Pernikahan

Menulis kembali tulisan ini membuatku bertanya-tanya, bagaimana dulu nilai mata kuliah Psikologi Keluarga-ku bisa dapat C, ya? Akhirnya aku mengulang kembali mata kuliah tersebut. Tidak bisa mengatakan itu nasib buruk sekarang. Aku merasa istimewa bisa dua kali masuk dalam kelas tersebut, membuatku senang menulis tentang keluarga dan anak-anak.

Original post: http://aftina.blogspot.com/2009/06/pernikahan.html

Kamis, 04 Juni 2009
Hal pertama yang saya pelajari dalam kuliah psikologi keluarga adalah dalam menikah, pikirkanlah nasib orang banyak. Satu kalimat yang saya catat waktu itu adalah, ”Pernikahan bagaikan kertas-kertas yang direkatkan”. Pernikahan itu lebih dari dua kertas, kertas istri dan kertas suami, tetapi lebih dari dua orang itu. Ada orang-orang lain yang melekatkan diri kepada kehidupan pasangan yang menikah. Ada anak, mertua, kakek, nenek, semuanya yang kemudian saya katakan sebagai keluarga besar umat manusia.

Semua orang setuju, penikahan adalah sebuah kontrak. Sama halnya seperti pacaran, ketika seseorang berkata, ”I love you” kepada kekasihnya. Mereka sudah membuat satu kontrak. Tetapi, mengapa pernikahan dikatakan sebagai kontrak yang suci? Apa yang membuat berbeda?

Jawaban yang saya dapatkan membuat hati luar biasa sedih mengingat kenyataan hari ini bahwa sebagian orang di dunia sudah menganggap pernikahan bukan apa-apa lagi. Kalau begini kenyataannya, seratus tahun ke depan saya membayangkan dunia yang miskin kemanusiaan.

Berbagai riset membuktikan bahwa pernikahan semakin tidak memberikan kepuasan hidup, pada orang-orang tertentu. Sayangnya, orang-orang tertentu menjadi mayoritas di seluruh dunia. Setiap hari siapa yang tidak dengar artis ini bercerai atau kawin lagi? Siapa yang tidak dengar bahwa kekerasan dalam rumah tangga terjadi di mana-mana? Siapa yang tidak dengar suami menyakiti istri, ibu menyakiti anak dan anak menyakiti kedua orangtuanya? Siapa yang tidak dengar masalah keuangan begitu mendominasi percekcokan dalam keluarga? Siapa yang tidak dengar semakin banyak pasangan yang melakukan kohabitasi? Pemuda bangga ketika ia memiliki kekasih, tetapi ia tidak menginginkan pernikahan.

Ketika kemudian terjadi kehamilan di luar pernikahan dan dilakukan aborsi, sungguh mengerikan ketika saya mengingat ayat Al Quran yang demikian, walaupun mungkin tidak sama konteksnya, tetapi mereka sama dalam hal tidak diinginkannya.  “… apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah ia dibunuh…” (QS At Takwir 81 ayat 8 dan 9)

Atau mungkin ketika anak itu dipertahankan, apa jadinya ia hidup di dunia menanggung beban sebagai anak berorangtua tak lengkap dan tak bahagia?  Siapa yang bertanggung jawab?  Apa pentingnya kita tahu bahwa keluarga adalah awal dari segala sesuatu dalam hidup kita? Kita tidak akan mendapatkan makna berkeluarga jika kita tidak menyadari bahwa kita sebagai individu memiliki ikatan sosial yang kuat bahwa diri kita memiliki tanggung jawab sebagai penentu gerak zaman dan masa depannya. Perkawinan hanyalah perjanjian yang tercatat dalam surat nikah dan dapat dilihat dari cincin di jari manis kita, tetapi hak dan tanggung jawab yang timbul dari perjanjian itulah yang penting bagi kesejahteraan umat manusia. Apakah kita masih berpikir pernikahan adalah janji suci tanpa memahai maknanya yang sebenarnya?

Inilah yang kemudian membedakan antara menikah dan pacaran, antara menikah ”klasik” dengan pernikahan ”modern”: kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai istri, suami, ibu dan ayah.

Konsep mengenai pembaruan pernikahan mencuat di abad ini. Pertanyaannya adalah, perlu pembaruan seperti apakah pernikahan yang telah dilakukan dari zaman ke zaman? Pernikahan ”klasik” sebagai perjanjian eksklusif dua orang pria dan wanita untuk hidup bersama semakin diragukan dan dianggap sebagai sumber ketidakpuasan hidup. Kemudian muncul solusi-solusi pernikahan masa depan, terutama di dunia barat, seperti open marriage, temporary marriage, trial marriage, homosexsual marriage dan cohabitation. Pernikahan-pernikahan tersebut sangat tidak sesuai dengan apa yang Islam ajarkan.
Apakah kita akan terjebak dalam pencarian kepuasan hidup yang semu dengan mengubah hukum yang ditetapkan Tuhan tentang pernikahan, bahwa:  Dia-lah yang Menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka, setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhan-nya seraya berkata, ”Sesungguhnya jika Engkau Memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS Al A’raf 7 ayat 189).

Menikah adalah mengenai bersyukur bahwa kita diberikan jodoh yang baik, keturunan yang baik, penghidupan yang baik dengan kelancaran rezeki dari Allah. Ketika kepuasan pernikahan tidak didapatkan, siapa yang salah kecuali kita manusia yang bermain tidak sesuai dengan aturan hak dan kewajiban kita sebagai manusia?

Kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya yang membimbing langkah kita dalam menjalani pernikahan. Permasalahan dan percekcokan pasti terjadi, tetapiketika itu terjadi, bukankah kita akan mengingat Allah dan berusaha untuk memperbaiki hubungan lagi dengan itikad yang baik?

Itulah mengapa perceraian dihalalkan, tetapi menjadi hal yang paling dibenci Tuhan. Perceraian adalah solusi terakhir percekcokan dalam keluarga dan sebagai solusi terakhir, Tuhan ingin kita berusaha mendamaikan kedua pasangan yang bercekcok dengan usaha apapun sampai pada titik dimana rujuk tidak mungkin lagi. Tuhan ingin kita dan setiap pasangan di dunia untuk kembali menata hati ketika berseteru, kembali mengingat bahwa hidup kita bagaikan kertas-kertas yang saling menempel. Ketika satu lembar kertas meminta diri untuk lepas, tidak ada yang terjadi kecuali kertas yang lain ikut koyak. Kembali mengingat bahwa hidup tidak untuk kebahagiaan prbadi, tetapi juga kebahagiaan orang lain dan kebahagiaan orang lain di masa-masa sesudah kita. Akankah kita menghancurkan ikatan suci ini karena keegoisan kita?

Ketika kepuasan belum didapatkan, lihat kembali ke dalam diri. Mungkin diri inilah yang salah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s