Perginya Kader Kami

*Benar-benar tulisan yang berbusa-busa… Aku menulisnya sambil emosi, setelah menyaksikan satu hal yang kusebut sebagai ketidakadilan senior terhadap kader organisasinya. Sepanjang perjalanan pulang dari kampus, aku hanya memikirkan hal tersebut dan malamnya atau entah esoknya, lahirlah tulisan panjang ini. Waktu itu, semangat juga untuk menjadikannya sebuah cerpen…

Original post: http://aftina.blogspot.com/2008/12/perginya-kader-kami_13.html

Minggu, 14 Desember 2008

Apa artinya seorang kader, yaitu orang yang diharapkan kelak akan menjaga kelangsungan hidup sebuah organisasi? Apa makna diri seorang kader, bagi orang yang mengharapkan? Bukankah kita berharap ia eksis, baik ketika dibutuhkan ataupun tidak. Ia ada karena ia mencintai keberadaannya bersama kita. Itulah kader harapan. Namun, apa makna keberadaannya? Jangan mengelak. Kita bahkan sering tidak mempedulikan dan seolah lupa kalau ia ada dan juga memiliki harapan terhadap kita.

Kategorisasi Sosial dan Prasangka

Ketika bertemu seseorang, kita tak akan pernah lepas dari menilai orang itu. Ini adalah hukum alam. Ketika kita ”menggodok” seorang kader dengan tugas-tugas, kita tidak akan pernah tidak menilai kinerjanya. Sayang sekali, kebanyakan dari para pengkader hanya melihat dari sisi kinerja untuk menentukan apakah seorang kader layak diharapkan atau tidak. Kita mulai memposisi-posisikan mereka dalam suatu struktur organisasi khayalan; si A akan di sini dan si B akan di situ, dan sebagainya. Kita meyakini dalam hati si A akan terus bertahan karena kaderisasi kita. Namun, ketika kita memiliki perasaan bahwa si B ”kurang” berguna, mungkin yang muncul dalam hati adalah perasaan meremehkan, ”Kalau dia, tidak di sini pun tidak mengapa. Masih ada yang lain.”

Ketika kita sudah menilai dan meyakini penilaian kita, tak lama lagi kita akan mulai mengelompokkan kader-kader, kader yang diharapkan (kelompokku) dan kader yang tidak diharapkan (bukan kelompokku). Inilah yang dinamakan kategorisasi sosial, yang sering menjadi kesalahan utama kita dalam hubungan kita dengan manusia.

Ketika kategorisasi ini merebak, hubungan antarindividu tidak akan harmonis. Kategorisasi ini bermain di ranah pikiran kita dan tidak salah jika akhirnya ia akan mempengaruhi sebagian besar perasaan dan perilaku kita sebagai pengkader. Kategorisasi ini dapat muncul dari evaluasi kita terhadap individu, terutama ketika, mungkin secara tidak sadar, kita menekankan adanya kesamaan. Kesamaan itu dapat berupa kesamaan fisik (berjilbab atau tidak, berjilbab besar atau tidak, penampilannya lumayan seperti kita atau tidak dan sebagainya), kesamaan budaya (yang satu ini riskan sekali menimbulkan konflik, apakah ia orang yang keras, atau mudah diatur, dia agak kasar, dia pendiam, tempat asal kami sama, dan sebagainya), kesamaan pandangan, pemahaman dan ideologi.

Perbedaan adalah suatu kepastian, seperti dalam firman Allah SWT:

”Hai, manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal-mengenal…” dalam QS Al Hujurat: 13.

Perbedaan budaya setiap individu akan memunculkan perbedaan perilaku yang seharusnya dapat diterima sebagai suatu kekayaan. Sayang, bagi sebagian orang dari kita, perbedaan ini sulit diterima karena mungkin menyangkut kepentingan tertentu. Padahal, ketika Islam telah di-Ridhai Allah SWT sebagai agama dan ditetapkan pula bahwa setiap muslim adalah bersaudara, setiap perbedaan seharusnya melebur dalam satu substansi bahwa kita semua adalah hamba Allah yang hidup untuk menyembah kepada-Nya. Kita bergerak bersama-sama di jalan Allah.

Namun, banyak dari kita yang masih tidak dapat menerima perilaku yang kurang mengenakkan dari seorang kader karena kita tidak berusaha memahami bagaimana budaya yang membentuknya demikian. Mungkin dalam suatu kasus, kita tak dapat menerima perilaku kader yang keras, sok tahu, atau terlalu percaya diri dan berani, yang membuat kita tidak suka padanya. Perasaan tidak suka itu menumbuhkan streotipe pada diri kader. Padahal, yang mungkin penting adalah bagaimana kita pengkader membimbingnya agar dapat beradaptasi dengan budaya mayoritas tanpa membuat dirinya benar-benar kehilangan identitas, bukannya semakin mempermasalahkan masalah remeh soal ketidaknyamanan perilaku sehingga kita melupakan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam tubuh organisasi.

Kebencian menuju Ketidakadilan

Pikiran negatif, seperti yang dikelaskan di atas, akan mempermudah kita berprasangka pada diri kader. Allah SWT memperingatkan kita dalam QS Al Hujurat: 12.

”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangkan itu adalah dosa…”

Prasangka adalah persepsi negatif pada orang lain dan prasangka dapat menimbulkan sikap negatif pada orang itu sebagai wujud ketiadaan toleransi. Allah SWT kembali memperingatkan kita dalam QS Al Maidah: 8.

”… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…”

Adil tidak hanya berarti kuantitas yang diberikan sama, tetapi juga kualitas. Ketika dua orang sama-sama salah, jangan sampai pada orang yang kita sukai kita memarahinya ”baik-baik”, tetapi pada orang yang kita tidak suka, kita marah sesuka kita lantaran kebencian kita padanya. Niat ”ucapan tegas” kita bukan lagi untuk mengingatkan dan meluruskan dia, tetapi mungkin untuk membuatnya benar-benar jatuh, malu, meminta maaf, dan tahu diri.

Ketika kita marah, setanlah yang menguasai pikiran, hati, dan perilaku kita. Ketika kemarahan kita difasilitasi pula dengan kedudukan kita sebagai senior, sebagai orang yang ”berhak menasihati”, sebagai orang yang ”dihormati” dalam organisasi, semakin mungkin ucapan yang keluar semakin pedas dan menyakitkan. Ketika kita menganggap diri benar dan kita marah, kebenaran tidak akan digubris. Ketika marah, kepentingan berada jauh di depan masalah itu sendiri. Ketika kita marah, bahkan firman Allah dan hadist-hadist nabi yang selama ini kita pelajari seolah belum pernah diketahui. Marah benar-benar menutup mata hati.

Kader Juga Manusia: Punya Hati dan Harapan

Kader adalah anugrah bagi sebuah organisasi, terutama organisasi yang bergerak demi dakwah di jalan-Nya. Tanpa kader, dakwah akan mati; tetapi dakwah tak akan mati karena para penerus perjuangan akan selalu ada, berapapun banyaknya. Masalah besar yang dihadapi seluruh organisasi dakwah adalah jika ia kehabisan kader. Mungkin bukan habis dalam arti jumlah atau kuantitas (setiap lowongan dalam struktur syukur masih dapat terisi) walaupun mungkin ada pula yang memang miskin kader, tetapi habis dalam kualitas. Satu istilah yang akrab di telinga para pengkader tentunya: Seleksi Alam.

Dakwah memang berat, hanya segelintir orang yang bersedia dengan kesabaran dan keikhlasan berkecimpung di dalamnya. Jumlah kita sedikit, tetapi malaikat-malaikat Allah SWT akan selalu mengiringi perjuangan orang-orang yang beriman.

Seberapa banyak dari para pengkader yang sadar bahwa kader dakwah adalah manusia pilihan yang diseleksi oleh Allah? Allah-lah yang berhak menyeleksi dan memberi petunjuk pada kawan-kawan baru harapan kita, para kader, yang awalnya datang kepada kita dengan berbagai motivasi yang mungkin kata ”dakwah” tidak pernah ada di kamus hidup mereka. Mereka mungkin datang dengan motivasi ingin mendapatkan pengalaman organisasi, mendapat teman baru, mengembangkan potensi diri dalam berkreasi, bergabung karena ajakan teman, ingin belajar lebih banyak tentang Islam dan sebagainya. Mereka punya harapan, dan pengkader juga punya harapan. Kita sama-sama manusia. Jangan sangka hanya kita yang kecewa pada mereka ketika harapan kita tidak tercapai. Mereka juga punya rasa kecewa pada kita ketika harapan mereka tidak tercapai. Jangan sangka hanya kita yang merasa kader mulai menjauh. Mereka juga punya mata, telinga dan hati untuk merasa bahwa ada sebagian dari kita yang memandang mereka sebelah mata, kehangatan yang tidak sama pada setiap kader, kedekatan yang tidak sama, pemberian kesempatan terlibat yang tidak sama. Itu cukup menjatuhkan harga diri dan kepercayaan diri kader untuk tetap bertahan dalam organisasi.

Apakah mereka akan berteriak menyuarakan frustasi mereka? Kebanyakan tidak. Mungkin mereka akan menangis diam-diam atau kemudian mereka akan mundur teratur tidak mengaktifkan diri lagi dan di masa selanjutnya mereka bilang, ”Aku pergi.” Mereka mungkin belum merasakan indah dan beratnya dakwah yang sebenarnya, mereka sudah merasakan beratnya untuk ada bersama dengan kita.

Ketika kader kita pergi karena begitu banyak sebab, mungkin saat itulah kita menyadari bahwa jumlah pejuang dakwah kita begitu sedikit. Satu per satu terseleksi karena berbagai sebab. Mahasuci Allah yang Maha Membolak-balikkan Hati.

Ketika kader kita pergi, mungkinkah kita cenderung memaklumi, ”Oh, dia memang tidak ingin fokus di sini.” Ketika kita membentuk lagi kepengurusan, mungkin ada yang bilang, ”Si A tidak mau ikut lagi.” Lalu kita hanya bilang, ”Dakwah memang tidak bisa dipaksakan, menjalankannya juga tidak bisa dipaksakan.”

Ketika kader kita pergi, mungkinkah kita menganggap mereka pergi lebih karena alasan situasional? Pernahkah kita memikirkan bahwa alasan mereka pergi adalah kita? Kita takut mengakui bahwa kita berbuat salah pada orang ”di bawah kita”. Seberapa banyak permintaan maaf kita kepada mereka? Apakah hanya di Hari Idul Fitri? Di akhir kepengurusan? Ketika kader kita pergi… Jangan sampai ada cerita pendek yang berjudul ”Perginya Kader Kami” kelak. (6-12-08/16:55).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s