Religiusitas Muslim Abad 21

Lagi-lagi tulisan lama. Jadi bernostalgia… Ini termasuk tulisan pertamaku tentang psikologi dan Islam. Benar-benar masih dan selalu perlu banyak belajar, mengingat menulis seperti ini adalah besar konsekuensinya, terutama bagi diri penulis. Tulisan ini dibuat pada masa asyik belajar psikologi agama. Teori tentang religiusitas memang sangat menarik dan langsung kupakai untuk memahami fenomena. Psikologi Agama benar-benar mata kuliah favoritku.

Original post: http://aftina.blogspot.com/2010/05/religiusitas-muslim-abad-21.html

Rabu, 05 Mei 2010

Implikasi dari keyakinan atas Tuhan adalah diyakininya pula agama. Keyakinan akan adanya Tuhan serta dianutnya agama tidak dapat disangkal sangat mempengaruhi perilaku manusia dari masa ke masa. Beribu-ribu tahun manusia menganut agama, mulai dari agama yang primitif dan dibuat-buat manusia sampai yang berdasarkan pada wahyu. Agama yang menjadi pedoman hidup manusia melahirkan perilaku-perilaku yang menuntun terciptanya peradaban-peradaban di dunia. Salah satunya adalah peradaban besar Islam sejak abad ke-7 yang muncul dari masyarakat yang ber-Islam. Masa kejayaan peradaban Islam berlangsung 700 tahun lamanya dan setelah itu mengalami kemunduran yang sayangnya masih kita rasakan sampai saat ini. Selain faktor eksternal yang mempengaruhi, sebagian orang berkeyakinan kelemahan internal umat Islamlah yang menyebabkan kemunduran tersebut.

Semakin jauh dari masa Nabi Muhammad, keimanan dan ketakwaan umat tampak semakin lemah. Hal tersebut termanifestasikan dari munculnya perilaku-perilaku yang semakin tidak sesuai dengan apa Islam pedomankan. Telah jelas kebenaran Islam dalam membentuk suatu masyarakat yang madani, tetapi yang terjadi saat ini adalah besarnya jumlah penganut Islam tidak berbanding lurus dengan kehidupan madani yang menjadi tujuan. Maka, apa yang terjadi dengan penghayatan (religiusitas) umat Islam terhadap agamanya di abad ini?

Glock dan Stark (dalam Paloutzian, 1996) mengemukakan lima dimensi yang menjelaskan religiusitas seseorang. Kelima dimensi tersebut adalah dimensi ideologis, intelektual, ritualistik, ekperiensial, dan konsekuensial. Dimensi ideologis meliputi keimanan yang diharapkan dimiliki oleh penganut agama. Dimensi intelektual meliputi pengetahuan dan informasi dasar tentang ajaran-ajaran agama dan ayat-ayat suci yang diharapkan diketahui oleh penganut agama. Dimensi ritualistik meliputi praktik-praktik peribadahan yang diharapkan dilakukan oleh penganut agama. Dimensi eksperiensial mengacu pada perasaan, persepsi dan sensasi dari berkomunikasi dengan Tuhan. Dimensi konsekuensial meliputi pengaruh dari keyakinan pada agama, ibadah, pengetahuan, dan pengalaman pada kehidupan sehari-hari penganut agama. Pertanyaan yang kemudian diajukan adalah apa indikator rendah atau tingginya religiusitas seseorang.

Pernah seorang gadis muslim ditanya mengapa pada usianya yang sudah dewasa ia belum mengenakan jilbab padahal ia tahu anjuran berjilbab dalam Islam. Jawaban yang dikemukakannya adalah bahwa ia belum siap berjilbab. Pada kasus lainnya, banyak orang yang shalat dan berpuasa, tetapi masih berperilaku buruk di tempat kerja atau dalam keluarganya. Banyak orang yang membaca Al Quran, tetapi tidak mengamalkan perintah dan menjauhi larangan di dalamnya. Banyak orang memiliki pengetahuan agama yang luas, menjalankan ibadah yang diperintahkan dengan begitu rajinnya, dan meyakini kebenaran ajaran agamanya, tetapi perilaku kesehariannya tidak sesuai dengan tingginya dimensi intelektual, ritualistik, atau ideologis yang dimiliki.

Kita simpulkan bahwa dimensi konsekuensial seseorang sebagai hasil pengaruh keempat dimensi lainnya memiliki posisi yang sangat istimewa dalam menentukan religiusitas seseorang. Tidak semua orang mampu konsisten dengan ajaran agama sesuai dengan pengetahuan, ritual yang dijalankan, pengalaman, dan keyakinan yang dianutnya, bukan? Konsistensi inilah yang menjadi indikator religiusitas seseorang. Maka, tinggi rendahnya religiusitas muslim dipengaruhi konsistensi pengamalan sesuai apa yang diketahui, dipahami, dan diyakini tentang Islam yang dianutnya.

Mengapa seseorang tidak mampu konsisten? Hal tersebut mungkin saja disebabkan oleh tarik-menarik antara hitam dan putih dalam kehidupan yang penuh ujian dan cobaan ini. Lagi-lagi, semuanya kembali pada pilihan masing-masing individu. Allah Swt telah menunjukkan kepada kita semua dua Jalan, yaitu jalan kebaikan dan jalan kejahatan (QS Al Balad 90: 10). Manakah yang kita pilih jika kita ingin menjadi muslim yang konsisten (memiliki religiusitas yang tinggi)? Kunci perbaikan hidup ada pada pilihan kita sendiri, bukan?

Allah Swt berfirman, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat…” (QS Al Baqarah: 256).

Referensi:

Al Quran dan terjemahannya.
Paloutzian, R.F. (1996). Invitation to the psychology of religion. Boston: Allyn and Bacon.

2 thoughts on “Religiusitas Muslim Abad 21

    • Iya, benar, saya salah tulis kata tersebut. Terima kasih, Pak😀
      Memang benar, banjir posting binggu ini; dalam rangka menyelamatkan konten blog lama saya. Tidak edit tanggal memang saya sengaja. Untuk kenang-kenangan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s