Penyakit HATI dan Penyakit MASYARAKAT

Original post: http://aftina.blogspot.com/2009/03/penyakit-hati-dan-penyakit-masyarakat.html

Sabtu, 28 Maret 2009

Rabu, 25 Maret 2009
Mushola Baitul Muthmainah, Fak. Psikologi
“Penyakit Hati dan Penyakit Masyarakat”
Uztadz Muchlis Fauzi, S. HI

Sakit adalah rasa tidak nyaman di tubuh. Rasa tidak nyaman ini cukup untuk membuat kita pergi mencari dokter, tetapi bandingkan dengan jika yang sakit adalah hati / batin kita. Adakah simtom yang kasat mata kecuali perilaku kita yang membuat orang lain tidak nyaman? Kerugian yang kita dapatkan ada dua, pada diri sendiri juga pada orang lain.

Sebab penyakit hati adalah penyakit hati, yaitu kebiasaan buruk yang mendatangkan keburukan. Quran menyebutkan beberapa kebiasaan yang perlu kita waspadai dalam hidup. Penyakit-penyakit itu di antaranya syirik, sombong, iri dengki, marah, malas, prasangka, berkeluh kesah, suka berdebat, dan ghibah (gosip).
Syirik dikatakan sebagai “modal”bagi seseorang untuk tidak punya manajemen kematian. Syirik atau mempersekutukan Allah ditandai dengan perilaku percaya pada ramalan, pergi ke dukun atau melakukan praktik perdukunan, dan meyakini ada tuhan lain selain Allah. Perlu diwaspadai, dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah.

Sombong ditandai dengan perilaku meremehkan atau merendahkan orang lain. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalau kita merendahkan orang lain, bisa jadi orang yang kita rendahkan lebih daripada diri kita. Dalam Quran 17: 83, “Dan apabila Kami Berikan kesenangan pada manusia, niscaya berpalinglah dia,dan membelakang dengan sikap yang sombong…”

Iri dengki dikemukakan dalam Quran 4: 32, “Dan janganlah kamu iri hari terhadap apa yang Dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain…). Karena setiap orang punya usahanya sendiri-sendiri dan mendapatkan bagiannya dari usahanya itu.

Marah sering dianggap sebagai biasa-biasa saja dalam hidup ini, tetapi ingat, suka marah membuat kita susah masuk surga. Marah perlu dikendalikan dan dicegah sebelum menjadi bagian dari diri kita. Ketika kita marah, cegahlah dia dengan berwudhu. Api akan padam karena air.

Malas adalah musuh bagi semangat, dan dimiliki oleh semua orang. Ada banyak potensi dalam diri kita yang tenggelam karena kita malas mengaktualisasikan diri. Quran 9: 38 mengatakan, “… kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti kehidupan akhirat?…” Siapa yang malas, ia akan ditinggalkan oleh orang lain yang bersemangat.

Prasangka adalah perbuatan yang harus kita jauhi. Quran 49: 12 menyebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…”. Perilaku kita adalah produk dari kognisi dan afeksi kita. Jika kita sudah berpikiran buruk, maka perilaku kita akan cenderung mengikuti pikiran buruk itu.

Berkeluh kesah disebutkan dalam Quran 70: 19, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” Keluh adalah ungkapan yang keluar karena perasaan susah. Keluhan merupakan cermin ketidaksabaran dan ketidakikhlasan kita akan sesuatu.

Suka berdebat ada dalam Quran 18: 54, “… Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” Berdebat dilakukan dengan saling adu argumentasi. Berdebat buruk dilakukan jika hasilnya adalah pertengkaran dan kebenaran yang dihasilkan darinya tidak diikuti.

Ghibah atau gosip diungkapkan dalam Quran 49: 12, ”… dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?” Orang yang suka menggosip akan bangkrut di akhirat nanti karena dosa orang yang digosipkan akan menjadi milik si penggosip. Membicarakan kejelekan orang lain, sekalipun itu benar sebaiknya tidak dilakukan.

Masalah-masalah yang ada di masyarakat berakar dari penyakit hati yang dimiliki individu-individu di dalamnya. Sebagai contoh kekerasan dalam rumah tangga, kenakalan remaja, kriminalitas, bunuh diri, narkoba, pornografi, HIV/AIDS, serta gangguan jiwa dapat berasal dari hati yang tidak tenang karena penyakit-penyakit hati tersebut.
Islam mengajarkan kita untuk selalu kembali kepada Allah, baik di kala senang maupun sedih. Ketika kita bersedih, Allah Memerintahkan kita untuk sabar dan shalat, juga berdoa. Ketika kita bahagia, Allah Memerintahkan kita untuk bersyukur dan tetap ingat bahwa kebahagiaan kita berasal dari Allah.

Demikianlah kesempurnaan Islam dalam memahami manusia. Ketika kita mengetahui kebenaran, mari kita aplikasikan dengan mendakwahkannya kepada orang lain sebagai wujud kepedulian kita pada sesama, untuk saling membantu dalam kehidupan dunia dan untuk akhirat kelak. Mari kita dakwahkan kebaikan ini dengan perilaku kita sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

(Kajian Psikologi Islami dari Kelompok Studi Pengembangan Psikologi Islami)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s