Quantum Learning

Apr 12, ’12 9:10 PM

Wiiii… lama banget nggak nulis soal buku. Jelas, artinya tidak ada buku yang aku baca beberapa bulan terakhir. Di saat-saat galau seperti ini, bingung antara fokus skripsi atau sempatkan waktu untuk membaca, hitung-hitung refreshing. Namanya juga galau… mau refreshing saja pakai ada rasa bersalahnya.

Benar, sudah lama tidak baca buku, tapi ada satu buku yang ingin kuceritakan di sini. Judulnya “Quantum Learning” karya Bobby Deporter dan Mike Hernacki. Ini buku yang sudah lama sekali. Buku serius pertama yang aku baca. Kelas 4 atau 5 SD. Buku psikologi pertama yang aku baca. Waktu itu aku belum tahu psikologi itu apa.

Hari ini aku menyengajakan diri mencari lagi buku ini. Ada yang mau aku “tanyakan” dan ini menyangkut skripsiku. Kok aku nggak bisa buat dinamika psikologis ya? Lho, salah. Itu pertanyaan pada diri sendiri. Permasalahan sebenarnya adalah aku ingin mengecek (kembali) cara otakku bekerja menurut buku itu dan rasanya ini akan menjadi jawaban.

Aku merasa membuat dinamika psikologis itu susah sekali. Ini seperti membangun sebuah rumah. Aku sudah tahu bahan-bahannya dan gambaran bentuk rumahnya, tapi aku tidak bisa mewujudkan itu dalam kenyataan dan menjelaskannya dalam kata-kata. Aku bingung harus mulai dari mana. Informasi berseliweran, seperti benang-benang yang kusut. Aku berusaha menelusurinya secara urut dari yang muncul pertama kali sebagai sebab pertama dan mencari informasi selanjutnya sebagai akibat, katakanlah begitu.

Masalahnya adalah perjalanannya tidak selinear itu. Dinamika itu melibatkan banyak hal… aku bingung… semua “melompat-lompat”, muncul di sini berakhir di sana-sana. Kalau tidak berdasarkan urutan tertentu, aku tidak bisa.

Begitulah…

***
Aku tidak tahu seberapa besar pengaruh buku ini pada diriku. Apa yang kubaca pada usia 8 tahun ini jelas sudah banyak yang aku lupakan. Yang paling kuingat adalah tentang tipe belajar, tipe mengolah informasi, cara membaca cepat, cara membuat catatan, cara mengingat (sekarang aku tahu itu namanya metode jembatan keledai), dan AMBak (Apa Manfaat Bagiku?).

Ada banyak hal yang bisa dibahas tentang buku ini, tapi mungkin salah satu yang menarik adalah tentang belajar tentang belajar. Sekarang, dihubungkan dengan skripsiku yang tentang regulasi diri itu, aku memandang buku ini dengan cara yang berbeda, dengan wawasan yang lebih baik. Ya, bagiku buku ini tentang orang-orang yang meregulasi dirinya dan apa strategi yang mereka lancarkan untuk mencapai tujuan belajar.

Menyenangkan.

1. Kenali dirimu, apa yang menjadi kekuatanmu dalam hal belajar? Apa cara paling efektif bagimu untuk belajar? Apa gaya belajarmu?
2. Bangkitkan minat. Dan… minat banyak muncul jika kau bisa menemukan manfaat atau keuntungan dari apa yang kau (akan) lakukan.
3. Tata lingkungan belajarmu, tidak hanya tempat dalam arti fisik, tetapi juga suasananya. Apakah nyaman dengan musik? Apakah beberapa “tempelan” slogan, kata mutiara, dan sebagainya menyemangatimu?
4. Bersikap positif, berpikir positif.
5. Miliki pengetahuan dan kuasai keterampilan teknis (membuat catatan, menulis, membaca, mengingat, berpikir kreatif, dan sebagainya)

Itu saja, pada intinya. Semoga ada waktu aku bisa menyampaikannya secara lebih jelas.šŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s