conflicts are way more intense than, say, their western counterparts.

    I have no idea about this Indonesian translation, but for all I know, most of the English versions are quite good in the sense that not many nuances are ‘lost in translation’. ‘The Key’ (Junichiro Tanizaki) sure is unique in its own way. Among my favorites are ‘The Buddha Tree’ (Fumio Niwa) and ‘Fires on the Plain’ (Shohei Ooka). And surely, the tetralogy ‘The Sea of Fertility’ (Yukio Mishima)—the first two in the series are masterpieces, I think. Happy reading.

    PS: Having done some checking around the blog, I have the impression that somehow you want some English comments sometimes.🙂

    • Thank you for reading my blog post🙂

      It’s very good to read such a good comment🙂 Japanese novel is my favorite, even though I do not know what is popular right now. I have read four books of Eiji Yoshikawa and wrote some reviews in this blog too. He is my favorite author. Some of his books are translated to bahasa Indonesia. His “Shin Suikoden” is already in book store, also “Heike Monogatari” and “Taiko”. Hope you know and have read them too!

  2. Keliatannya menarik…aku lagi tertarik dengan hal yang berbau psikologi buat memperluas pengetahuan jdi pengen baca novel ttg itu… Kappa kayanya bagus tapi susah dicari ya ? Ada novel tema psikologi yang lain gak? Yg kira2 kamu tau…dan gampang dicari…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s